Opinion
Beranda » Berita » Musibah sebagai Teks Sosial: Terlacaknya Pola Lunguistik Pengaburan  Tanggung Jawab

Musibah sebagai Teks Sosial: Terlacaknya Pola Lunguistik Pengaburan  Tanggung Jawab

Musibah sebagai Teks Sosial: Terlacaknya Pola Lunguistik Pengaburan  Tanggung Jawab
Musibah sebagai Teks Sosial: Terlacaknya Pola Lunguistik Pengaburan  Tanggung Jawab

 

SURAU.CO – Musibah sebagai Teks Sosial: Terlacaknya Pola Lunguistik Pengaburan  Tanggung Jawab (Pengantar Diskusi Refleksi Akhir Tahun).

Musibah sebagai Objek Analisis Ilmiah dan Moral

Banjir bandang di Sumatera bukan hanya peristiwa alam, tapi juga konstruksi sosial-semiotik melalui teks, pernyataan, laporan, konferensi pers, berita media, dan narasi kebijakan. Mereka mengkonstruksi musibah ini secara diskursif (Fairclough, 1995; van Dijk, 2008).

Dalam perspektif linguistik forensik dan analisis wacana kritis, penting untuk menelaah:
1. Bagaimana musibah dinamai (naming),
2. Bagaimana sebab dijelaskan atau disamarkan,
3. Juga Bagaimana tanggung jawab dialokasikan atau dihapuskan.

Bahasa, dalam konteks ini, bukan refleksi realitas, tetapi mekanisme pembentukan realitas sosial. Pola Linguistik Pengaburan Tanggung Jawab’ menandai hal itu.  Berbasis data rilis resmi, berita media, dan pernyataan pejabat, hasil analisis  linguistik forensik menunjukkan beberapa pola linguistik yang konsisten:

Bunga Pukul Empat, Kembang Indah yang Kaya Manfaat

a). Kalimat Pasif dan Nominalisasi
Contoh: “Terjadi banjir bandang akibat hujan ekstrem.” “Terjadi alih fungsi lahan di wilayah hulu.”

Struktur ini menghapus pelaku konkret (aktor institusional), dan mengubah tindakan menjadi entitas abstrak (nominalisasi), sehingga tanggung jawab menjadi kabur (Fowler et al., 1979).

b). Eufemisme Struktural
Contoh:  “Alih fungsi lahan” untuk deforestasi masif, “Ekspansi industri” untuk pembukaan tambang atau sawit di kawasan resapan air.

Istilah teknokratis ini menormalkan kerusakan melalui bahasa yang netral secara emosional, padahal dampaknya sangat destruktif.

c). Framing Respons > Framing Sebab
Aparat sering menekankan narasi bantuan dengan pernyataan seperti: “Pemerintah telah menyalurkan bantuan,” “Tim gabungan telah diterjunkan.”

Pentingnya Thaharah dalam Islam

Ini penting, tetapi ketika menutupi diskusi sebab struktural, ia berfungsi sebagai strategi pengalihan wacana (agenda-setting).

Contoh Konkret Kasus Sumatera

Data menunjukkan korelasi kuat antara banjir bandang dan Deforestasi di daerah hulu sungai, Pertambangan terbuka di kawasan resapan, Ekspansi sawit di dataran tinggi, Pelanggaran tata ruang (RTRW).

Dalam banyak pernyataan resmi, mereka mengganti faktor ini dengan: “curah hujan ekstrem,” “anomali iklim,” “fenomena alam.”

Kita mereduksi kausalitas secara ilmiah: sebab struktural jadi sebab alamiah.

Perspektif Syariat: Etika Amanah dan Kerusakan Struktural

Dalam Islam, manusia adalah khalifah fil ardh, penjaga bumi. Kerusakan ekologis adalah bentuk pengkhianatan amanah.
QS Ar-Rum:41 menyatakan hubungan sebab-akibat moral:  “Telah tampak kerusakan di darat dan laut karena perbuatan tangan manusia.”

Tenang: Ukuran Keberhasilan Seorang Imam dalam Shalat

Ini selaras dengan teori ekologi politik modern: krisis lingkungan bukan semata geofisik, tetapi hasil relasi kuasa, ekonomi, dan kebijakan. Dengan demikian, mari kita baca musibah sebagai: Tanda moral (ayat), Gejala struktural, Cermin tata kelola.

Jalan Perubahan: Bahasa sebagai Infrastruktur Etika

Kita memulai perubahan tidak dari teknologi, tetapi dari bahasa yang jujur tentang sebab, aktor, dan dampak.

Bahasa adalah infrastruktur etik.

Perubahan berbasis syariat berarti:
Mengembalikan bahasa pada kebenaran (ṣidq), Menolak eufemisme ketidakadilan,
Mengaitkan kebijakan dengan amanah, bukan hanya efisiensi.

Penutup

Refleksi akhir tahun adalah bentuk ijtihad peradaban. Musibah adalah teks. Bahasa adalah tafsirnya. Jika tafsir kita keliru, maka kebijakan kita pun akan keliru.

Maka tugas kita bukan hanya membangun bendungan, tetapi membangun kejujuran diskursif; bukan hanya memperbaiki infrastruktur, tetapi memperbaiki bahasa yang selama ini menormalkan kerusakan.

Di situlah linguistik forensik, ilmu wacana, dan etika syariat bertemu, sebagai jalan perubahan menuju keadilan ekologis dan peradaban yang amanah.

Referensi singkat konseptual:

Fairclough, N. (1995). Critical Discourse Analysis. van Dijk, T. (2008). Discourse and Power. Fowler et al. (1979). Language and Control. White, R. (2013). Green Criminology. QS Ar-Rum:41; QS Ar-Ra’d:11. Aceng Ruhendi Saifullah: Ahli Linguistik Forensik. (Mi’raj)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.