SURAU.CO – 𝗣𝗲𝗻𝗱𝗮𝗵𝘂𝗹𝘂𝗮𝗻: Islam adalah agama paripurna yang mengatur seluruh aspek kehidupan: spiritual, sosial, ekonomi, politik, hingga strategi pertahanan. Rasulullah ﷺ telah menegaskan bahwa kekuatan umat Islam tidak hanya diukur dari jumlah, tetapi juga dari kualitas persiapan dan penguasaan sumber daya strategis. Salah satu aspek penting dari kekuatan ini adalah penguasaan perairan (laut).
Sejarah mencatat bahwa peradaban Islam pernah menjadi penguasa samudera, menebarkan dakwah hingga ke tiga benua. Namun, saat syariat dipisahkan dari politik dan negara-negaranya tunduk pada sistem sekuler warisan penjajah, umat Islam kehilangan kedaulatan maritim dan hanya menjadi objek eksploitasi.
𝗗𝗮𝗹𝗶𝗹 𝗔𝗹-𝗤𝘂𝗿’𝗮𝗻 𝘁𝗲𝗻𝘁𝗮𝗻𝗴 𝗞𝗲𝗸𝘂𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗠𝗮𝗿𝗶𝘁𝗶𝗺
Allah ﷻ berfirman:
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang, yang dengan persiapan itu kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu…”
(QS. Al-Anfal: 60)
Ayat ini bersifat menyeluruh, mencakup kekuatan darat, udara, maupun laut. Menguasai laut adalah bagian dari perintah syar’i untuk menyiapkan kekuatan yang menimbulkan rasa gentar pada musuh Allah.
Hadis Rasulullah ﷺ tentang Armada Laut
- Dari Ummu Haram binti Milhan r.a.:
“Orang-orang yang pertama kali dari umatku yang berlayar di lautan (untuk berjihad) telah pasti masuk surga.”
(HR. Bukhari no. 2788, Muslim no. 1912) -
Dari Abu Umamah r.a.:
“Pasukan yang berperang di laut seperti 10 kali lipat pasukan yang berperang di darat. Syahid di laut seperti dua syahid di darat…”
(HR. Abu Dawud no. 2493, Ibnu Majah no. 2778, hasan)
Hadis-hadis ini bukan sekadar kabar gembira, tetapi isyarat strategis bahwa umat Islam harus memiliki armada laut yang tangguh. https://www.facebook.com/share/19qCjHyXWN/
𝗦𝗲𝗷𝗮𝗿𝗮𝗵 𝗞𝗲𝗸𝘂𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗟𝗮𝘂𝘁 𝗜𝘀𝗹𝗮𝗺
Masa Khilafah Umayyah: berhasil membangun armada laut yang menandingi Bizantium, menguasai Laut Tengah, dan membuka jalur dakwah ke Andalusia.
Masa Abbasiyah & Utsmaniyah: armada laut menjadi poros perdagangan global, penghubung antar benua, dan benteng pertahanan. Armada Utsmani bahkan menguasai Laut Tengah hingga Laut Merah.
Fungsi Ganda Laut: bukan hanya sarana perang, tetapi juga dakwah, perdagangan, dan penyebaran ilmu.
𝗥𝗲𝗹𝗲𝘃𝗮𝗻𝘀𝗶 𝗔𝗸𝗵𝗶𝗿 𝗭𝗮𝗺𝗮𝗻: 𝗔𝗿𝗺𝗮𝗱𝗮 𝗟𝗮𝘂𝘁 𝘀𝗲𝗯𝗮𝗴𝗮𝗶 𝗣𝗲𝗻𝗴𝗵𝘂𝗯𝘂𝗻𝗴 𝗔𝗻𝘁𝗮𝗿 𝗕𝗲𝗻𝘂𝗮
Di era modern, hadis Rasulullah ﷺ tentang umat Islam yang berlayar di lautan sangat relevan:
±90% perdagangan dunia berjalan lewat laut.
Armada laut adalah alat dominasi geopolitik untuk menghubungkan Asia, Afrika, dan Eropa.
Tanpa kekuatan maritim di bawah kontrol kekuatan hukum Islam, umat Islam akan terus bergantung pada Barat dan Timur.
𝗦𝘆𝗮𝗿𝗶𝗮𝘁 𝗜𝘀𝗹𝗮𝗺 𝗱𝗮𝗻 𝗨𝗿𝗴𝗲𝗻𝘀𝗶 𝗣𝗼𝗹𝗶𝘁𝗶𝗸 𝗜𝘀𝗹𝗮𝗺
Syariat Islam tidak bisa dijauhkan dari politik. Jika dipisahkan, maka:
Umat Islam menjadi buta strategi dan kehilangan arah perjuangan.
Negara-negara Muslim hanya jadi pion dalam peta global.
Kekayaan melimpah tetap dieksploitasi asing.
Hari ini, demokrasi-sekuler yang dipaksakan penjajah masih bercokol di negeri-negeri Muslim. Sistem ini adalah warisan kolonial yang sengaja dirancang untuk memisahkan Islam dari kehidupan publik. Membiarkan demokrasi-sekuler mengatur negeri sama artinya dengan menyerahkan kembali kedaulatan umat kepada penjajah masa lalu dengan wajah baru.
𝗕𝘂𝗸𝘁𝗶 𝗞𝗼𝗻𝘁𝗲𝗺𝗽𝗼𝗿𝗲𝗿: 𝗜𝗻𝗱𝗼𝗻𝗲𝘀𝗶𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝗟𝗮𝘂𝘁 𝘀𝗲𝗯𝗮𝗴𝗮𝗶 𝗣𝗼𝗿𝗼𝘀 𝗠𝗮𝗿𝗶𝘁𝗶𝗺
Indonesia memiliki potensi maritim yang luar biasa:
Luas total perairan: ± 6,4 juta km².
Total wilayah NKRI (darat + laut): ± 8,3 juta km².
Panjang garis pantai: ± 108.000 km (terpanjang kedua di dunia setelah Kanada).
Jumlah pulau: ± 17.500 (sekitar 16.056 sudah diakui PBB).
(Data resmi: TNI AL – Pushidrosal & BIG)
Namun kenyataan hari ini:
Laut Indonesia menjadi jalur perdagangan global, tetapi keuntungan lebih banyak dinikmati asing.
Illegal fishing kapal asing menyebabkan kerugian miliaran dolar tiap tahun.
Pelabuhan strategis dijadikan proyek investasi asing, membuka peluang intervensi geopolitik.
Armada laut Indonesia lemah dalam menjaga kedaulatan.
𝗧𝗮𝗻𝗽𝗮 𝘀𝗶𝘀𝘁𝗲𝗺 𝗜𝘀𝗹𝗮𝗺, Indonesia dan negeri-negeri Muslim lain hanya akan jadi pasar dan lumbung sumber daya, bukan penguasa samudera.
𝗣𝗲𝗻𝘁𝗶𝗻𝗴𝗻𝘆𝗮 𝗦𝗶𝘀𝘁𝗲𝗺 𝗜𝘀𝗹𝗮𝗺
Apakah kita rela sistem demokrasi-sekuler terus melanggengkan penjajahan gaya baru?
Ataukah kita mau kembali ke sistem Islam yang pernah menjadikan umat ini pemimpin dunia, penguasa laut, dan rahmat bagi alam semesta?
Pentingnya sistem Islam bukan sekadar kajian akademis, tetapi panggilan iman. Islam adalah dien yang sempurna, mencakup politik, hukum, ekonomi, dan strategi militer. Tanpa Islam sebagai sistem, umat hanya akan terus diperalat musuh-musuhnya.
Diskusikan gerakan perubahan disetiap majlis, Masjid-masjid, Kampus-kampus dan disegala ruang diskusi kebangsaan dan ilmu. Di warung-warung kopi dan disetiap komunitas anak bangsa. Sudah saatnya Pribumi tampil dan ambil kendali kedaulatan bangsa dari cengkraman sekular dan oligarki selama ini.
𝗦𝗲𝗿𝘂𝗮𝗻 𝗞𝗲𝗯𝗮𝗻𝗴𝗸𝗶𝘁𝗮𝗻
“Wahai kaum Muslimin, laut bukan sekadar hamparan air biru—ia adalah jalan dakwah, jalur perdagangan, dan benteng peradaban. Jangan biarkan musuh-musuh Allah terus menguasai laut kita, menjarah kekayaan kita, dan menjadikan umat hanya penonton sejarah. Bangkitlah! Satukan barisan, tegakkan syariat, dan rebut kembali kejayaan maritim Islam. Saatnya umat ini menjadi subjek sejarah, bukan objek eksploitasi dan perbudakan global!”
Daftar Pustaka
- Al-Qur’an al-Karim.
- Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari.
- Muslim, Shahih Muslim.
- Abu Dawud, Sunan Abu Dawud.
- Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah.
- Al-Albani, Silsilah al-Ahadits al-Shahihah.
- Al-Mawardi, Al-Ahkam al-Sulthaniyyah.
- Abdul Hamid, Zaki. Sejarah Maritim Islam. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2019.
- Susanto, Edi. Geopolitik Maritim Indonesia. Jakarta: Gramedia, 2021.
- Pushidrosal TNI AL & BIG, Data Rujukan Wilayah Kelautan Indonesia, 2018. #IslamMaritim #KhilafahMaritim #PorosMaritimIslam #BangkitnyaUmat #SamuderaUntukDakwah #TegakkanSyariat #KhilafahSolusiTuntas #LawanSekulerisme. (Rahmat)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
