SURAU.CO – Ada masa dalam hidup seorang ayah ketika tangannya tak lagi bisa menggenggam tangan anaknya setiap waktu. Anak itu tumbuh, beranjak dewasa, dan perlahan berjalan menjauh bukan karena cinta yang berkurang, tetapi karena hidup menuntutnya belajar berdiri sendiri. Pada titik itulah, seorang ayah memahami satu kenyataan: ada hal-hal yang tak bisa ia jaga dengan tenaga, tak bisa ia awasi dengan mata, dan tak bisa ia kendalikan dengan nasihat semata. Maka ia menitipkannya kepada Allah.
“Ya Rabb…” Begitulah pesan seorang ayah sering kali dimulai bukan dengan perintah, melainkan dengan doa.
Anakku, kini engkau belajar hidup jauh dariku. Engkau belajar mandiri, belajar kuat, belajar menghadapi dunia yang tidak selalu ramah. Ayah tahu, jalan ini tidak mudah. Hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana. Akan ada hari ketika senyum terasa berat, ketika rindu rumah datang diam-diam, dan ketika engkau bertanya dalam hati: mengapa hidup terasa sekeras ini?
Ayah ingin engkau tahu satu hal sejak awal: kesulitan bukan tanda Allah meninggalkanmu. Justru sering kali, kesulitan adalah cara Allah mendewasakan hamba-Nya. Sebagaimana logam dimurnikan oleh api, demikian pula jiwa manusia ditempa oleh ujian.
Anakku, belajar mandiri bukan berarti belajar sombong. Belajar kuat bukan berarti meniadakan air mata. Dan belajar dewasa bukan berarti engkau harus memikul semuanya sendirian. Ada Allah yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui, dan Maha Menemani. Jika suatu hari engkau merasa sendiri, ingatlah bahwa kesendirian itu hanyalah perasaan, bukan kenyataan. Karena Allah berfirman bahwa Dia lebih dekat daripada urat leher hamba-Nya.
Kecerdasan tanpa iman sering kali melahirkan Kerusakan
Pesan ayah kepadamu bukan tentang menjadi orang paling sukses, paling kaya, atau paling berpengaruh. Ayah tidak menuntutmu menaklukkan dunia. Ayah hanya berharap engkau menaklukkan dirimu sendiri nafsumu, egomu, dan godaan yang kerap menyamar sebagai kebebasan.
Anakku, dunia akan menawarkan banyak hal. Ada jalan pintas yang tampak menggiurkan. Ada kenikmatan yang terlihat indah di permukaan, namun pahit di ujungnya. Di saat itulah iman harus menjadi kompasmu. Jangan biarkan akal berjalan sendirian tanpa cahaya wahyu. Karena kecerdasan tanpa iman sering kali melahirkan kerusakan, bukan kebaikan.
Ayah berdoa agar setiap langkahmu dijaga oleh Allah. Bukan hanya langkah kakimu, tetapi juga langkah hatimu. Sebab banyak manusia tersesat bukan karena salah jalan, melainkan karena salah niat. Jika niatmu lurus, Allah akan meluruskan jalanmu. Jika niatmu baik, Allah akan membuka pintu-pintu yang tak pernah engkau bayangkan.
Anakku, isi hari-harimu dengan ilmu yang bermanfaat. Bukan sekadar ilmu yang membuatmu dipuji, tetapi ilmu yang membuatmu rendah hati. Ilmu yang mengajarkanmu mengenal Tuhan, memahami manusia, dan menempatkan dirimu secara adil dalam kehidupan. Karena ilmu sejati tidak menjauhkan seseorang dari Allah, justru semakin mendekatkannya.
Sahabat adalah cermin siapa dirimu sebenarnya
Ayah juga berdoa agar Allah menghadiahkan kepadamu hati yang tenang. Hati yang tidak mudah goyah oleh pujian, tidak runtuh oleh celaan, dan tidak gelap oleh iri dan dengki. Hati yang tenang bukanlah hati yang bebas masalah, tetapi hati yang tahu kepada siapa ia bersandar saat masalah datang.
Kelak engkau akan bertemu banyak orang. Tidak semuanya tulus. Tidak semuanya jujur. Maka pilihlah sahabat-sahabat yang baik. Sahabat yang mengingatkanmu kepada Allah ketika engkau lupa, menegurmu ketika engkau salah, dan menemanimu dalam ketaatan, bukan dalam kemaksiatan. Karena sahabat adalah cermin ia akan memperlihatkan siapa dirimu sebenarnya.
Anakku, jangan pernah malu menjadi orang baik di tengah dunia yang sering menertawakan kebaikan. Jangan ragu bersikap jujur di tengah kebiasaan dusta. Jangan takut menjaga prinsip di tengah tekanan mayoritas. Ingatlah, ridha Allah lebih utama daripada penerimaan manusia.
Jika suatu hari engkau merasa gagal, jangan putus asa. Kegagalan bukan akhir, melainkan bagian dari proses. Bahkan para nabi pun diuji dengan kegagalan di mata manusia, namun mereka tetap mulia di sisi Allah. Yang terpenting bukan seberapa sering engkau jatuh, tetapi seberapa cepat engkau kembali bangkit dan kembali kepada Allah.
Anakku, ayah tidak selalu benar
Ayah juga manusia yang punya kekurangan. Tapi satu hal yang ayah pastikan: cinta ayah kepadamu tidak pernah berkurang, dan doa ayah tidak pernah berhenti. Di setiap sujud, di setiap lirih munajat, namamu selalu ayah titipkan kepada Allah.
Jika suatu hari engkau lebih pintar dari ayah, jangan tinggalkan adab. Jika engkau lebih berhasil, jangan lupakan asal-usul. Dan Jika engkau lebih tinggi derajatnya di mata manusia, tetaplah rendah hati di hadapan Allah. Karena kemuliaan sejati bukan pada apa yang kita miliki, tetapi pada bagaimana kita menjaga amanah.
Pergilah, anakku.
Jalani hidupmu dengan keberanian dan ketundukan.
Beranilah menghadapi dunia, dan tunduklah hanya kepada Allah.
Ayah mungkin tak selalu ada di sampingmu,
tetapi doa ayah akan selalu berjalan bersamamu diam, tak terlihat, namun setia hingga akhir. Aamiin. (Tengku Iskandar, M. Pd: Duta Literasi Pena Da’i Nusantara Provinsi Sumatera Barat)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
