SURAU.CO – Dalam hidup ini, sering kali manusia terjebak pada hiruk-pikuk urusan dunia. Kita berlari mengejar harta, jabatan, dan pengakuan, seakan-akan dunia adalah tujuan akhir. Padahal, sebagaimana diingatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, keseimbangan hidup justru terletak pada cara kita mendahulukan akhirat.
Beliau berkata:
“Engkau membutuhkan dunia, namun kebutuhanmu terhadap bagianmu di akhirat lebih besar. Jika engkau mendahulukan bagianmu di akhirat, maka bagianmu di dunia akan mengikutinya dengan teratur.”
(Majmu’ Fatawa 10/663)
Kalimat ini bukan sekadar nasihat moral, tetapi panduan hidup spiritual. Ia mengajarkan bahwa dunia dan akhirat bukan dua jalan yang saling meniadakan, melainkan dua arah yang bertemu di satu tujuan — ridha Allah.
Dunia Adalah Jalan, Bukan Tujuan
Kita memang membutuhkan dunia: makan, pakaian, rumah, kendaraan, pekerjaan, dan pendidikan. Namun semua itu hanyalah wasilah (sarana), bukan ghayah (tujuan). Dunia bukan tempat tinggal, tapi tempat singgah sementara. Maka, jangan sampai dunia membuat kita lupa arah pulang.
Ketika Rasulullah ﷺ bersabda:
> “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang pengembara.”
(HR. Bukhari)
Beliau mengingatkan agar hati tidak melekat pada dunia. Karena yang menetap di dunia akan kecewa, tetapi yang menyiapkan diri untuk akhirat akan tenang.
Mendahulukan Akhirat Bukan Berarti Meninggalkan Dunia
Sebagian orang salah paham, mengira mendahulukan akhirat berarti meninggalkan pekerjaan, bisnis, atau pendidikan. Padahal, yang dimaksud adalah menata niat dan prioritas.
Kita boleh bekerja keras, tetapi bukan untuk kesombongan. Juga kita boleh kaya, tapi bukan untuk menumpuk harta. Kita boleh berambisi, tapi ambisi itu harus mengarah pada keberkahan dan ridha Allah.
Allah berfirman:
> “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.”
(QS. Al-Qashash: 77)
Ayat ini menegaskan keseimbangan: dunia jangan dilupakan, tapi akhirat jangan diabaikan.
Ketika Akhirat Menjadi Prioritas, Dunia Akan Mengikut
Banyak orang mengira bahwa dengan mengejar dunia, ia akan mendapatkannya. Namun realitasnya, dunia sering lari dari mereka yang mengejarnya tanpa arah. Sebaliknya, mereka yang fokus pada ibadah, kejujuran, dan kebaikan, justru mendapati dunia mendatangi mereka dengan cara yang tak disangka.
Rasulullah ﷺ bersabda:
> “Barang siapa menjadikan akhirat sebagai tujuan utamanya, maka Allah akan menjadikan kekayaan di hatinya, mengatur urusannya, dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan tunduk. Namun barang siapa menjadikan dunia sebagai tujuannya, maka Allah akan menjadikan kemiskinan di depan matanya, mencerai-beraikan urusannya, dan dunia tidak akan datang kepadanya kecuali yang telah ditetapkan baginya.”
(HR. Tirmidzi)
Inilah janji Rasulullah ﷺ: ketika akhirat menjadi pusat perhatian, dunia akan mengalir dengan teratur — bukan liar, bukan membebani, tetapi menenangkan.
Dunia yang Mengikuti Adalah Dunia yang Berkah
Dunia yang datang kepada orang beriman bukan karena tipu daya, melainkan karena keberkahan.
Ia tidak membuat pemiliknya sombong, tapi semakin tunduk. Ia tidak menambah angkuh, tapi menambah syukur.
Ketika seseorang menata akhiratnya — memperbaiki salat, memperbanyak sedekah, menjaga amanah, menebar manfaat — maka Allah menata pula urusan dunianya: rezeki datang dari arah yang tak disangka, hati tenang, dan hidup penuh makna.
Refleksi Hidup: Apa yang Kita Dahulukan Hari Ini?
Mari kita bertanya pada diri sendiri:
Apakah waktu kita lebih banyak untuk dunia, atau untuk akhirat?
Apakah ambisi kita diarahkan untuk ridha Allah, atau hanya untuk pujian manusia?
Ingatlah, dunia ini fana. Harta akan habis, jabatan akan berganti, dan popularitas akan sirna. Namun amal shalih yang dilakukan karena Allah akan kekal.
Langkah Praktis Mendahulukan Akhirat di Tengah Dunia Modern
Niatkan setiap aktivitas dunia untuk mencari ridha Allah.
Sisihkan waktu khusus setiap hari untuk tilawah, dzikir, dan ilmu agama.
Jadikan keputusan hidup berdasarkan manfaat akhirat, bukan sekadar keuntungan materi.
Berinteraksi di media sosial dengan akhlak Islami, bukan emosi.
Gunakan rezeki untuk menolong, bukan sekadar memamerkan.
Penutup
Hidup ini bukan tentang siapa yang paling cepat mencapai kesuksesan dunia, tapi siapa yang paling benar arah perjalanannya menuju akhirat. Maka, dahulukan akhiratmu, dan engkau akan melihat dunia berbaris mengikuti dengan tertib — bukan karena engkau mengejarnya, tapi karena Allah menundukkannya untukmu.
Sebagaimana nasihat indah Ibnu Taimiyah rahimahullah:
“Jika engkau mendahulukan bagianmu di akhirat, maka bagianmu di dunia akan mengikutinya dengan teratur.”
Semoga kita termasuk orang-orang yang menata dunianya dengan cahaya akhirat, dan menjemput surga dengan bekal amal yang tulus.
اللهم اجعلنا من أهل الآخرة، ولا تجعل الدنيا أكبر همنا.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin. (Tengku Iskandar, M. Pd – Duta Literasi Pena Da’i Nusantara Provinsi Sumatera Barat
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
