SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Khazanah
Beranda » Berita » BKKBN: Kesiapan Finansial Adalah Kunci Sebelum Menikah, Ini Alasannya

BKKBN: Kesiapan Finansial Adalah Kunci Sebelum Menikah, Ini Alasannya

Ilustrasi pernikahan dalam Islam

Banyak pasangan muda bermimpi untuk segera membangun rumah tangga. Namun, cinta dan komitmen saja seringkali tidak cukup. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) memberikan peringatan penting. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) memberikan peringatan penting. Pasangan tidak boleh mengabaikan kesiapan finansial sebagai fondasi krusial. BKKBN mengimbau pasangan untuk tidak memaksakan pernikahan jika kondisi ekonomi masih belum stabil.”

Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga (KSPK) BKKBN, Bonivasius Prasetya Ichtiarto, menekankan hal ini. Ia meminta calon pengantin untuk berpikir realistis. Pernikahan bukan hanya soal menyatukan dua hati. Pernikahan adalah tentang membangun kehidupan bersama yang berkualitas. Hal ini membutuhkan perencanaan matang, terutama dalam aspek keuangan.

Menurutnya, memaksakan diri menikah dalam kondisi miskin hanya akan menimbulkan masalah baru. Masalah ini tidak hanya berdampak pada pasangan. Anak-anak mereka di masa depan juga akan menanggung risikonya.

“BKKBN mengingatkan jangan ngotot nikah kalau masih miskin. Miskin itu ukurannya bukan tidak punya mobil, tapi untuk makan saja susah,” tegas Bonivasius.

Pernyataan ini menggarisbawahi definisi kemiskinan dalam konteks pernikahan. Ini bukan tentang kemewahan. Ini tentang kemampuan memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.

Menahan Diri Dari Utang Dan Menjauhi Riba: Refleksi Iman di Tengah Gaya Hidup Instan

Masalah Ekonomi, Pemicu Utama Perceraian

Salah satu risiko terbesar dari pernikahan tanpa kesiapan finansial adalah perceraian. Data menunjukkan bahwa faktor ekonomi menjadi salah satu penyebab utama retaknya rumah tangga di Indonesia. BKKBN mencatat ada sekitar 500 ribu kasus perceraian setiap tahunnya. Sebagian besar kasus tersebut dipicu oleh perselisihan terkait keuangan.

Ketika sebuah keluarga kesulitan memenuhi kebutuhan pokok, stres akan meningkat. Komunikasi yang baik menjadi sulit. Pertengkaran kecil dapat dengan mudah membesar menjadi konflik serius. Pasangan yang seharusnya saling mendukung justru saling menyalahkan. Akhirnya, banyak pasangan menganggap perceraian sebagai jalan keluar termudah. BKKBN ingin mencegah realitas pahit inilah yang terjadi

Ancaman Stunting pada Generasi Berikutnya

Dampak dari pernikahan yang dipaksakan saat kondisi ekonomi sulit tidak berhenti pada pasangan saja. Risiko yang lebih besar mengintai generasi berikutnya, yaitu anak-anak. Pasangan yang hidup dalam kemiskinan akan kesulitan memberikan gizi yang cukup untuk buah hati mereka.

Bonivasius menjelaskan bahwa kondisi ini secara langsung berhubungan dengan masalah stunting. Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis. Anak-anak stunting tidak hanya memiliki tubuh yang lebih pendek. Perkembangan otak mereka juga terhambat. Akibatnya, mereka akan kesulitan bersaing di masa depan. Ini menciptakan lingkaran setan kemiskinan yang sulit diputus.

Pemerintah menargetkan angka prevalensi stunting turun hingga 14% pada tahun 2024. Untuk mencapai target ini, pencegahan harus dimulai dari hulu. Calon pengantin harus memiliki pemahaman dan kesiapan yang cukup. Mereka harus mampu memastikan calon anak mereka mendapatkan nutrisi terbaik sejak dalam kandungan.

Kisah Hikmah Ilmu: Bulan Syawal Hari ke-21, 22, 23, 24, 25

Bukan Melarang, Tetapi Mendorong Persiapan

BKKBN menegaskan bahwa imbauan ini bukanlah larangan untuk menikah. Sebaliknya, ini adalah ajakan untuk mempersiapkan diri dengan lebih baik. Pemerintah telah menyediakan berbagai program untuk membantu calon pengantin. Salah satunya adalah program bimbingan pra-nikah.

Melalui bimbingan ini, pasangan akan mendapatkan edukasi komprehensif. Mereka belajar tentang kesehatan reproduksi, gizi, hingga perencanaan keuangan keluarga. Selain itu, BKKBN juga mengembangkan aplikasi Elsimil (Elektronik Siap Nikah dan Hamil). Aplikasi ini berfungsi sebagai alat skrining untuk menilai kesiapan calon pengantin.

Tujuannya adalah memastikan setiap pasangan yang menikah sudah memiliki bekal yang cukup. Calon pengantin sebaiknya memiliki pekerjaan dengan penghasilan tetap. Dengan penghasilan tersebut, mereka dapat membangun keluarga yang sehat, sejahtera, dan berkualitas. Merencanakan pernikahan dengan baik berarti berinvestasi untuk masa depan bangsa.


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.