SURAU.CO – Banyak umat Islam di negeri ini yang mengaku sebagai ahlussunnah waljamaah pengikut empat mazhab, tetapi kalau kita berbicara masalah tradisi budaya yang berkembang dalam masyarakat Islam seperti pesta-pesta adat persembahan tumbal dan sesajen, atau tahlilan kematian, tidak ada yang menyebut-nyebut imam mazhab, justru yang disebut-sebut adalah Wali Songo.
Seakan-akan Wali Songolah yang mengajarkan umat Islam boleh melakukan tradisi-tradisi persembahan tumbal/sesajen dan acara selamatan untuk orang mati seperti dilakukan oleh umat Hindu pada hari ke-1,7,40,100 atau 1 Tahun kematian seseorang.
Ajaran para imam mazhab itu jelas, karena kita bisa pelajari dari kitab-kitabnya, yang dengan tegas mengharamkan perbuatan syirik dan membenci berkumpul-kumpul di rumah orang berduka,membenci makan-makan di rumah orang berduka. Sedangkan ajaran Wali Songo, di kitab apa kita bisa pelajari ajaran- ajarannya,mulai dari akidah,fikih dan ajaran lainnya, melainkan hanya cerita yang turun temurun.
Dakwah Dengan Pendekatan Sosial Budaya
Lagi pula termasuk fitnah bila dikatakan bahwa tradisi-tradisi budaya seperti persembahan tumbal/sesajen dan tahlilan kematian sebagai ajaran Wali Songo, karena Wali Songo hanya istilah bagi tokoh- tokoh penyebar agama Islam di Jawa yang konon kabarnya terpecah juga menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok wali putih dan Kelompok wali abangan/kejawen.
Kelompok wali putih yang terdiri dari Sunan Giri, Sunan Ampel berdakwah dengan pendekatan salaf, mendakwahkan Islam secara murni,dan menolak masuknya tradisi budaya masyarakat ke dalam Islam, sedangkan Kelompok wali abangan/kejawen yaitu Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, dan lainnya berdakwah dengan pendekatan sosial budaya, yang memasukkan tradisi-tradisi Hindu ke dalam Islam, antara lain selamatan kematian, pesta adat/ritual persembahan tumbal/sesajen dan ritual lain. Generasi pengikut golongan kejawen ini sekarang lebih dikenal sebagai pengikut Islam Nusantara.
Mengatasnamakan ajaran Wali Songo untuk tradisi budaya dalam Islam adalah keliru dan memfitnah tokoh golongan putih yang seakan dituduh ikut mencampuradukkan ajaran Islam dengan ajaran nenek moyang, sampai Islam bentuknya seperti sekarang penuh dengan takhyul, khurafat, bid’ah dan syirik, atau Islam rasa Hindu,padahal mereka tidak ikut campur dan bahkan berusaha menjaga kemurnian Islan.
Ajaran Wali Songo yang (katanya) membolehkan tradisi budaya sebagai amalan Islam yang penting niatnya baik atau mengandung kebaikan, banyak diikuti oleh Islam namun tidak jelas sumber ajaran itu maka ajaran yang seperti itu saya pribadi menyebutnya sebagai “Mazhab Semu”, yaitu ada tapi tidak ada, yang artinya ada karena banyak pengikutnya, dan dikatakan tidak ada karena tidak ditemukan kitab-kitab tulisan dari tokoh-tokoh Wali Songo itu, yang ada hanya cerita turun temurun, yang selalu menghubung-hubungkan kebolehan memasukan tradisi nenek moyang ke dalam Islam dengan cerita Wali Songo.
Dan Mazhab (ajaran yang diikuti banyak orang) Semu ini kadang lebih populer dari mazhab yang empat imam ahlussunnah waljamaah, karena kadang lebih diambil sebagai dalil pensyariatan tradisi nenek moyang daripada mazhab imam empat yang tidak mengajarkan dan bahkan membencinya.
Tradisi Dengan Dalil Syariat Islam
Kalaupun ada kitab karangan tokoh-tokoh wali songo yang membahas tentang tradisi nenek moyang dalam Islam, maka tidak ada keharusan untuk mengikutinya bila terdapat unsur mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan, karena Allah telah melarang kita mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan (QS. Al Baqarah:42), Allah hanya menerintahkan kita untuk mengikuti syariat-syariat yang telah diturunkan Allah dan meninggalkan syariat-syariat hawa nafsu manusia (QS. Al Jafsiyah:18).
Apalagi bila mengandung unsur-unsur syirik karena agama Islam adalah agama tauhid yang bersih dari takhyul/khurafat,bid’ah dan syirik dan syirik hanya merugikan diri sendiri karena bila menghapus pahala ibadah pelakunya (QS. Az Zumaar:65) dan menjadikannya kekal di dalam neraka Jahanam (QS. Al Bayyinah:6).
Ajaran mazhab “semu” Wali Songo bukanlah dalil untuk melakukan suatu syariat yang tidak disyariatkan oleh Allah dan Rasulullah, melainkan butuh dalil yang mensyariatkan. Kalau ada dalil yang mensyariatkan maka mari kita lalukan, dan kalau tidak ada dalil yang mensyariatkan maka mari kita tinggalkan. Islam itu amat sederhana yaitu lakukan kalau ada dalil yang memerintahkan dan tinggalkan kalau tidak ada dalil yang memerintahkan.
Kalau kita mengaku menjadi pengikut 4 mazhab maka mari kita jujur dan konsistem mengikutinya. Yaitu kalau diajarkan oleh imam mazhab maka lakukan dan kalau tidak diajarkan atau dibenci oleh imam mazhab maka tinggalkan. Dan kalau mengaku ahlussunnah waljamaah maka sederhana saja, yaitu kalau masuk sunnah Rasulullah dan sunnah Khulafaurrasyidin. Maka lakukan, dan kalau tidak masuk maka tinggalkan, berjemaahlah dalam kebenaran, bukan berjemaah dalam kebatilan.
Kalau seperti itu maka baru bisa disebut umat yang jujur dalam beragama. Janganlah bawa-bawa nama wali songo untuk membenarkan tradisi budaya persembahan tumbal/sesajen. Atau tradisi lainnya yang mengandung syirik, karena belum tentu semua tokoh wali songo menghendaki demikian. Karena tidak adanya kitab-kitab karangan mereka yang bisa kita baca untuk mengetahui akidah dan ajaran-ajaran mereka.
Sumber Ajaran Islam
Ajaran Islam amat jelas sumbernya yaitu:
1. Al Quran,
2. As Sunnah (Sunnah Rasulullah dan Sunnah khulafaurrasyidin),
3. Pendapat atau kesepakatan ulama yang sesuai dengan Al Quran dan As Sunnah,
4. Qiyas yang sesuai dengan Al Quran dan As Sunnah.
Jadi tidak semua kesepakatan ulama bisa dijadikan sumber hukum Islam. Kesempakatan yang membolehkan bid’ah atau syirik jelas haram diikuti. Kalau dibilang beberapa tokoh wali songo setuju atau sepakat memasukkan tradisi nenek moyang dalam Islam. Maka kesepakatan itu tidak bisa dijadikan dasar syariat untuk melakukannya bila mengandung takhyul, bid’ah dan syirik.
Pada akhir tulisan ini, saya mengajak umat untuk tidak mengatasnamakan Wali Songo untuk melakukan tradisi-tradisi syirik dan bid’ah. Mari kita berperasangka baik bahwa tokoh-tokoh wali songo itu paham ajaran Islam, menyebarkan Islam dengan benar. Maka tidaklah mungkin mau mencampur aduk ajaran Islam dengan tradisi budaya yang mengandung takhyul, bid’ah dan syirik, dan kalaupun dilakukan. Maka itu terpaksa dilakukan dengan harapan. Suatu saat setelah Islam telah menyatu di hati masyarakat akan ada generasi yang menghilangkan tradisi. Yang berarti hanya berlaku sementara, dan tidak untuk dilestarikan secara turun temurun di saat Islam telah menyebar di masyarakat.
Mari buktikan bahwa diri kita pengikut 4 mazhab yang hanya melakukan yang diajarkan oleh keempat mazhab. Dan meninggalkan yang bertentangan dengan ajaran keempat mazhab. Waallahu a’lam. (Frimadona Anadea Daily)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
