SURAU.CO- Warisan klasik Islam tidak pernah lekang oleh waktu. Salah satunya dapat kita temukan dalam kitab Akhlaq lil Banat karya Umar bin Ahmad Baraja, sebuah panduan etika yang khusus ditulis untuk para santri perempuan dan siswi madrasah. Meski ditulis di era klasik, nasihatnya masih terasa hidup dan kontekstual untuk zaman sekarang, seakan menuntun anak muda muslimah agar tumbuh menjadi pribadi berakhlak, sehat, dan bertanggung jawab.
Syekh Umar bin Ahmad Baraja adalah seorang ulama abad ke-20 asal Hadramaut, Yaman, yang kemudian lama bermukim di Indonesia. Beliau menulis Akhlaq lil Banin untuk anak laki-laki dan Akhlaq lil Banat untuk anak perempuan, dua kitab etika yang populer di pesantren dan madrasah. Tujuan kitab ini sederhana tetapi mendalam: menanamkan akhlak islami sejak dini, agar anak-anak tumbuh dengan budi pekerti yang terjaga. Dalam khazanah Islam, kitab ini menempati posisi istimewa sebagai pedoman moral praktis, bukan hanya untuk murid di pesantren, tetapi juga untuk keluarga muslim.
1. Menjaga Amanah, Menjauhi Khianat
Salah satu nasihat penting adalah tentang menjaga amanah dan menjauhi sifat khianat. Syekh Umar menulis:
“مِنْ عَادَاتِ السَّيِّئَةِ أَنْ تَسْتَعْمِلَ الْبِنْتُ كُتُبَ غَيْرِهَا أَوْ أَقْلَامَهَا دُوْنَ إِذْنِهَا، أَوْ تَجِدَ ضَالَّةً فَتَأْخُذَهَا لِنَفْسِهَا، وَالْوَاجِبُ أَنْ تُرَدَّهَا إِلَى صَاحِبِهَا.”
Artinya: “Termasuk kebiasaan yang buruk adalah ketika seorang anak perempuan menggunakan buku atau pensil orang lain tanpa izin, atau menemukan barang hilang lalu mengambilnya untuk dirinya. Padahal kewajiban adalah mengembalikannya kepada pemiliknya.”
Pesan sederhana ini begitu relevan. Betapa banyak hari ini kita menyaksikan budaya “ambil saja” tanpa izin, baik dalam hal barang fisik maupun informasi digital. Dari sekadar menggunakan barang teman tanpa pamit hingga membagikan konten pribadi orang lain di media sosial tanpa izin. Semua itu adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah. Islam mengajarkan: “Innallaha ya’murukum an tu’addul amanati ila ahliha” – “Sesungguhnya Allah menyuruhmu untuk menunaikan amanah kepada pemiliknya” (QS. An-Nisa: 58).
2. Kebersihan dan Kesehatan: Cermin Akhlak
Syekh Umar juga menekankan pentingnya kebersihan dan kesehatan jasmani. Ia menulis tentang larangan mengabaikan mandi, menyisir rambut, memotong kuku, dan menjaga pakaian tetap bersih.
Dalam kitab disebutkan: “وَمِنَ الْعُيُوْبِ أَنْ تُهْمِلَ الْبِنْتُ نَفْسَهَا فَلاَ تُمْشِطَ شَعْرَهَا وَلاَ تَنْظُفَ ثِيَابَهَا وَلاَ تَغْتَسِلَ حَتَّى تَبْدُوَ كَأَنَّهَا مُهْمَلَةٌ وَقَذِرَةٌ.”
Artinya: “Termasuk aib adalah seorang anak perempuan yang mengabaikan dirinya, tidak menyisir rambut, tidak membersihkan pakaiannya, tidak mandi, sehingga terlihat berantakan dan kotor.”
Pesan ini terdengar sederhana, tetapi di baliknya ada filosofi besar: kebersihan adalah bagian dari iman. Dalam dunia modern, perintah ini bisa dimaknai lebih luas: menjaga kebersihan bukan hanya soal tubuh, tetapi juga lingkungan. Tidak membuang sampah sembarangan, merawat kesehatan mental, hingga menjaga “kebersihan digital” dari konten negatif. Semua itu adalah refleksi akhlak yang baik.
3. Hidup Hemat dan Menabung Sejak Dini
Bagian menarik lainnya adalah ajakan agar anak perempuan membiasakan hidup hemat. Umar bin Ahmad Baraja menulis:
“وَمِنْ عَادَاتِ الْحَسَنَةِ أَنْ تَدَّخِرَ الْبِنْتُ وَتَقْتَصِدَ فَلاَ تُبَذِّرَ وَلاَ تُسْرِفَ.”
Artinya: “Termasuk kebiasaan yang baik adalah anak perempuan suka menabung dan hemat, tidak boros dan tidak menghamburkan harta.”
Betapa indah nasihat ini. Di era serba digital dengan budaya “belanja online” yang menggiurkan, anak muda sering terjebak dalam pola konsumsi berlebihan. Pesan klasik ini seolah mengingatkan kita agar belajar mengelola uang sejak kecil. Menabung tidak hanya menyelamatkan dari utang, tetapi juga melatih kemandirian dan melahirkan generasi muslimah yang “ahli ekonomi rumah tangga.” Hemat bukan berarti pelit, tetapi pandai menempatkan harta pada yang bermanfaat.
Hikmah yang Hidup Hingga Kini
Nasihat Umar bin Ahmad Baraja dalam Akhlaq lil Banat tidak hanya bicara etika kecil, tetapi membangun fondasi besar akhlak muslimah: menjaga amanah, kebersihan, kesehatan, dan keuangan. Semua itu saling terhubung dan membentuk karakter perempuan yang berharga.
Mari kita renungkan: di tengah gempuran gaya hidup serba cepat, apakah kita masih mampu menjaga akhlak sederhana ini? Apakah kita sudah mendidik anak-anak untuk tidak boros, menjaga amanah, dan menjaga kebersihan?
Semoga kita, khususnya para muslimah, dapat mengambil hikmah ini: menjadi pribadi yang amanah, bersih, sehat, dan hemat—karena akhlak yang baik adalah harta yang tidak ternilai.
اللهم زينا بزينة الإيمان، واجعلنا هداة مهتدين، غير ضالين ولا مضلين
(Ya Allah, hiasilah kami dengan perhiasan iman, dan jadikan kami penuntun kebaikan, bukan orang yang sesat dan menyesatkan.)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
