SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Khazanah
Beranda » Berita » Orang Kesepuluh yang Dijamin Surga : Dialah Abdullah ibn Salam

Orang Kesepuluh yang Dijamin Surga : Dialah Abdullah ibn Salam

Ilustrasi masuknya rombongan muslim ke suatu kota.
Ilustrasi masuknya rombongan muslim ke suatu kota.

SURAU.CO-Abdullah ibn Salam adalah sahabat Nabi keturunan Israil yang kemudian menjadi Anshar. Ia berasal dari Bani Qaynuqa, salah satu kelompok Yahudi Madinah. Sebelum masuk Islam, Abdullah ibn Salam, yang memiliki nama asli al-Ḥuṣayn, ia terkenal sebagai seorang alim dan pemimpin kaum Yahudi. Setelah bersyahadat, Nabi Saw. mengganti namanya menjadi Abdullah. Ia mahsyur memiliki pengetahuan agama yang luas, termasuk sifat-sifat, nama, ciri, dan waktu datangnya nabi akhir zaman yang akan lahir dari tanah Arab. Faktanya, kaum Yahudi sendiri menanti-nantikan kedatangan nabi akhir zaman itu. Namun, mereka kecewa karena nabi yang Allah janjikan itu tidak berasal dari anak keturunan mereka, melainkan dari bangsa Arab yang mereka anggap tidak lebih beradab daripada mereka.

Memperoleh Kepastian dari Puncak Kurma

Pada suatu hari, Abdullah ibn Salam berada di puncak salah satu pohon kurmanya. Ketika melihat kedatangan Rasulullah Saw. dan sahabatnya, Abu Bakar, ia berseru gembira, “Allahu Akbar!”

Sementara itu, Khalidah bint al-Harits, bibinya, bertanya,

“Demi Allah, mendengar teriakkanmu, seakan-akan aku mendengar kabar kedatangan Musa ibn Imran. Keponakanku, mengapa kau berteriak seperti itu?”

Dengan rona muka yang bahagia, Abdullah ibn Salam segera turun dari pohon itu dan berkata kepada bibinya,

Pendapat Empat Mazhab tentang Shalat Menghadap Kuburan

“Bibi, ia memang saudaranya Musa, yang diutus oleh zat yang juga mengutus Musa. Itulah yang  Taurat katakan.”

Ia menegaskan, “Benar,” bahwa Muhammad adalah nabi yang dikabarkan dalam Taurat dan diutus saat ini. Kebahagiaan tampak memancar dari wajah Ibn Salam. Penantian lama akan segera terpuaskan dengan perjumpaan yang sarat rasa bahagia. Sebentar lagi ia akan menjumpai Rasulullah Muhammad Saw. untuk menyatakan keislamannya.

Menguji Pengakuan dan Pembangkangan Kaum Yahudi

Karena selama ini terkenal sebagai seorang ulama dan pemimpin Yahudi, Abdullah ibn Salam awalnya tidak menunjukkan terang-terangan keislamannya. Namun, kecintaannya pada Islam terus mendorongnya untuk menyatakan keislamannya secara terus terang dan mengajak kaumnya. Oleh karena itu, pada suatu hari ia menghadap kepada Rasulullah Saw.  dan menjelaskan bahwa kaum Yahudi adalah kaum yang bengal dan pendusta. Ia meminta kepada Rasulullah Saw. untuk menyembunyikannya di sebuah kamar untuk menguji reaksi kaumnya.

Abdullah ibn Salam bersembunyi di kamar, dan Rasulullah Saw. mengundang beberapa pemimpin Yahudi. Setelah mereka tiba, Rasulullah bertanya, “Apakah di antara kalian ada yang bernama al-Ḥuṣayn ibn Salam?” Mereka menjawab yakin, “Ia tuan kami… Ia adalah pemuka agama kami dan seorang alim di antara kami.”

Melihat reaksi itu, Abdullah ibn Salam keluar dan berkata,

Menikmati Lelah dalam Ibadah Ramadhan: Jalan Menuju Kemuliaan di Sisi Allah

“Wahai kaum Yahudi, sesungguhnya kalian mengetahui kebenaran Muhammad… Semua itu telah tertulis jelas dalam kitab suci kalian.”

Dusta Kaum Yahudi dan Peneguhan Wahyu

Para pemimpin Yahudi itu kaget bukan kepalang. Mereka menarik kembali ucapan mereka tentang Ibn Salam. Ketika keraguan dan ketakjuban masih melanda mereka, Abdullah ibn Salam menyempurnakan ucapannya,

“Sedangkan aku, saksikanlah, aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Dakwahnya adalah kebenaran. Tidakkah kalian berislam?”

Kaum Yahudi itu murka dan mencela Ibn Salam, “Engkau pendusta… Engkau adalah kejahatan… kebodohan.” Peristiwa ini menunjukkan dusta dan pembangkangan mereka. Ibn Salam berkata kepada Rasulullah Saw.,

“Kaum Yahudi adalah kaum pembangkang yang bengal. Tidak ada keimanan sejati dalam diri mereka.”

Zakat, Infaq, Shodaqoh, dan Amal Jariyah

Tidak lama menunggu, Allah menurunkan ayat Al-Qur’an:

“Orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Alkitab mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 146)

Mendengar ayat itu dibacakan, Abdullah ibn Salam merasa sangat bahagia karena Ayat Tuhan itu meneguhkan hakikat yang telah dipegang teguh olehnya. Sebelum pulang, ia berkata kepada Rasulullah,

“Demi Allah, aku mengenalmu lebih banyak dan lebih dalam ketimbang anak-anak dan keluargaku.”

Perdebatan dan Pembelaan terhadap Khalifah Utsman

Sejak keislamannya, dimulailah diskusi, perdebatan, dan perbincangan yang seru antara kaum Yahudi dan kaum Muslimin.

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, ketika khalifah Utsman hendak dibunuh, Abdullah ibn Salam datang menemuinya untuk menolong. Khalifah Utsman  menyuruhnya keluar untuk menemui orang-orang yang mengepung rumahnya.

Abdullah ibn Salam keluar menemui para pengepung dan berkata,

“Hai Manusia, namaku sebelum Islam adalah al-Ḥuṣayn, lalu Rasulullah Saw. menamaiku Abdullah… Demi Allah, karena Allah, mengapa kalian hendak membunuh laki-laki ini (Khalifah Utsman)? Demi Allah, jika kalian membunuhnya, berarti kalian mengusir pendamping kalian, yakni para malaikat, dan pedang Allah yang selama ini disembunyikan dari kalian akan ditebaskan hingga takkan lagi disarungkan sampai hari kiamat.”

Mendengar ucapan Ibn Salam, mereka malah berteriak,

“Bunuh Yahudi itu! Dan bunuh Utsman!”

Wasiat Muaz ibn Jabal dan Kedudukan Abdullah ibn Salam di Surga

Diriwayatkan dari Yazid ibn Umairah bahwa ketika Muaz ibn Jabal mendekati ajalnya, seseorang berkata kepadanya, “Wahai Abu Abdurrahman, berwasiatlah kepada kami.”

Muaz berkata, “Dudukkan aku!”

Setelah itu ia berkata,

“Ilmu dan iman berada pada tempatnya, siapa saja yang mencarinya, niscaya akan meraihnya. Oleh karena itu, carilah ilmu pada empat tempat, yaitu Uwaimir Abu Darda, Salman al-Farisi, Abdullah ibn Mas‘ud, dan Abdullah ibn Salam, orang Yahudi yang memeluk Islam. Aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda: ‘Ia (Abdullah ibn Salam) adalah orang kesepuluh dari sepuluh orang di surga.’ ”

Abu Ahmad al-Askari mengatakan bahwa Abdullah ibn Salam wafat pada 43 Hijriah. Semoga Allah merahmatinya.(St.Diyar)

Referensi:Muhammad Raji Hasan Kinas, Ensiklopedia Biografi Sahabat Nabi, 2012


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.