Khazanah
Beranda » Berita » Siwak dan Martabat Umat

Siwak dan Martabat Umat

Siwak dan Martabat Umat
Siwak dan Martabat Umat

 

SURAU.CO – Bau mulut sering dianggap perkara remeh. Ia jarang dibicarakan, nyaris tak dianggap sebagai masalah publik. Padahal dari mulut yang tak terjaga, kekhusyukan ibadah dan kenyamanan sosial bisa runtuh diam-diam.

Islam, agama yang memuliakan adab, tidak pernah memandang sepele urusan ini. Bahkan Rasulullah ﷺ memberi perhatian serius pada kebersihan mulut melalui satu sunnah sederhana bernama siwak.

Bau Mulut Bukan Sekadar Soal Pribadi

Dalam kehidupan sosial, bau mulut adalah gangguan senyap. Ia tidak terlihat, tetapi terasa. Ia tidak menimbulkan luka fisik, namun menciptakan jarak emosional. Dalam konteks ibadah berjamaah shalat, majelis ilmu, pengajian bau mulut dapat merusak kekhusyukan kolektif.

Karena itu, Islam tidak memosisikan bau mulut sebagai urusan privat semata. Rasulullah ﷺ bersabda:

Bunga Pukul Empat, Kembang Indah yang Kaya Manfaat

“Barang siapa memakan bawang putih atau bawang merah, hendaklah ia menjauhi masjid kami, karena malaikat terganggu oleh apa yang mengganggu anak Adam.”¹

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadis ini bukan soal halal–haram makanan, melainkan larangan mengganggu jamaah dan malaikat dengan bau yang tidak sedap². Kaidahnya jelas: segala sesuatu yang mengganggu orang lain dalam ibadah adalah tercela.

Jika bau dari makanan saja mendapat perhatian syariat, maka bau mulut akibat kelalaian menjaga kebersihan tentu lebih pantas dicegah.

Siwak: Sunnah yang Hampir Wajib

Di sinilah siwak menemukan relevansinya. Rasulullah ﷺ menempatkan siwak pada posisi yang sangat tinggi. Dalam hadis sahih disebutkan:

“Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya aku perintahkan mereka bersiwak setiap hendak shalat.”³

Pentingnya Thaharah dalam Islam

Menurut Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam Fath al-Bari, ungkapan ini menunjukkan bahwa siwak memiliki maslahat besar bagi agama dan manusia, hingga hampir diwajibkan⁴. Sunnah yang “nyaris wajib” tentu bukan sunnah biasa.

Lebih jauh, Nabi ﷺ mengaitkan siwak dengan dimensi spiritual:

“Siwak itu membersihkan mulut dan mendatangkan keridaan Allah.”⁵

Membersihkan mulut bukan hanya soal kesehatan, tetapi jalan menuju ridha Ilahi. Inilah integrasi khas Islam: kebersihan lahir bertemu dengan kemuliaan batin.

Antara Sains dan Sunnah

Sains modern mengkonfirmasi ajaran Nabi ﷺ dari 14 abad lalu, menarik. Siwak yang berasal dari pohon Salvadora persica mengandung zat antibakteri alami, fluoride, silika, dan minyak atsiri yang efektif membunuh bakteri penyebab bau mulut.

Tenang: Ukuran Keberhasilan Seorang Imam dalam Shalat

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam Zād al-Ma‘ād telah lebih dahulu menjelaskan manfaat siwak: menguatkan gusi, mengharumkan napas, membersihkan mulut, bahkan memperindah suara saat membaca Al-Qur’an⁶.

Sunnah ini bukan romantisme masa lalu, melainkan praktik hidup yang relevan lintas zaman.

Adab Sosial yang Terlupakan

Sayangnya, orang mereduksi siwak jadi simbol tradisi, bukan nilai. Di tengah budaya instan permen mint, semprotan mulut, solusi kosmetik—umat kerap lupa bahwa Islam mengajarkan disiplin kebersihan sebagai adab sosial.

Aisyah رضي الله عنها meriwayatkan:

“Hal pertama yang dilakukan Rasulullah ﷺ ketika masuk rumah adalah bersiwak.”⁷

Imam an-Nawawi menafsirkan hadis ini sebagai teladan adab pergaulan: menghadirkan diri di hadapan keluarga dalam kondisi paling bersih dan menyenangkan⁸. Artinya, siwak bukan hanya etika masjid, tetapi juga etika rumah tangga.

Kekhusyukan yang Dijaga dari Hal Kecil

Allah ﷻ berfirman:

“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu mereka yang khusyuk dalam shalatnya.” (QS. al-Mu’minun: 1–2)

Al-Qurthubi menjelaskan bahwa kekhusyukan bukan hanya persoalan hati, tetapi juga kondisi lahiriah yang mendukung ketenangan ibadah⁹. Bau mulut yang menyengat jelas bertentangan dengan tujuan ini.

Siwak, dalam konteks ini, menjadi bagian dari persiapan spiritual. Membersihkan mulut, kita memuliakan lisan untuk zikir, doa, dan tilawah.

Pendidikan Karakter dari Sunnah Kecil

Menghidupkan siwak sejatinya adalah proyek pendidikan akhlak. Ia menanamkan kesadaran bahwa iman tidak berhenti pada wacana besar, tetapi hadir dalam rutinitas kecil yang konsisten.

Di masjid, di sekolah, di pesantren, siwak dapat menjadi simbol pendidikan adab: menjaga kenyamanan bersama, menghormati ruang publik ibadah, dan menyadari bahwa Islam adalah agama yang memuliakan detail.

Peradaban tidak runtuh karena dosa besar semata, tetapi sering kali karena kelalaian terhadap adab-adab kecil.

Penutup: Dari Mulut yang Bersih Lahir Kata yang Berkah

Mulut adalah pintu doa, ilmu, dan dakwah. Dari mulut yang bersih lahir bacaan Al-Qur’an yang menenangkan dan nasihat yang menyentuh.

Siwak mungkin kecil dan sederhana. Islam menunjukkan keagungannya di situ: membangun martabat umat lewat kebiasaan sunyi yang istiqamah.

Menjaga mulut dengan siwak bukan sekadar urusan napas segar. Ia adalah penghormatan terhadap ibadah, penghargaan kepada sesama, dan bukti cinta nyata kepada sunnah Nabi ﷺ.

Catatan Kaki

  1. HR. Muslim, Shahih Muslim, Kitab al-Masajid.
  2. An-Nawawi, Syarh Shahih Muslim.
  3. HR. al-Bukhari no. 887; Muslim no. 252.
  4. Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bari.
  5. HR. Ahmad dan an-Nasa’i; sahih menurut al-Albani.
  6. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Zād al-Ma‘ād.
  7. HR. Muslim no. 253.
  8. An-Nawawi, Syarh Shahih Muslim.
  9. Al-Qurthubi, al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an. (Tengku Isksndar, M. Pd: Duta Literasi Pena Da’i Nusantara Provinsi Sumatera Barat)

Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.