SURAU.CO. Riya adalah sebuah adalah perbuatan yang sangat berbahaya dalam ajaran Islam. Rasulullah saw. mewanti-wanti benar agak umatnya menjauhi perbuatan ini karena tergolong syirik kecil. Riya atau pamer adalah penyakit yang harus dihindari karena amal perbuatan akan menjadi sia-sia.
Secara istilah riya berakar dari bahasa Arab, “arriya’” kata ini mempunyai arti tampilan. Secara sederhananya, riya’ dapat bermakna menampilkan amal kebaikan kepada orang lain. Tujuannya jelas, agar mereka melihat dan kemudian memuji perbuatan tersebut. Masyarakat sering menyamakan riya dengan pamer. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pamer berarti menunjukkan sesuatu dengan maksud menampilkan kelebihan atau keunggulan diri. Tujuan tak lain adalah untuk menyombongkan diri. Namun riya bukan sekedar pamer biasa akan tetapi penyakit hati yang sangat berbahaya yang mengancam keikhlasan amal ibadah seseorang.
Riya dalam Pandangan Ulama
Rasulullah SAW mengingatkan kita tentang bahaya penyakit ini. Beliau bersabda, “Sebenarnya sesuatu yang paling aku takutkan terjadi pada kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat kemudian bertanya, “Apa itu syirik kecil, wahai Rasulullah SAW?” Beliau menjawab, “Riya’!” Allah SWT akan berfirman pada Hari Kiamat kepada mereka yang riya. “Pergilah kalian kepada orang-orang yang terlebih dahulu di dunia kalian riya. Apakah kalian mendapatkan ganjaran dari mereka?” (HR.Ahmad).
Sementara itu ulama bernama syekh Abu Ja’far guru dari sufi besar abad ke-3 H, al-Muhasibi menyebut riya’ sebagai kecintaan seseorang terhadap pujian. Selain itu riya adalah penyakit hati yang dapat menyerang siapa saja, termasuk orang yang taat dalam beragama dan beribadah. Menurutnya penyakit ini merusak bahkan menghancurkan nilai amal ibadah meski dengan baik. Semuanya menjadi sia-sia karena sikap riya’ ini. Mereka tidak akan mendapatkan balasan dari Allah dan tidak merasakan hasil atau buah dari amalannya. Ini berlaku baik di dunia maupun di akhirat.
Macam- Macam Riya
Sedangkan Syekh Nawawi Al Bantani dalam kitabnya “Maraqil Ubudiyyah” membagi riya menjadi lima macam. Pembagian ini menunjukkan betapa luasnya cakupan riya yang tidak hanya terbatas pada masalah agama saja. Kelima sikap riya itu adalah
Pertama,riya dalam masalah agama dengan menampakkan anggota badan. Contohnya adalah menampakkan tubuh kurus dan pucat dengan tujuan ingin menunjukkan sedikit makan. Wajahnya menunjukkan kurang tidur di malam hari agar dianggap sebagai orang alim. Kedua,riya dengan penampilan dan pakaian. Misalnya orang yang menggunakan barang bermerek agar mendapatkan pujian dan dianggap sebagai orang kaya raya.
Ketiga,riya dengan kata. Contohnya adalah mengucapkan kata-kata bijak, menggerakkan bibir saat berdzikir di hadapan banyak orang. Perbuatan baik ini bisa menjadi buruk jika niatnya salah. Bahkan dapat menjadi perbuatan dosa. Keempat,riya dengan amal perbuatan. Misalnya, menampakkan kekhusyukan saat shalat. Perbuatan ini baik sebenarnya akan tetapi bisa terjerumus dalam riya karena niat yang salah. Kelima,riya kepada teman, para tamu, dan manusia pada umumnya.Contohnya seperti orang yang sering menyebut nama para ulama atau guru. Ini agar dikatakan banyak yang memiliki guru. Ia juga ingin mengatakan banyak belajar dari mereka. Perbuatan baik jika niatnya salah tidak akan mendapatkan pahala.
Riya Jali dan Riya Khafi
Riya adalah penyakit hati yang sangat berbahaya. Ia merusak keikhlasan dan nilai amal ibadah. Untuk itu pastikan setiap amal perbuatan kita hanya mengharap ridho Allah SWT dengan menghindari segala bentuk pamer dan mencari pujian dari manusia. Keikhlasan adalah kunci melakukan amal
Dalam dunia tasawuf riya terbagi menjadi dua. Pertama Riya terang-terangan atau riya jali. Contohnya adalah melakukan ibadah dengan sengaja di hadapan orang lain agar mendapat pujian. Kedua riya halus atau riya khafi. Riya jenis lebih tersembunyi, yaitu ketika seseorang beribadah dalam kesendirian, tetapi di dalam hatinya tersirat harapan dan kerinduan agar orang lain mengetahui dan menyanjungnya. Riya jenis ini bahkan bisa muncul saat seseorang membantu sesama, bukan karena kasih sayang, melainkan karena ingin dianggap dermawan.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
