SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Opinion
Beranda » Berita » Semua Merasa Paling Benar, Lantas Siapa Logika yang Benar?

Semua Merasa Paling Benar, Lantas Siapa Logika yang Benar?

Semua Merasa Paling Benar, Lantas Siapa Logika yang Benar?
Semua Merasa Paling Benar, Lantas Siapa Logika yang Benar?

 

SURAU.CO – Analisis Filosofis-Dakwah: Akal, Perasaan, dan Wahyu dalam Menemukan Kebenaran Hakiki

Pendahuluan

Zaman ini adalah zaman ketika setiap orang ingin menjadi hakim bagi kebenaran. Semua merasa paling benar, semua berpegang pada “perasaan,” bukan pada wahyu. Padahal, perasaan hanyalah gelombang jiwa yang berubah-ubah, tidak pernah konstan, dan tidak mampu menuntun kepada kebenaran yang tetap.

Fenomena ini menjadi wajah baru dari sekularisme batin manusia memisahkan logika dari wahyu, lalu menggantikannya dengan rasa dan ego.

Akibatnya, manusia kehilangan arah hidup, terjebak dalam kegelisahan tanpa ujung, dan gagal meraih kebahagiaan yang hakiki.

Kalimat Terakhir: Jaminan atau Harapan?

𝗥𝗮𝘀𝗮, 𝗣𝗲𝗿𝗮𝘀𝗮𝗮𝗻, 𝗱𝗮𝗻 𝗔𝗸𝗮𝗹: 𝗧𝗶𝘁𝗶𝗸 𝗔𝘄𝗮𝗹 𝗞𝗲𝗸𝗮𝗰𝗮𝘂𝗮𝗻 𝗡𝗶𝗹𝗮𝗶

Secara definisi, rasa adalah getaran emosi yang lahir dari jiwa, sedangkan perasaan adalah penilaian batin terhadap apa yang dialami seseorang. Keduanya tidak memiliki standar objektif, mudah berubah, dan sering kali dipengaruhi oleh hawa nafsu serta pengalaman.

Ketika manusia menjadikan perasaan sebagai dasar berpikir, maka logika berubah menjadi pembenaran diri, bukan pencarian kebenaran.

Ia tidak lagi berpikir “apa yang benar,” tetapi “apa yang aku sukai.”

Allah ﷻ berfirman:

«“Dan jika kebenaran itu mengikuti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi serta semua yang ada di dalamnya.”
(QS. Al-Mu’minun [23]: 71)»

Sepuluh Ramadhan: Meluruskan Niat, Menyiapkan Hati

Perasaan yang dijadikan penguasa akan melahirkan kesesatan intelektual dan spiritual. Manusia menjadi hamba dari dirinya sendiri, bukan hamba Rabb yang menciptakan dirinya.

𝗔𝗸𝗮𝗹 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗧𝘂𝗻𝗱𝘂𝗸 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗪𝗮𝗵𝘆𝘂

Islam tidak menolak peran akal. Justru akal adalah alat kemuliaan manusia. Namun akal memiliki batas ia tidak menciptakan kebenaran, hanya mampu memahami dan menundukkan diri kepada kebenaran yang Allah turunkan.

Allah ﷻ berfirman:

«“Dan tidaklah mereka mempergunakan akal mereka untuk memikirkan, padahal Allah tidak menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar.”
(QS. Ar-Rum [30]: 8)»

Akal yang benar adalah akal yang berjalan di bawah cahaya wahyu.
Tanpa wahyu, akal menjadi seperti kompas rusak di tengah padang luas berputar, berlogika, tapi tanpa arah menuju kebenaran.

Bedanya Selamat dengan Islam

𝗪𝗮𝗵𝘆𝘂: 𝗟𝗲𝗻𝘁𝗲𝗿𝗮 𝗔𝗸𝗮𝗹 𝗱𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗻𝘂𝗻𝗱𝘂𝗸 𝗘𝗴𝗼

Wahyu adalah lentera bagi akal, bukan penghalang bagi berpikir.
Ia membimbing nalar manusia agar mampu menembus makna terdalam kehidupan tanpa tergelincir oleh ego dan hawa nafsu.

Ketika akal tunduk kepada wahyu, maka nafsu dan perasaan dapat dikendalikan.
Dari sinilah lahir keseimbangan: akal berpikir dengan jernih, hati merasa dengan tenang, dan jiwa berjalan di bawah petunjuk Allah.

Allah ﷻ berfirman:

«“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”
(QS. Ar-Ra’d [13]: 28)»

Tanpa wahyu, manusia hanya berputar dalam kegelapan intelektual.
Dengan wahyu, akal menemukan arah, menundukkan ego, dan meniti jalan kebahagiaan sejati.

𝗛𝗮𝗸𝗶𝗸𝗮𝘁 𝗕𝗮𝗵𝗮𝗴𝗶𝗮: 𝗕𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗥𝗮𝘀𝗮, 𝗧𝗮𝗽𝗶 𝗞𝗲𝘁𝘂𝗻𝗱𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗔𝗸𝗮𝗹

Bahagia bukanlah letupan perasaan, tetapi manifestasi akal yang tunduk pada wahyu dan mampu menundukkan ego.
Perasaan bisa bergejolak, tetapi ketundukan akal melahirkan ketenangan yang stabil.
Inilah kebahagiaan sejati yang tidak bergantung pada situasi, tapi pada keyakinan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya adalah kebaikan. Jika mendapat nikmat, ia bersyukur; jika ditimpa musibah, ia bersabar — itu pun baik baginya.”
(HR. Muslim)»

Kebahagiaan sejati bukan “aku merasa senang,” tapi “aku ridha dengan ketetapan Allah.”

𝗥𝗲𝘀𝗶𝗸𝗼 𝗞𝗲𝗴𝗮𝗴𝗮𝗹𝗮𝗻 𝗠𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶𝗮 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗠𝗲𝗻𝗰𝗮𝗿𝗶 𝗞𝗲𝗯𝗮𝗵𝗮𝗴𝗶𝗮𝗮𝗻

Manusia yang menjadikan perasaan sebagai hakim hidup akan hidup dalam kebingungan abadi.

Ia mudah bahagia karena hal remeh, lalu hancur karena kecewa kecil.

Ia mencari ketenangan dalam hiburan, tapi kehilangan makna dalam diamnya sendiri.

Allah ﷻ memperingatkan:

«“Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh baginya kehidupan yang sempit.”
(QS. Thaha [20]: 124)»

Inilah buah dari sekularisme spiritual memutus hubungan antara akal dan wahyu, lalu menjadikan ego sebagai ilah.
Kehidupan menjadi sempit, meski penuh harta; batin menjadi gelisah, meski diselimuti pujian.

𝗦𝗶𝗻𝘁𝗲𝘀𝗶𝘀 𝗧𝗮𝘂𝗵𝗶𝗱𝗶: 𝗞𝗲𝗺𝗯𝗮𝗹𝗶 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗞𝗲𝗯𝗲𝗻𝗮𝗿𝗮𝗻 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗧𝗮𝗸 𝗣𝗲𝗿𝗻𝗮𝗵 𝗦𝗮𝗹𝗮𝗵

Ketika semua merasa paling benar, maka hanya Allah-lah yang benar. Dan logika yang benar adalah logika yang tunduk kepada-Nya.

𝗔𝗸𝗮𝗹 𝗵𝗮𝗻𝘆𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗮𝗹𝗮𝘁; 𝘄𝗮𝗵𝘆𝘂 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗮𝗿𝗮𝗵; 𝗱𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗮𝘀𝗮𝗮𝗻 𝗵𝗮𝗻𝘆𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗰𝗲𝗿𝗺𝗶𝗻 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗵𝗮𝗿𝘂𝘀 𝗱𝗶𝗷𝗲𝗿𝗻𝗶𝗵𝗸𝗮𝗻 𝗼𝗹𝗲𝗵 𝗸𝗲𝗱𝘂𝗮𝗻𝘆𝗮.

Allah ﷻ berfirman:

«“Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan terhadap putusanmu dan mereka menerimanya dengan sepenuhnya.”
(QS. An-Nisa [4]: 65)»

Kebenaran sejati tidak datang dari  “𝗮𝗸𝘂 𝗺𝗲𝗿𝗮𝘀𝗮,” 𝘁𝗲𝘁𝗮𝗽𝗶 𝗱𝗮𝗿𝗶  “𝗔𝗹𝗹𝗮𝗵 𝗯𝗲𝗿𝗳𝗶𝗿𝗺𝗮𝗻.” Dan kebahagiaan sejati tidak lahir dari “𝗮𝗸𝘂 𝗶𝗻𝗴𝗶𝗻,” 𝘁𝗲𝘁𝗮𝗽𝗶 𝗱𝗮𝗿𝗶 “𝗮𝗸𝘂 𝘁𝘂𝗻𝗱𝘂𝗸.”

𝗦𝗲𝗿𝘂𝗮𝗻 𝗗𝗮𝗸𝘄𝗮𝗵

Wahai manusia, jangan biarkan perasaan menjadi tuhanmu.
Gunakan akalmu dengan cahaya wahyu.
Kendalikan egomu dengan dzikir.
Dan temukan kebahagiaanmu dengan menundukkan hati kepada Allah.

𝗞𝗮𝗿𝗲𝗻𝗮 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗮𝗸𝗵𝗶𝗿𝗻𝘆𝗮, 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙗𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙞𝙖𝙥𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙥𝙖𝙡𝙞𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙧𝙖𝙨𝙖 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧, 𝙩𝙚𝙩𝙖𝙥𝙞 𝙨𝙞𝙖𝙥𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙥𝙖𝙡𝙞𝙣𝙜 𝙩𝙪𝙣𝙙𝙪𝙠 𝙠𝙚𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙠𝙚𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝘼𝙡𝙡𝙖𝙝 𝙙𝙖𝙣 𝙍𝙖𝙨𝙪𝙡-𝙉𝙮𝙖 ﷺ

𝗗𝗮𝗳𝘁𝗮𝗿 𝗣𝘂𝘀𝘁𝗮𝗸𝗮

  1. Al-Qur’an al-Karim
  2. Tafsir Ibn Katsir, Dar al-Fikr
  3. Imam al-Ghazali, Ihya’ Ulum al-Din, Kitab Ilmu
  4. Ibn Qayyim al-Jauziyyah, Madarij al-Salikin
  5. Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism
  6. Sayyid Qutb, Fi Zhilal al-Qur’an. (Rahmat Daily)

Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.