SURAU.CO-Abdullah ibn Ruwahah adalah seorang sahabat Nabi Saw. dari kalangan Anshar, yang berasal dari suku Khazraj keturunan Bani Haritsah. Ia dikenal sebagai penyair ulung. Ayahnya bernama Haritsah ibn Tsa‘labah ibn Imri al-Qais, dan ibunya bernama Kabsyah bint Waqid. Ia punya beberapa nama panggilan, antara lain Abu Muhammad, Abu Ruwahah, dan Abu Amr.
Abdullah ibn Ruwahah termasuk di antara tiga penyair Rasulullah; dua orang lainnya adalah Ka‘b ibn Malik dan Hassan ibn Tsabit—keduanya pun orang Anshar. Abdullah ibn Ruwahah memeluk Islam setelah mendengarkan bacaan Al-Qur’an dari Mush‘ab ibn Umair. Dikisahkan, suatu hari secara tak sengaja ia mendengar Mush‘ab membacakan ayat-ayat Al-Qur’an dan menjelaskan ajaran-ajaran Islam. Ia tertarik mendengar penjelasannya dan merasa tak dapat memungkiri kebenaran Islam. Ia sangat yakin bahwa apa yang didengarnya sangat layak untuk dimuliakan. Ketertarikan itu menuntunnya menemui Mush‘ab untuk menyatakan keislamannya. Sejak saat itulah ia kerap menghadiri majelis ilmu yang digelar oleh Mush‘ab ibn Umair, tempat ia menemukan ketenangan dan ketenteraman.
Baiat Aqabah dan dukungan terhadap risalah Nabi
Bersama 70 laki-laki dan dua wanita Muslim, Abdullah ikut berangkat ke Makkah dan menyatakan sumpah setia kepada Rasulullah Saw di Aqabah. Baiat itu menegaskan janji yang telah mereka ucapkan di hadapan Mush‘ab ibn Umair. Mereka memang telah berencana untuk menemui Rasulullah pada musim haji tahun itu, tepatnya pada pertengahan hari-hari tasyriq.
Di sela-sela pertemuan tersebut, Rasulullah Saw. memerintahkan agar mereka memilih dua belas pimpinan, tiga orang dari suku Aus dan sembilan orang dari suku Khazraj. Abdullah ibn Ruwahah salah satunya. Dalam pertemuan itu, mereka menyatakan janji setia kepada Nabi Muhammad, dan kesediaan mereka untuk melindungi serta membantu beliau. Usai pertemuan, mereka kembali ke Madinah untuk mengajarkan Islam kepada keluarga dan kaum masing-masing. Sejak saat itu, kaum Muslim di Madinah terus menunggu kedatangan Rasulullah setiap saat. Ketika beliau tiba di Madinah bersama Abu Bakar , seluruh penduduk Madinah, lelaki maupun perempuan, tua maupun muda, begitu juga anak-anak, berhamburan ke gerbang Madinah untuk menyambut beliau. Mereka berbaur menyambut kedatangan sang tamu agung. Hari itu adalah hari paling bersejarah bagi penduduk Madinah.
Kekuatan syair melebihi senjata
Nabi Muhammad pernah bersabda kepada Abdullah ibn Ruwahah dan kedua sahabatnya sesama penyair (Ka‘b ibn Malik dan Hassan ibn Tsabit),
“Bantahlah kaum Quraisy. Sungguh, bantahan kalian itu berpengaruh bagi mereka melebihi tusukan tombak.”
Ucapan Rasulullah Saw itu membuat mereka berbinar-binar bahagia. Dengan segala kecakapan, mereka berupaya menaati perintah beliau.
Sebagai buktinya, pada suatu hari, saat bertemu Rasulullah Saw., Abdullah ibn Ruwahah melantunkan syair:
Duhai keturunan Hisyam termulia, Allah mengutamakanmu atas semua makhluk dan tak ada yang bisa membandingimu…
Mendengar lantunan syair tersebut, Rasulullah Saw. merasa senang dan bersabda kepada Abdullah,
“Semoga Allah meneguhkanmu.”
Terkait peran penyair, ketika mendengar firman Allah tentang kesesatan penggubah syair, Abdullah mendatangi Rasulullah Saw. dan berkata,
“Wahai Rasulullah, Allah mengetahui bahwa aku salah satu dari mereka (para penyair yang dusta).”
Ia bertekad tidak akan lagi bersyair. Namun, Rasulullah Saw. membacakan firman Allah berikutnya yang memberi pengecualian bagi penyair yang beriman dan beramal saleh (QS. Asy-Syu‘arā: 227).
Kesalehan pada Perang Badar
Abdullah ibn Ruwahah juga terkenal sebagai sahabat yang sangat takwa dan wara’. Ia juga mumpuni dalam urusan berkuda dan bertarung. Ketangguhan dan ketangkasannya sangat terkenal dalam setiap medan perang. Pada Perang Badar, ia dan kedua putra Afra berderap maju untuk meladeni tantangan duel dari pemuka musyrik.
Selain Perang Badar, Abdullah ibn Ruwahah juga turut serta dalam peperangan lain, termasuk Perang Uhud, Khandaq, Hudaibiyah, dan Khaibar. Ketika Rasulullah Saw. melaksanakan ‘umratul qaḍā’, ia yang menuntun tali kekang unta beliau sambil melantunkan syair yang memuji dan mengancam kaum kafir, sehingga memicu teguran dari Umar ibn al-Khattab. Mendengar teguran Umar, Rasulullah Saw bersabda,
“Biarkan dia, hai Umar! Demi Zat yang menguasai diriku, perkataannya lebih tajam dan lebih membekas atas mereka (kaum Quraisy) melebihi tikaman tombak.”
(St.Diyar)
Referensi:Muhammad Raji Hasan Kinas, Ensiklopedia Biografi Sahabat Nabi, 2012
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
