SURAU.CO – Muhammadiyah sejak kelahirannya tidak pernah memaknai dakwah sebatas mimbar dan kata-kata. Dakwah bagi Muhammadiyah adalah gerakan hidup ia berjalan, menyapa, memberi, dan menghadirkan solusi. Karena itu, salah satu wajah paling nyata dari Muhammadiyah adalah kiprah berbagi, yakni keberpihakan nyata kepada umat dan kemanusiaan melalui amal usaha dan aksi sosial yang berkelanjutan.
Kiprah berbagi ini bukanlah aktivitas insidental, melainkan watak ideologis yang berakar dari pemahaman Islam berkemajuan. Islam yang tidak berhenti pada ritual, tetapi menjelma menjadi etos sosial. Islam yang tidak hanya membicarakan surga, tetapi juga menghadirkan keadilan dan kesejahteraan di bumi.
Berbagi sebagai Manifestasi Tauhid Sosial
Dalam pandangan Muhammadiyah, berbagi bukan sekadar kebaikan individual, tetapi konsekuensi logis dari tauhid. Ketika seseorang mengikrarkan La ilaha illallah, maka ia sedang membebaskan diri dari egoisme dan menautkan hidupnya dengan tanggung jawab sosial. Inilah yang sering disebut sebagai tauhid sosial keyakinan yang melahirkan keberpihakan.
KH. Ahmad Dahlan memahami betul pesan Al-Qur’an tentang keberagamaan yang autentik. Surat Al-Ma’un menjadi ruh gerakan: mencela mereka yang beribadah tetapi mengabaikan fakir miskin, yatim, dan kaum lemah. Dari sinilah Muhammadiyah menegaskan bahwa berbagi adalah ukuran kejujuran iman.
Maka tidak heran, sejak awal Muhammadiyah tumbuh sebagai gerakan amal: sekolah didirikan, rumah sakit dibangun, panti asuhan dirintis, dan layanan sosial dikembangkan bahkan ketika umat Islam masih terbelenggu oleh keterbelakangan struktural.
Amal Usaha: Sistem Berbagi yang Berkelanjutan
Keistimewaan Muhammadiyah dalam kiprah berbagi terletak pada pendekatan sistemik. Muhammadiyah tidak sekadar memberi bantuan sesaat, tetapi membangun institusi agar kebermanfaatan bersifat jangka panjang. Inilah yang membedakan antara filantropi emosional dan filantropi peradaban.
Sekolah dan perguruan tinggi Muhammadiyah adalah bentuk berbagi ilmu. Rumah sakit dan klinik adalah wujud berbagi kesehatan. Lembaga zakat, infak, dan sedekah menjadi sarana berbagi ekonomi. Bahkan dalam situasi bencana, Muhammadiyah hadir dengan respon cepat dan terorganisir melalui MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Center).
Semua ini menunjukkan bahwa berbagi ala Muhammadiyah bukan reaksi sesaat, melainkan gerakan terencana, terukur, dan berkelanjutan.
Berbagi Tanpa Sekat Identitas
Salah satu ciri luhur Muhammadiyah dalam kiprah berbagi adalah inklusivitas. Bantuan tidak dibatasi oleh agama, suku, atau golongan. Ketika bencana datang, Muhammadiyah hadir untuk semua. Ketika rumah sakit berdiri, pintunya terbuka bagi siapa saja.
Sikap ini bukan kompromi akidah, melainkan justru cerminan akhlak Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Berbagi bagi Muhammadiyah adalah ibadah sosial yang memuliakan manusia sebagai makhluk ciptaan Allah.
Inilah dakwah yang tidak memaksa, tetapi menyentuh nurani. Tidak berteriak, tetapi memberi teladan.
Kaderisasi: Menanam Jiwa Berbagi Sejak Dini
Kiprah berbagi Muhammadiyah juga tampak dalam proses kaderisasi. Melalui Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Nasyiatul Aisyiyah, Pemuda Muhammadiyah, hingga ‘Aisyiyah, nilai berbagi ditanamkan sebagai karakter.
Berbagi tidak diajarkan sebagai belas kasihan, tetapi sebagai tanggung jawab moral. Kader dididik agar peka terhadap penderitaan sosial, kritis terhadap ketimpangan, dan siap terjun membawa solusi.
Dengan demikian, berbagi bukan aktivitas musiman, tetapi menjadi habitus gerakan mengalir dalam kesadaran kolektif warga persyarikatan.
Tantangan dan Relevansi di Zaman Modern
Di tengah dunia yang semakin individualistik, kiprah berbagi Muhammadiyah menjadi semakin relevan. Ketika solidaritas melemah dan kesenjangan melebar, Muhammadiyah hadir sebagai penyeimbang. Ketika agama terjebak simbolisme, Muhammadiyah menghadirkan agama dalam kerja nyata.
Tantangannya tentu tidak ringan: profesionalisme pengelolaan, keberlanjutan pendanaan, dan adaptasi terhadap perubahan zaman. Namun, selama ruh Al-Ma’un tetap hidup, Muhammadiyah akan terus menemukan jalannya.
Berbagi bukan sekadar memberi materi, tetapi memberi harapan. Bukan hanya membantu yang lemah, tetapi menguatkan yang rapuh agar bangkit.
Penutup: Berbagi sebagai Jalan Dakwah Peradaban
Muhammadiyah telah membuktikan bahwa dakwah yang paling kuat adalah dakwah yang dirasakan manfaatnya. Dalam kiprah berbagi, Muhammadiyah tidak hanya menolong hari ini, tetapi sedang menyiapkan masa depan umat dan bangsa.
Berbagi bagi Muhammadiyah adalah ibadah, strategi dakwah, sekaligus investasi peradaban. Sebab Islam tidak hanya ditanya tentang seberapa banyak kita berdoa, tetapi juga seberapa jauh kita peduli.
Dan di sanalah Muhammadiyah berdiri:
berbagi dengan kerja,
berdakwah dengan amal,
dan membangun peradaban dengan keikhlasan. (Tengku Iskandar, M. Pd: Duta Literasi Pena Da’i Nusantara Provinsi Sumatera Barat)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
