SURAU.CO – Di tengah ruang publik yang semakin riuh, suara yang paling keras kerap dianggap paling benar. Media sosial, forum diskusi, bahkan mimbar-mimbar formal sering berubah menjadi arena pembenaran diri. Setiap orang berlomba mempertahankan pendapat, menyusun argumen, dan menutup celah kesalahan, seolah mengakui kekeliruan adalah aib yang harus dihindari.
Padahal, dalam tradisi intelektual dan spiritual, kebenaran tidak lahir dari ego yang membatu. Ia tumbuh dari kerendahan hati dan kesediaan untuk melakukan introspeksi. Keberanian mengakui kesalahan bukan tanda kekalahan, melainkan pintu awal menuju kedewasaan berpikir dan kematangan batin.
Manusia memiliki kecenderungan Paradoksal
Begitu cekatan menilai dan mengoreksi orang lain, namun sering kali gamang ketika diminta bercermin pada diri sendiri. Kita cepat menunjuk kesalahan di luar, tetapi lambat menelusuri kekeliruan di dalam. Akibatnya, dialog kehilangan makna, relasi sosial menjadi rapuh, dan kebenaran diperlakukan sebagai senjata untuk memenangkan perdebatan, bukan sebagai nilai yang menenteramkan.
Kebiasaan sibuk membenarkan diri juga berdampak serius pada kehidupan bersama. Ia melahirkan sikap defensif, menutup ruang koreksi, dan mematikan proses belajar. Ketika seseorang merasa selalu benar, maka kritik dipandang sebagai ancaman, bukan sebagai peluang perbaikan. Dalam jangka panjang, hal ini tidak hanya merusak hubungan antarmanusia, tetapi juga mengerdilkan kualitas keilmuan dan kebijaksanaan sosial.
Sebaliknya, belajar menemukan salah sendiri adalah ciri jiwa yang kuat. Hanya pribadi yang matang yang mampu berkata, “Saya keliru,” tanpa merasa harga dirinya runtuh. Kesalahan yang disadari dengan jujur justru menjadi guru paling efektif, karena ia mengajarkan kehati-hatian, empati, dan kebijaksanaan. Dari situlah manusia bertumbuh lebih rendah hati dalam bersikap dan lebih arif dalam menilai.
Menutup Luka Dengan Pembenaran
Dalam tradisi hikmah, kesalahan bukan untuk disangkal atau ditutupi dengan dalih pembenaran. Ia harus ditelusuri, dipahami sebabnya, lalu diperbaiki dengan keikhlasan. Proses ini memang tidak selalu nyaman. Seperti membersihkan luka, ada rasa perih yang harus dilewati. Namun justru di situlah penyembuhan dimulai. Menutup luka dengan pembenaran hanya memperpanjang masalah, sedangkan membukanya dengan kejujuran mempercepat pemulihan.
Dunia hari ini tidak kekurangan orang pandai berbicara dan mengkritik. Yang semakin langka adalah mereka yang bersedia berhenti sejenak untuk mendengar suara hatinya sendiri. Kita kaya akan opini, tetapi miskin refleksi. Padahal, ketenangan jiwa tidak lahir dari kemenangan debat atau pengakuan publik, melainkan dari kedamaian batin saat seseorang jujur pada dirinya sendiri.
Karena itu, berhentilah sejenak dari kebiasaan membenarkan diri. Turunkan nada, buka ruang perenungan, dan pandang ke dalam dengan jujur. Carilah kesalahan tanpa menyiksa diri, perbaikilah dengan tekad, lalu melangkahlah dengan kebijaksanaan baru. Sebab pada akhirnya, yang menenangkan jiwa bukanlah tepuk tangan manusia, melainkan kejujuran kita saat berdamai dengan kebenaran. (Almi Efendi, S.IQ., S.Th.I: Ketua IPARI Kota Padang)
Menjaga perasaan orang lain
- Menjaga Perasaan Hamba: Prinsip Akhlak dalam Al-Qur’an
Allah ﷻ menegaskan bahwa ucapan dan sikap yang melukai lebih berbahaya daripada kebaikan yang disertai luka batin.
> “Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan).” (QS. Al-Baqarah: 263)
Ayat ini menegaskan bahwa melukai hati manusia menggugurkan nilai amal, bahkan jika secara lahir tampak sebagai kebaikan. Pamer nikmat di hadapan yang kekurangan termasuk adza (menyakiti perasaan) yang dikecam Al-Qur’an.
- Larangan Merendahkan Orang Lain dengan Perbandingan Nikmat
Allah ﷻ melarang sikap meremehkan, mengejek, atau membandingkan diri dengan orang lain dalam posisi yang lebih lemah.
> “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain, boleh jadi mereka yang direndahkan lebih baik dari mereka.” (QS. Al-Hujurat: 11)
Pamer harta di hadapan fakir miskin, atau membanggakan keluarga di hadapan anak yatim, meski tanpa niat menghina, tetap berpotensi menempatkan orang lain dalam posisi terendahkan secara psikologis.
- Kemuliaan Anak Yatim dan Ancaman bagi yang Melukai Hatinya
Allah ﷻ secara khusus memberi perhatian pada perasaan anak yatim, bukan hanya hartanya.
> “Maka terhadap anak yatim, janganlah engkau berlaku sewenang-wenang.” (QS. Ad-Dhuha: 9)
Para mufassir menjelaskan bahwa taqhar bukan hanya menzalimi secara fisik, tetapi juga menyakiti secara emosional, termasuk dengan ucapan dan sikap yang membuatnya merasa kehilangan dan rendah diri.
- Lisan sebagai Sumber Keselamatan atau Kehancuran
Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa keselamatan seorang mukmin sangat terkait dengan lisannya.
> “Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ucapan yang pamer, membandingkan, atau membuka luka batin orang lain termasuk bentuk ketidaksalamatan lisan.
Islam Sangat Keras Terhadap Perilaku Melukai Hati
- Ancaman bagi yang Menyakiti Sesama Mukmin
Islam sangat keras terhadap perilaku yang melukai hati orang beriman.
> “Orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sungguh mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 58)
Ayat ini mencakup luka batin yang ditimbulkan oleh ucapan dan sikap, meski tidak disertai kekerasan fisik.
- Akhlak Tinggi: Berkata Baik atau Diam
Rasulullah ﷺ memberi kaidah emas dalam interaksi sosial:
> “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Berkata baik bukan hanya soal kebenaran isi, tetapi juga kesesuaian waktu, tempat, dan kondisi pendengar.
Penutup Reflektif
Apa yang disampaikan Ustadzah Halimah Alaydrus sejatinya adalah pengejawantahan dari maqam ihsan dalam muamalah. Bukan sekadar bertanya “boleh atau tidak”, tetapi “pantaskah dan melukaikah”.
Karena hati seorang hamba lebih berharga di sisi Allah daripada banyak amal yang hampa adab. Dan bisa jadi, Allah murka bukan karena dosa besar, tetapi karena air mata yang jatuh akibat lisan kita yang lalai. (Tengku Iskandar, M. Pd: Duta Literasi Pena Da’i Nusantara Provinsi Sumatera Barat)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
