Melancholia bukan istilah baru. Sejak abad ke-9, Abu Bakr Muhammad ibn Zakariyyā al-Rāzī—dokter besar dari dunia Islam klasik—sudah menyinggungnya dalam karya monumentalnya, Kitāb al-Ḥāwī fī al-ṭibb (Ensiklopedia Kedokteran). Frasa kunci “Melancholia dalam Kitāb al-Ḥāwī” menjadi penting bukan hanya bagi sejarawan, tetapi juga bagi kita hari ini yang hidup di tengah krisis kesehatan mental. Menariknya, al-Rāzī tidak sekadar menulis resep, ia membaca jiwa manusia, mencoba memahami perasaan gelap, dan memberi ruang bagi pasien untuk tetap dihormati.
Mengurai Kegelapan Jiwa dalam Narasi Abad ke-9
Bayangkan seorang pasien yang tampak murung berhari-hari, tubuhnya lesu, tidur terganggu, bahkan mulai mendengar bisikan aneh. Dalam keseharian kita, kondisi ini mirip dengan depresi modern. Al-Rāzī menyebutnya malankhūliyā—melancholia. Ia menulis:
«الميلانخوليا هو مرض يحدث من غلبة السوداء في الدماغ فيُولّد أفكارًا فاسدة وخيالات مظلمة»
“Melancholia adalah penyakit yang terjadi karena dominasi empedu hitam dalam otak sehingga menimbulkan pikiran rusak dan bayangan-bayangan kelam.”
Narasi ini sederhana tetapi dalam. Ia menghubungkan tubuh dan jiwa, darah dan pikiran, tanpa mengabaikan aspek kemanusiaan pasien.
Melancholia dan Fenomena Sehari-hari
Seberapa sering kita mendengar orang berkata, “Aku merasa kosong,” atau “Aku seperti hidup dalam kabut”? Al-Rāzī melihat fenomena itu jauh sebelum istilah “depresi” lahir. Ia mengingatkan bahwa rasa murung bukanlah kelemahan iman semata, melainkan kondisi medis yang butuh perhatian.
Dalam Kitāb al-Ḥāwī, ia menulis:
«قد يظنّ أهل المريض أنّه مصاب بالجنون، وهو في الحقيقة ميلانخوليا إذا نظر الطبيب في علاماته»
“Sering keluarga pasien mengira ia terkena kegilaan, padahal sesungguhnya ia menderita melancholia, jika dokter meneliti tanda-tandanya.”
Betapa relevannya kalimat ini dengan stigma hari ini. Berapa banyak keluarga yang masih menganggap depresi sekadar kurang ibadah atau lemah hati?
Panduan Terapi: Antara Obat dan Perhatian
Al-Rāzī bukan hanya ahli teori. Ia merawat pasien di bīmāristān (rumah sakit Islam) dengan penuh perhatian. Resepnya kadang terdengar sederhana: menjaga pola makan, mengurangi makanan berat, serta ramuan herbal untuk menyeimbangkan humor tubuh.
Ia menulis:
«علاج الميلانخوليا يكون بالتخفيف من الأغذية الكثيفة، واستعمال المسهلات، مع تسلية المريض وإشغاله بما يُسرّه»
“Pengobatan melancholia dilakukan dengan mengurangi makanan yang berat, menggunakan obat pencahar, disertai hiburan dan keterlibatan pasien dengan hal-hal yang menyenangkannya.”
Di sini kita menemukan sentuhan humanistik: pasien bukan hanya tubuh, melainkan jiwa yang butuh hiburan, percakapan, dan perhatian. Jika ditarik ke masa kini, ini mirip kombinasi terapi medis dan konseling.
Membaca Jiwa dengan Kelembutan
Menarik bahwa al-Rāzī tidak pernah menggambarkan pasiennya sebagai “beban”. Justru ia menekankan bahwa dokter harus sabar dan menghormati penderita.
«على الطبيب أن يرفق بالمريض ولا يزيده همًّا، فإنّ الرفق يُذهب شدّة السوداء»
“Seorang dokter harus lembut kepada pasien dan tidak menambah kesusahannya, sebab kelembutan dapat mengurangi dominasi empedu hitam.”
Ini bukan sekadar instruksi medis, melainkan etika. Bahkan 1.100 tahun lalu, ia sudah menekankan empati sebagai bagian dari terapi.
Cahaya Harapan dalam Tradisi Islam
Al-Rāzī hidup di dunia yang sangat dipengaruhi teori humor Yunani, tetapi ia memberi warna Islam pada pendekatannya. Al-Qur’an sendiri mengajarkan bahwa hati manusia bisa sakit dan bisa pula sembuh dengan cahaya iman.
Allah berfirman:
﴿ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ﴾ (QS. al-Ra‘d [13]: 28)
“Ketahuilah, dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
Ayat ini memberi kita keseimbangan: pengobatan medis penting, tetapi ketenangan spiritual juga bagian dari penyembuhan.
Relevansi untuk Kita Hari Ini
Di zaman modern, kita mengenal depresi, gangguan kecemasan, bahkan burnout. Al-Rāzī tidak mengenal istilah-istilah itu, tetapi ia sudah menulis tentang pikiran gelap, delusi, insomnia, dan rasa putus asa.
Kita belajar darinya dua hal:
- Ilmu medis harus berdampingan dengan empati.
- Gangguan jiwa bukan aib, melainkan kondisi manusiawi yang perlu dirawat.
Jika masyarakat abad ke-9 saja sudah memiliki rumah sakit jiwa dengan pendekatan hormat, bukankah seharusnya kita lebih maju dalam menyingkirkan stigma?
Kesimpulan
Melancholia dalam Kitāb al-Ḥāwī bukan sekadar bab tentang penyakit, tetapi sebuah seni membaca jiwa. Al-Rāzī menulis dengan hati: ia melihat pasiennya bukan hanya tubuh yang sakit, melainkan manusia yang butuh dipahami.
Di tengah krisis kesehatan mental global hari ini, warisan al-Rāzī menjadi pengingat bahwa sains dan kemanusiaan harus berjalan beriringan. Melancholia bukan sekadar istilah kuno, melainkan cermin abadi tentang rapuh dan kuatnya jiwa manusia.
*Sugianto Al-Jawi
Budayawan Kontenporer Tulungagung
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
