SURAU.CO – Ibrah Agung tentang Sabar, Redha, dan Rumah yang Dijaga Allah. Dalam lembaran sejarah para wali, nama Syaikh Abdul Qadir al-Jilani as. dikenal sebagai Quthb al-Awliya’, pemimpin para kekasih Allah, lautan ilmu, dan sulthanul-arifin. Namun sedikit yang mengetahui bahwa sebelum kemuliaan itu Allah takdirkan untuknya ujian berat berupa kemiskinan yang sangat panjang. Baghdad pada masa itu menjadi saksi betapa beliau pernah hidup dalam rumah yang kecil, tanahnya berdebu, atapnya bocor ketika hujan. Nafkah hariannya bahkan sering tidak sampai lima dirham.
Di tengah kesempitan tersebut, hadir seorang wanita agung bernama Sayyidah Fatimah binti Abi Shalih Abdullah al-Jili, isteri solihah yang Allah takdirkan menjadi peneduh hatinya. Mereka hidup bersama dalam keadaan serba kekurangan, terkadang hanya ada secupak tepung gandum, dan terkadang tidak ada apa pun di dapur sama sekali.
Tiga Hari Tanpa Makanan
Suatu hari, telah tiga hari tidak ada makanan yang masuk ke dalam rumah. Anak-anak kecil menangis menahan lapar. Dengan hati yang kuat, Sayyidah Fatimah memanaskan periuk kosong, menuang sedikit air, mencampur garam seadanya, lalu mengaduknya sambil berzikir.
Semua itu dilakukan hanya untuk membuat anak-anak merasa seolah-olah ibu mereka sedang memasak sesuatu.
Ketika Syaikh Abdul Qadir pulang sore itu dengan wajah letih setelah belajar dan mengajar, beliau melihat periuk yang hanya berisi air dan garam. Beliau melihat anak-anak yang duduk sunyi, dan melihat isterinya yang tetap tersenyum.
Beliau mendekat, meminta isterinya duduk di sisinya, lalu memegang tangannya dengan erat.
“Fatimah, engkau boleh marah kepadaku. Engkau boleh mengeluh. Engkau boleh meminta aku mencari pekerjaan lain dan meninggalkan pelajaran ini. Aku tak akan menyalahkanmu.”
Sayyidah Fatimah menatap wajah suaminya, tersenyum sambil menahan air mata, lalu berkata:
“Ya ‘Abd al-Qadir, aku menikah dengan engkau, bukan dengan hartamu. Nafkah zahirku aku serahkan kepadamu, dan engkau serahkan nafkah batinmu kepada Allah.
Jika aku mengeluh sekarang, itu tanda aku tidak percaya pada pilihanmu, dan engkau tidak percaya pada janji Allah. Maka kita berdua akan rugi.”
Malam itu mereka makan roti kering yang tersisa sehelai, dibagi menjadi tujuh bagian kecil. Anak-anak tidur dengan perut separuh kosong, tapi ketenangan memenuhi rumah itu karena tidak ada keluhan dan pertengkaran. Barangkali beginilah rumah-rumah yang dicintai langit.
Pintu Rumah yang Diketuk Malaikat dalam Bentuk Manusia
Tepat tengah malam, seseorang mengetuk keras pintu rumah kecil itu. Ketika Syaikh Abdul Qadir membukanya, tampak seorang lelaki tua berjubah hijau, membawa dua karung besar. Ia tunduk penuh hormat dan berkata:
“Wahai Syaikh, tadi malam aku bermimpi bertemu Rasulullah ﷺ. Baginda bersabda: ‘Pergilah ke rumah Abdul Qadir di wilayah ini. Berikan semua yang kau punya kepadanya.
Malam ini mereka tidur dalam kelaparan, tetapi lidah mereka basah dengan zikir.’
Ini emas, perak, gandum, kurma, minyak, pakaian, semuanya untuk engkau dan keluargamu.”
Syaikh Abdul Qadir menangis, bukan karena harta itu, tetapi karena bukti nyata bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba yang tidak mengeluh dalam ujian.
Beliau berpaling kepada isterinya dan bertanya:
“Fatimah, apakah engkau mahu aku menerima ini semua?”
Lalu isterinya menjawab dengan tenang:
“Terimalah, wahai ‘Abd al-Qadir.
Bukan kerana kita membutuhkan, tetapi kerana Allah ingin menunjukkan bahwa Dia tidak pernah lupa kepada hamba-Nya yang sabar dan redha.”
Setelah Itu, Karung Rezeki Tak Pernah Kosong
Sejak malam itu, rumah kecil mereka tidak pernah kosong lagi. Namun yang lebih mengagumkan adalah sikap Sayyidah Fatimah. Beliau tetap memasak dengan periuk yang sama, tetap sederhana seperti sebelumnya. Setiap kali ada orang datang meminta bantuan, beliau paling dahulu membuka karung dan membagikan (kebahagiaan).
Kemuliaan bukan datang dari harta yang berlimpah, tetapi dari hati yang lapang.
Nafkah Suami & Nafkah Isteri yang Sebenarnya
Syaikh Abdul Qadir kemudian berkata kepada murid-muridnya:
“Nafkah seorang suami bukan hanya emas dan perak yang ia bawa pulang.
Nafkah terbesar adalah ketenangan yang ia berikan kepada hati isterinya.
Dan nafkah seorang isteri yang paling mahal adalah sabar dan redha yang ia hadiahkan kepada suaminya.
Apabila kedua-duanya bertemu, Allah sendiri yang turun menjadi penjaga dapur mereka.”
Para perawi meriwayatkan kisah ini dalam al-Bahjat al-Saniyyah dan manaqib Syaikh Abdul Qadir, dan itu menjadi ibrah agung dalam Tarekat Qadiriyyah hingga hari ini. Sebuah pengingat bahwa:
Rumah yang paling kaya bukanlah yang penuh harta, tetapi rumah yang kosong dari keluhan.
Semoga Allah menghiasi rumah-rumah kita dengan kesabaran, tawakal, sakinah, dan redha. Wallahu a‘lam. (Tengku Iskandar, M. Pd – Duta Literasi Pena Da’i Nusantara Provinsi Sumatera Barat)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
