Khazanah
Beranda » Berita » Menghidupkan Amar Makruf Nahi Mungkar di Era Modern

Menghidupkan Amar Makruf Nahi Mungkar di Era Modern

Menghidupkan Amar Makruf Nahi Mungkar di Era Modern

SURAU.CO – Setiap muslim menyadari bahwa kebenaran adalah landasan utama dalam kehidupan. Tanpa kebenaran, hidup akan mudah dipenuhi kebatilan, kepalsuan, dan penyesatan. Namun, mengatakan kebenaran sering kali terasa pahit. Tidak jarang, orang yang berani berkata benar harus menghadapi risiko kehilangan harta, jabatan, atau bahkan nyawanya. Inilah makna sabda Rasulullah ﷺ: “Katakanlah yang benar meskipun itu pahit.”

Belajar dari Peristiwa Uhud

Al-Qur’an merekam peristiwa yang penuh pelajaran di medan Uhud. Allah ﷻ berfirman:

Ketika dua golongan dari pihak kamu ingin (mundur) karena takut, padahal Allah adalah penolong mereka. Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal.” (QS. Ali ‘Imran : 122)

Ayat ini menggambarkan kelemahan sebagian sahabat Nabi ketika godaan rasa takut hampir membuat mereka mundur. Bani Salamah dan Bani Haritsah sempat berkumpul untuk meninggalkan barisan. Setan membisikkan keraguan, padahal mereka sedang membujuk bersama Rasulullah ﷺ. Namun, Allah meneguhkan hati mereka sehingga mereka tetap bertahan.

Pelajaran ini sangat jelas. Jika di zaman Rasul saja ada orang yang sempat ragu, apalagi di zaman kita sekarang. Keimanan yang lemah sering membuat manusia lebih takut kehilangan dunia dibandingkan kehilangan ridha Allah.

Membangun Narasi Persatuan di Tengah Polarisasi: Belajar dari Kitab Al-Fashl Ibnu Hazm

Ujian Keberanian dalam Sejarah

Tidak hanya umat Nabi Muhammad ﷺ yang diuji keberaniannya. Nabi Musa ‘alaihis salam pun menghadapi ujian. Beliau berdiri dengan jumlah pengikut yang sangat sedikit, sementara di hadapannya berdiri Firaun dengan kekuatan besar. Secara logika, kemenangan Musa hampir mustahil. Namun, beliau tetap menyampaikan kebenaran kepada penguasa zalim.

Begitu pula umat Islam pada masa awal. Mereka berhubungan dengan risiko kehilangan nyawa dan harta di medan menghadapi perang demi mempertahankan akidah. Mereka berangkat bukan karena mencari kemuliaan dunia, melainkan karena yakin bahwa Allah adalah penolong mereka.

Zaman Sekarang: Risiko yang Berbeda

Di masa kini, umat Islam tidak lagi tampil dengan pedang seperti di Uhud. Namun, tantangan untuk menyuarakan kebenaran tetap ada. Risiko yang dihadapi bisa berupa hilangnya jabatan, terancamnya rezeki, atau kehilangan kenyamanan hidup. Banyak orang yang enggan bersuara karena khawatir dikucilkan atau mendapat sanksi sosial.

Padahal Allah telah mengingatkan:

Dan hendaknya di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali ‘Imran : 104)

Politik Harapan: Menggerakkan Perubahan Tanpa Kekerasan melalui Keteguhan Iman

Ayat ini menegaskan bahwa umat Islam tidak boleh diam. Harus ada yang berani menyuarakan kebenaran, meski terasa pahit. Tanpa itu, kebatilan akan semakin kuat dan umat akan terjebak dalam arus kesesatan.

Menghapus Kebatilan dengan Kebenaran

Kebenaran merupkan kekuatan yang mampu menghapus kebatilan. Allah ﷻ berfirman:

Agar Allah memperkuat yang hak (Islam) dan menghilangkan yang batil (syirik) walaupun orang-orang yang berdosa itu tidak menyukainya.” (QS. Al-Anfal : 8)

Inilah janji Allah. Kebatilan pasti runtuh meskipun orang-orang musyrik, munafik, atau zalim berusaha menolaknya. Namun, Allah menguji hamba-hamba-Nya: siapa yang berani berdiri di pihak kebenaran, dan siapa yang memilih diam karena takut.

Kebenaran memang tidak selalu manis. Rasulullah ﷺ sudah mengingatkan dengan ungkapan:

Mengelola Konflik Kepentingan: Perspektif Maslahah Mursalah dalam Kitab Al-Ihkam karya Al-Amidi

Qulil haqqo walaupun kaana murro.”
Mengatakan itu benar, meskipun itu pahit.

Kalimat ini mengandung pesan yang mendalam. Terkadang kebenaran membuat seseorang kehilangan sahabat, jabatan, atau keuntungan. Namun, justru itulah ujian iman. Apakah seseorang lebih mencintai dunia atau ridha Allah?

Banyak orang yang memilih aman dengan diam. Namun, diam di hadapan kebatilan berarti membiarkan kebatilan tumbuh. Islam justru mengajarkan agar umatnya berani menegakkan amar makruf nahi mungkar.

Bekal Keimanan di Akhir Zaman

Kondisi zaman semakin sulit. Fitnah menyebar luas, kebatilan sering menjadi seolah-0lah kebenaran, dan kebenaran tampak asing. Pada situasi seperti ini, keberanian berkata benar menjadi bekal utama seorang muslim.

Rasulullah ﷺ pernah bersabda bahwa umat Islam di akhir zaman akan seperti manusia di lautan, jumlahnya banyak tetapi lemah. Salah satu penyebab kelemahan itu adalah ketakutan yang berlebihan di dunia. Mereka lebih mencintai dunia dan takut mati, sehingga tidak berani berkata benar.

Oleh karena itu, seorang muslim harus terus melatih dirinya. Ia perlu memperkuat iman, memperdalam ilmu, dan memperbanyak tawakal. Dengan demikian, ia mampu menegakkan kebenaran tanpa gentar pada risiko duniawi.

Allah ﷻ sudah memberi kunci agar umat-Nya tidak goyah. Dalam ayat Uhud disebutkan:

“Oleh karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin yang bertawakal.” (QS. Ali ‘Imran : 122)

Tawakal berarti menyerahkan hasil kepada Allah setelah berusaha secara maksimal. Seorang muslim yang bertawakal tidak takut pada makhluk, karena ia yakin bahwa semuanya berada dalam genggaman Allah.

Dengan tawakal, berkata benar tidak lagi terasa terlalu pahit. Justru akan terasa manis karena ia yakin sedang menunaikan amanah Allah.

Semoga Allah meneguhkan kita di atas kebenaran, melindungi dari bisikan setan, dan memberi kekuatan untuk berkata benar meskipun itu pahit. Karena pada akhirnya, kebenaranlah yang akan bertahan, sedangkan kebatilan akan musnah.

 


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.