Surau.co. Dalam ruang kelas modern, sering kita mendengar kalimat seperti, “Yang penting nilainya bagus!” atau “Yang penting lulus, urusan paham nanti.” Kalimat ini mencerminkan wajah pendidikan yang kian pragmatis, di mana angka dan peringkat menjadi tujuan akhir dari proses belajar. Banyak siswa yang mengejar nilai tinggi, bukan karena cinta terhadap ilmu, melainkan karena takut kalah, takut gagal, atau sekadar ingin diakui.
Padahal dalam pandangan Islam, niat adalah fondasi dari segala amal. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa niat tidak hanya penting dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam aktivitas sehari-hari — termasuk belajar. Maka, setiap langkah menuju ilmu seharusnya dimulai dengan niat yang benar: mencari ridha Allah, bukan sekadar mengejar nilai atau penghargaan duniawi.
Belajar Demi Nilai: Ketika Angka Menjadi Tuhan Baru
Dalam sistem pendidikan yang menitikberatkan pada hasil akhir, angka sering kali dijadikan ukuran keberhasilan mutlak. Nilai rapor, IPK, atau ranking menjadi simbol kehormatan, seakan-akan menentukan masa depan seseorang. Tidak jarang, siswa merasa nilai yang rendah adalah aib, sementara nilai tinggi menjadi tolok ukur kebahagiaan.
Namun, belajar yang hanya diarahkan untuk memperoleh angka sering kehilangan ruhnya. Proses mencari ilmu menjadi aktivitas mekanis — tanpa rasa ingin tahu, tanpa kegembiraan, tanpa makna. Akibatnya, ilmu tidak membentuk karakter, hanya menumpuk informasi.
Imam Al-Mawardi dalam Adāb ad-Dunyā wa ad-Dīn menerangkan:
العِلْمُ بِلَا عَمَلٍ كَالشَّجَرِ بِلَا ثَمَرٍ
“Ilmu tanpa amal ibarat pohon tanpa buah.”
Ungkapan itu menjadi pengingat bahwa ilmu yang tidak memberi manfaat hanyalah beban. Jika tujuan belajar hanyalah untuk mendapatkan nilai, maka ilmu itu berhenti di kepala, tidak pernah turun ke hati. Ia kering dan tidak menumbuhkan kebijaksanaan.
Ketika angka dijadikan ukuran utama, manusia mudah tergelincir pada perilaku curang: mencontek, memanipulasi data, bahkan membeli tugas. Semua demi mempertahankan “nama baik” di atas kertas. Padahal nilai sejati bukan tentang berapa tinggi angka yang tertulis, melainkan sejauh mana ilmu itu menumbuhkan kejujuran, kerja keras, dan kerendahan hati.
Niat Belajar: Antara Dunia dan Akhirat
Islam mengajarkan bahwa ilmu adalah cahaya, dan cahaya itu tidak akan masuk ke hati yang gelap oleh niat yang salah. Allah ﷻ berfirman:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
(QS. Al-Mujādilah [58]: 11)
Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu memiliki kedudukan tinggi, tetapi kemuliaannya tidak terletak pada kepintaran semata. Ilmu menjadi mulia karena niat yang mendasarinya. Orang yang menuntut ilmu untuk mencari ridha Allah akan mendapatkan keberkahan dunia dan akhirat sekaligus. Namun, mereka yang belajar hanya demi dunia akan kehilangan makna sejati dari proses tersebut.
Menuntut ilmu dengan niat yang benar adalah ibadah. Karena itu, dalam setiap langkah belajar, seseorang sebaiknya bertanya kepada dirinya sendiri: “Untuk siapa aku belajar?” Apakah untuk membanggakan diri, memuaskan orang lain, atau benar-benar untuk mengabdi kepada kebenaran dan kebaikan?
Belajar karena Allah melahirkan keikhlasan. Ia membuat seseorang terus bersemangat meski tidak mendapat penghargaan, karena yang dicari bukan sorak-sorai manusia, melainkan ridha Tuhan. Ilmu seperti ini tidak hanya memperluas wawasan, tetapi juga menyuburkan hati.
Belajar Demi Nilai Hidup: Memaknai Ulang Tujuan Pendidikan
Pertanyaan paling penting dalam pendidikan bukanlah “apa yang kamu pelajari?” melainkan “mengapa kamu belajar?” Banyak orang cerdas secara akademik, tetapi gagal memahami makna hidup. Mereka tahu rumus, tetapi tidak tahu arah. Di sinilah pentingnya mengubah orientasi: dari belajar demi nilai akademik menjadi belajar demi nilai hidup.
Belajar demi nilai hidup berarti menjadikan ilmu sebagai bekal untuk menjalani kehidupan yang bermakna. Bukan hanya agar bisa menjawab ujian, tetapi agar bisa menjawab tantangan hidup dengan bijak. Ilmu yang sejati bukan yang membuat seseorang merasa lebih tinggi, melainkan yang menjadikannya lebih rendah hati dan lebih bermanfaat bagi sesama.
Rasulullah ﷺ bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. Ahmad)
Dengan demikian, puncak dari belajar bukanlah penghargaan, tetapi pengabdian. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang menggerakkan hati untuk berbuat kebaikan. Maka, nilai hidup sesungguhnya adalah sejauh mana ilmu itu menjadikan seseorang lebih berguna, bukan lebih sombong.
Belajar demi nilai hidup juga berarti melawan arus budaya kompetitif yang sering menyesatkan. Dalam kompetisi, keberhasilan satu orang berarti kegagalan orang lain. Namun dalam belajar yang dilandasi niat ibadah, keberhasilan seseorang justru menjadi keberkahan bersama.
Sains, Akhlak, dan Niat yang Lurus
Kemajuan zaman telah membawa manusia pada ledakan pengetahuan, tetapi juga pada kekeringan spiritual. Banyak orang menguasai teknologi, tetapi kehilangan empati. Banyak yang mahir berhitung, namun lupa bersyukur. Di sinilah pentingnya menautkan sains dan niat, pengetahuan dan akhlak.
Sains tanpa nilai hanyalah pisau bermata dua. Ia bisa digunakan untuk membangun, tapi juga untuk menghancurkan. Niat yang lurus menjadikan ilmu sebagai sarana kemaslahatan, bukan kebanggaan pribadi. Maka, antara akal dan hati harus berjalan beriringan.
Imam Al-Mawardi kembali mengingatkan:
مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِلدُّنْيَا فَقَدْ فَاتَهُ مِنْهَا، وَمَنْ طَلَبَهُ لِلْآخِرَةِ أُعْطِيَ مِنْهَا وَزِيَادَةً
“Barang siapa mencari ilmu untuk dunia, ia akan kehilangan keberkahannya; namun barang siapa mencarinya untuk akhirat, ia akan diberi keduanya sekaligus.”
Belajar karena Allah tidak berarti menolak dunia, tetapi menempatkan dunia di posisi yang benar. Ilmu yang digunakan untuk menolong sesama, mengajarkan kebaikan, atau memperbaiki kehidupan manusia — semuanya termasuk ibadah jika niatnya lurus.
Refleksi: Mengembalikan Ruh Belajar
Menyoal niat berarti menyoal arah hidup. Jika belajar hanya untuk nilai, maka capaian kita berhenti di lembar rapor. Namun, jika belajar untuk nilai hidup, maka keberkahan itu akan berlanjut sepanjang hayat.
Guru dan orang tua memegang peran penting dalam menanamkan niat yang benar kepada generasi muda. Anak-anak perlu dididik untuk mencintai proses, bukan hasil. Mereka harus diajarkan bahwa belajar bukanlah ajang pembuktian, tetapi perjalanan menemukan jati diri.
Kita hidup di zaman yang serba cepat, di mana hasil lebih dihargai daripada proses. Karena itu, kita perlu menghidupkan kembali semangat belajar yang penuh kesadaran. Belajar dengan hati, bukan dengan ambisi. Belajar dengan niat, bukan dengan gengsi.
Penutup: Ilmu yang Menyuburkan Jiwa
Belajar adalah perjalanan batin. Ia bukan sekadar aktivitas intelektual, tetapi juga spiritual. Nilai tinggi tidak selalu berarti kebijaksanaan, dan kegagalan akademik tidak selalu berarti kebodohan. Yang terpenting adalah niat yang menuntun setiap langkah.
Ilmu yang benar adalah yang menumbuhkan kebaikan dan menyuburkan jiwa. Karena sejatinya, belajar bukan tentang berapa banyak yang kita tahu, tetapi seberapa dalam ilmu itu mengubah diri kita menjadi pribadi yang lebih baik.
وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“Dan katakanlah: Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.”
(QS. Ṭāhā [20]: 114)
Belajar bukanlah kompetisi untuk menjadi yang terbaik di mata manusia, melainkan ibadah untuk menjadi lebih dekat di sisi Allah. Nilai bisa hilang, sertifikat bisa rusak, tetapi niat yang tulus akan abadi di sisi-Nya. Karena pada akhirnya, Allah tidak menilai hasil, melainkan keikhlasan di balik setiap usaha.
*Gerwin Satria N
Pegiat literasi Iqro’ University Blitar
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
