SURAU.CO – 𝗣𝗲𝗻𝗱𝗮𝗵𝘂𝗹𝘂𝗮𝗻: Masjid adalah rumah Allah ﷻ, pusat ibadah, pendidikan, dan dakwah. Sejak zaman Rasulullah ﷺ, masjid menjadi 𝗽𝘂𝘀𝗮𝘁 𝗽𝗲𝗿𝗮𝗱𝗮𝗯𝗮𝗻 𝗶𝘀𝗹𝗮𝗺: tempat shalat berjamaah, halaqah ilmu, musyawarah umat, hingga benteng akidah.
Namun, menghidupkan masjid tidak cukup hanya dengan keramaian suara. Masjid harus dihidupkan dengan 𝗮𝗱𝗮𝗯 𝗱𝗮𝗻 𝘀𝘂𝗻𝗻𝗮𝗵 agar benar-benar menjadi cahaya hidayah.
𝗔𝗱𝗮𝗯 𝗠𝗲𝗺𝗯𝗮𝗰𝗮 𝗔𝗹-𝗤𝘂𝗿’𝗮𝗻 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗧𝗮𝗿𝘁𝗶𝗹
Allah ﷻ berfirman:
وَرَتِّلِ ٱلْقُرْءَانَ تَرْتِيلًا
“𝘞𝘢 𝘳𝘢𝘵𝘵𝘪̄𝘭𝘪𝘭-𝘲𝘶𝘳’𝘢̄𝘯𝘢 𝘵𝘢𝘳𝘵𝘪̄𝘭𝘢̄”
“𝘋𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘤𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘈𝘭-𝘘𝘶𝘳’𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘳𝘵𝘪𝘭 (𝘱𝘦𝘳𝘭𝘢𝘩𝘢𝘯-𝘭𝘢𝘩𝘢𝘯, 𝘫𝘦𝘭𝘢𝘴, 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘵𝘶𝘳𝘢𝘯).”
(QS. Al-Muzzammil: 4)
Ayat ini menjadi dasar bahwa membaca Al-Qur’an bukan dengan suara keras tanpa kendali, tetapi dengan ketenangan, kejelasan, dan penghayatan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“𝘚𝘦𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘣𝘢𝘤𝘢𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢, 𝘵𝘢𝘮𝘱𝘢𝘬 𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩.”
(HR. Ibnu Majah, no. 1339)
Artinya, bacaan Qur’an seharusnya menggetarkan hati, bukan memekakkan telinga.
Rasulullah ﷺ bersabda:
𝘒𝘦𝘵𝘢𝘩𝘶𝘪𝘭𝘢𝘩, 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘮𝘶𝘯𝘢𝘫𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘙𝘢𝘣𝘣-𝘯𝘺𝘢. 𝘔𝘢𝘬𝘢 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘪𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘪𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯. 𝘋𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘪𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘳𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘤𝘢𝘢𝘯 𝘈𝘭-𝘘𝘶𝘳’𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘣𝘢𝘤𝘢𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯.”
(HR. Abu Dawud, Ahmad, Malik, dishahihkan Al-Albani)
Jadi, kalau kamu baca Al-Qur’an dengan keras sampai ganggu orang lain yang juga baca atau lagi salat, itu gak boleh, ya.
𝗔𝗱𝗮𝗯 𝗕𝗲𝗿𝘇𝗶𝗸𝗶𝗿 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗮𝗿𝗮 𝗣𝗲𝗹𝗮𝗻
Allah ﷻ menegaskan:
“𝘋𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘶𝘵𝘭𝘢𝘩 (𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵𝘭𝘢𝘩) 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘩𝘢𝘵𝘪𝘮𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘯𝘥𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵, 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘳𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘶𝘢𝘳𝘢, 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘱𝘢𝘨𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘵𝘢𝘯𝘨; 𝘥𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘭𝘢𝘪.”
(QS. Al-A’raf: 205)
Zikir yang benar adalah lirih, penuh khusyuk, dan tidak berlebih-lebihan dengan suara keras.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“𝘞𝘢𝘩𝘢𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢, 𝘵𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯! 𝘚𝘦𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘳𝘶 𝘡𝘢𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘶𝘭𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘫𝘢𝘶𝘩, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘳𝘶 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘔𝘢𝘩𝘢 𝘔𝘦𝘯𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘔𝘢𝘩𝘢 𝘋𝘦𝘬𝘢𝘵.”
(HR. Bukhari-Muslim)
Dari sabda Rasulullah ﷺ tersebut, jelas bahwa zikir yang dianjurkan adalah dengan suara pelan agar hati khusyuk. Dalil ini juga sekaligus menjelaskan mengapa azan diperintahkan untuk dikeraskan, karena azan termasuk amalan yang berfungsi menyeru manusia dan sebagai pemberitahuan masuknya waktu salat, serta panggilan untuk berjamaah bagi kaum laki-laki.
𝗙𝗮𝗸𝘁𝗮 𝗬𝗮𝗻𝗴 𝗦𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴 𝗧𝗲𝗿𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗗𝗶 𝗠𝗮𝘀𝗷𝗶𝗱
- 𝗠𝗮𝘀𝗷𝗶𝗱 𝗝𝗮𝗱𝗶 𝗕𝗶𝘀𝗶𝗻𝗴 – bacaan Qur’an, salawat, atau zikir diperdengarkan keras-keras dengan pengeras suara.
-
𝗧𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗠𝗲𝗻𝗮𝗺𝗯𝗮𝗵 𝗦𝘂𝗻𝗻𝗮𝗵 𝗟𝗮𝗶𝗻 – aktivitas hanya berhenti pada rutinitas suara, tanpa ada kajian tafsir, hadits, atau fiqh.
-
𝗝𝗮𝗺𝗮𝗮𝗵 𝗧𝗲𝗿𝗴𝗮𝗻𝗴𝗴𝘂 – orang sakit, anak kecil, atau jamaah yang ingin shalat dan mengaji merasa terganggu.
-
𝗨𝗺𝗮𝘁 𝗝𝘂𝘀𝘁𝗿𝘂 𝗠𝗲𝗻𝗷𝗮𝘂𝗵 – sebagian umat enggan datang karena merasa tidak nyaman, kebisingan yang berlebihan dimesjid, bahkan gondok.
-
𝗠𝗲𝗺𝗮𝗸𝘂𝗿𝗸𝗮𝗻 𝗠𝗮𝘀𝗷𝗶𝗱 𝗧𝗮𝗻𝗽𝗮 𝗔𝗱𝗮𝗯 – pengurus merasa sudah memakmurkan masjid, padahal justru keluar dari tuntunan sunnah dan menjadi salah satunya umat semakin jauh dari hijrah.
𝗣𝗲𝘀𝗮𝗻 𝗨𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗣𝗲𝗻𝗴𝘂𝗿𝘂𝘀 𝗠𝗮𝘀𝗷𝗶𝗱
Rasulullah ﷺ bersabda:
“𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘪𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘳𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘤𝘢𝘢𝘯 𝘈𝘭-𝘘𝘶𝘳’𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯.”
(HR. Abu Dawud, Ahmad)
Artinya, bacaan keras yang mengganggu adalah larangan langsung dari Nabi ﷺ.
Wahai pengurus masjid… janganlah kalian membuat masjid sekadar tempat ramai suara. Jadikanlah masjid hidup dengan ilmu sunnah, halaqah tafsir, dan zikir yang khusyuk.
Jika pengurus tidak menjaga adab, masjid justru kehilangan ruh dan membuat umat semakin menjauh.
“Coba bayangkan, selepas Maghrib hingga menjelang Isya, masjid dihidupkan dengan kajian tafsir Al-Qur’an, halaqah hadits, dan pengajian ilmu sunnah. Jamaah duduk tenang, mendengarkan, berdiskusi, lalu berzikir dengan khusyuk. Hati tercerahkan, iman bertambah, dan ukhuwah umat semakin kuat.
Apakah dengan cara ini Islam tidak akan cepat kokoh? Atau kita lebih rela masjid sekadar ramai suara tanpa ilmu, sekadar pelengkap KTP dan tradisi, yang akhirnya membuat umat tetap lemah, jauh dari sunnah, dan miskin pemahaman ?” miskin pemahaman rusak amalan sesat didunia berakhir dineraka.
𝗥𝗲𝗳𝗲𝗿𝗲𝗻𝘀𝗶 𝗨𝗹𝗮𝗺𝗮 𝗞𝗹𝗮𝘀𝗶𝗸 & 𝗞𝗼𝗻𝘁𝗲𝗺𝗽𝗼𝗿𝗲𝗿
𝟭. 𝗜𝗺𝗮𝗺 𝗔𝗻-𝗡𝗮𝘄𝗮𝘄𝗶 (𝘄. 𝟲𝟳𝟲 𝗛) – Dalam Al-Tibyan fi Adab Hamalat al-Qur’an:
“Dimakruhkan mengangkat suara ketika membaca Al-Qur’an jika sampai mengganggu orang lain yang shalat, tidur, atau membaca Al-Qur’an juga.”
𝟮. 𝗜𝗯𝗻𝘂 𝗧𝗮𝗶𝗺𝗶𝘆𝗮𝗵 (𝘄. 𝟳𝟮𝟴 𝗛) – Dalam Majmu’ Fatawa:
“Tidak sepantasnya seseorang menjadikan ibadahnya sebab mengganggu orang lain. Bahkan Nabi ﷺ melarang mengganggu sesama dalam ibadah, baik dengan suara keras atau perbuatan.”
𝟯. 𝗜𝗺𝗮𝗺 𝗠𝗮𝗹𝗶𝗸 (𝘄. 𝟭𝟳𝟵 𝗛) – Dalam Al-Mudawwanah:
“Aku tidak menyukai hal itu. Hendaknya ia membaca untuk dirinya, bukan membuat gaduh.”
𝟰. 𝗦𝘆𝗮𝗶𝗸𝗵 𝗕𝗶𝗻 𝗕𝗮𝘇 (𝘄. 𝟭𝟰𝟮𝟬 𝗛):
“Tidak boleh menggunakan pengeras suara di luar masjid untuk bacaan Qur’an atau zikir, karena itu mengganggu tetangga masjid dan jamaah lain. Cukup untuk shalat dan khutbah.”
𝟱. 𝗦𝘆𝗮𝗶𝗸𝗵 𝗔𝗹-𝗔𝗹𝗯𝗮𝗻𝗶 (𝘄. 𝟭𝟰𝟮𝟬 𝗛)– Dalam Al-Silsilah al-Sahihah:
“Zikir berjamaah dengan suara keras tidak ada tuntunannya dari Nabi ﷺ, bahkan bertentangan dengan sunnah.”
𝗜𝗹𝗺𝘂 𝗦𝘂𝗻𝗻𝗮𝗵 𝗬𝗮𝗻𝗴 𝗛𝗮𝗿𝘂𝘀 𝗛𝗶𝗱𝘂𝗽 𝗗𝗶 𝗠𝗮𝘀𝗷𝗶𝗱
- 𝗜𝗯𝗮𝗱𝗮𝗵 – shalat, tilawah Qur’an, dzikir khusyuk.
- 𝗔𝗸𝗵𝗹𝗮𝗾 – adab berbicara, adab mendengar, adab berjamaah.
- 𝗜𝗹𝗺𝘂 – tafsir, hadits, fiqh, sirah Nabawiyah.
- 𝗧𝗮𝗿𝗯𝗶𝘆𝗮𝗵 – mendidik anak-anak & pemuda dengan manhaj Qur’an & Sunnah.
- 𝗦𝗼𝘀𝗶𝗮𝗹 – solidaritas, zakat, infaq, gotong royong umat.
- 𝗘𝗸𝗼𝗻𝗼𝗺𝗶 – pengelolaan dana umat sesuai syariah, bebas riba.
- 𝗣𝗼𝗹𝗶𝘁𝗶𝗸 𝗜𝘀𝗹𝗮𝗺 – membimbing umat agar sadar pentingnya kepemimpinan Islam (khilafah / imamah), menolak tirani, dan beramar ma’ruf nahi munkar terhadap penguasa zalim.
𝗣𝗼𝗹𝗶𝘁𝗶𝗸 𝗜𝘀𝗹𝗮𝗺 = 𝗔𝗱𝗮𝗯 𝗠𝗲𝗻𝗮𝘁𝗮 𝗨𝗺𝗮𝘁
Rasulullah ﷺ bersabda:
“𝗗𝗮𝗵𝘂𝗹𝘂 𝗕𝗮𝗻𝗶 𝗜𝘀𝗿𝗮𝗶𝗹 𝗱𝗶𝘂𝗿𝘂𝘀 𝗼𝗹𝗲𝗵 𝗽𝗮𝗿𝗮 𝗻𝗮𝗯𝗶. 𝗦𝗲𝘁𝗶𝗮𝗽 𝗸𝗮𝗹𝗶 𝘀𝗲𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗻𝗮𝗯𝗶 𝘄𝗮𝗳𝗮𝘁, 𝗱𝗶𝗴𝗮𝗻𝘁𝗶 𝗼𝗹𝗲𝗵 𝗻𝗮𝗯𝗶 𝗹𝗮𝗶𝗻. 𝗦𝗲𝘀𝘂𝗻𝗴𝗴𝘂𝗵𝗻𝘆𝗮 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗮𝗱𝗮 𝗻𝗮𝗯𝗶 𝘀𝗲𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵𝗸𝘂, 𝘁𝗲𝘁𝗮𝗽𝗶 𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗮𝗱𝗮 𝗯𝗮𝗻𝘆𝗮𝗸 𝗸𝗵𝗮𝗹𝗶𝗳𝗮𝗵.”
(HR. Bukhari-Muslim)
Hadits ini menegaskan bahwa kepemimpinan (politik) setelah Nabi ﷺ adalah bagian dari sunnah.
Imam Al-Mawardi (w. 450 H) dalam Al-Ahkām as-Sulthāniyyah menulis:
“Imamah (kepemimpinan Islam) ditegakkan untuk menggantikan kenabian dalam menjaga agama dan mengatur dunia dengan agama.”
Politik Islam = menjaga agama + mengatur dunia dengan syariat.
𝗞𝗲𝘀𝗶𝗺𝗽𝘂𝗹𝗮𝗻 𝗜𝗹𝗺𝗶𝗮𝗵
Bacaan Qur’an & zikir harus dengan tartil, pelan, dan khusyuk.
Sunnah yang benar adalah menghidupkan masjid dengan ilmu & tarbiyah, bukan dengan kebisingan.
Politik Islam adalah bagian dari sunnah untuk menjaga agama & mengatur dunia.
Masjid harus kembali menjadi pusat peradaban Islam: ibadah, ilmu, sosial, ekonomi, dan politik.
𝗦𝗲𝗿𝘂𝗮𝗻
Jadikan masjid:
𝗣𝘂𝘀𝗮𝘁 𝗶𝗹𝗺𝘂 𝘀𝘂𝗻𝗻𝗮𝗵
𝗧𝗲𝗺𝗽𝗮𝘁 𝗶𝗯𝗮𝗱𝗮𝗵 𝗸𝗵𝘂𝘀𝘆𝘂𝗸
𝗦𝘂𝗺𝗯𝗲𝗿 𝗸𝗲𝘁𝗲𝗻𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝘂𝗺𝗮𝘁
𝗝𝗮𝗻𝘁𝘂𝗻𝗴 𝗽𝗲𝗿𝗮𝗱𝗮𝗯𝗮𝗻 𝗶𝘀𝗹𝗮𝗺
Tanpa adab sunnah → masjid bising & kosong makna.
Dengan adab sunnah → masjid bercahaya & menguatkan umat.
“𝗠𝗮𝗿𝗶 𝗵𝗶𝗱𝘂𝗽𝗸𝗮𝗻 𝗺𝗮𝘀𝗷𝗶𝗱 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗻𝗻𝗮𝗵, 𝗶𝗹𝗺𝘂, 𝗱𝗮𝗻 𝗮𝗱𝗮𝗯! 𝗝𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗯𝗶𝗮𝗿𝗸𝗮𝗻 𝗺𝗮𝘀𝗷𝗶𝗱 𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗯𝗶𝘀𝗶𝗻𝗴 𝘁𝗮𝗻𝗽𝗮 𝗺𝗮𝗸𝗻𝗮, 𝘁𝗮𝗽𝗶 𝗷𝗮𝗱𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝘂𝘀𝗮𝘁 𝗶𝗹𝗺𝘂, 𝗱𝗮𝗸𝘄𝗮𝗵, 𝗱𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗷𝘂𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝘂𝗺𝗮𝘁.” (Rahmat Daily)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
