SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Khazanah
Beranda » Berita » Jangan Pernah Menoleh, Cukup Melangkah

Jangan Pernah Menoleh, Cukup Melangkah

Jangan Pernah Menoleh, Cukup Melangkah
Jangan Pernah Menoleh, Cukup Melangkah

 

SURAU.CO – Ada saat di mana waktu terasa seperti menatap kita balik diam, tapi menghakimi. Ia tidak berbicara, namun menghadirkan gema dari masa lalu yang tak pernah benar-benar pergi. Kita, manusia, seringkali kalah oleh bayang-bayang yang kita ciptakan sendiri. Padahal, bukankah hidup ini seharusnya berjalan ke depan?.

Saling Mendoakan

“Jangan melihat ke belakang, tak ada yang mengetahui bagaimana semesta pertama kali diciptakan. Jangan khawatir tentang masa depan, sebab tidak ada yang akan bertahan selamanya. Mari kita terus percaya pada keyakinan kita, selalu bersyukur, dan tak henti-hentinya saling mendoakan, semoga kesehatan, keberhasilan, dan berkah menyertai kita semua sebagai keluarga.”

Kalimat itu sederhana, tetapi terasa seperti suara tua yang bijak seolah angin yang berbisik dari zaman yang telah lama berlalu, mengingatkan kita bahwa hidup bukan untuk ditangisi, melainkan dijalani.

Pada masa lalu, masyarakat hidup dengan keterbatasan yang hampir mustahil kita bayangkan hari ini. Namun anehnya, mereka lebih mengenal makna syukur dibandingkan kita yang hidup dalam kelimpahan. Sawah berbicara pada petani dengan bahasa kesabaran, sungai mengajarkan tentang aliran kehidupan, dan langit menjadi saksi bisu doa-doa yang diangkat tanpa keraguan. Mereka tidak banyak bertanya tentang masa depan, karena percaya bahwa hari esok adalah milik Yang Maha Mengatur.

Sang Guru: Prof Juwono Sudarsono (Wakil Gubernur Lemhannas 1995–1998, Menteri Pertahanan 1999–2000 & 2004–2009)

Kini, di masa sekarang, manusia justru terlihat lebih gelisah. Teknologi yang seharusnya memudahkan, berubah menjadi cermin yang memperlihatkan kekurangan diri. Media sosial menjadi panggung sandiwara, tempat manusia berlomba-lomba terlihat bahagia, sementara hatinya retak seperti kaca yang tak sempat direkatkan. Kita sibuk mengejar validasi, hingga lupa bahwa nilai diri tidak pernah ditentukan oleh sorotan orang lain.

Ironisnya, masa lalu yang dulu ingin kita tinggalkan, kini justru kita rindukan. Kita mengeluh tentang kehidupan yang cepat, tetapi terus mempercepat langkah tanpa arah. Kita takut akan masa depan, tetapi terus menyia-nyiakan hari ini. Seolah-olah waktu adalah musuh, padahal ia hanya berjalan sesuai tugasnya.

Penyesalan Masa Lalu dan Kecemasan Masa Depan

Masa depan, di sisi lain, berdiri seperti anak kecil yang belum belajar berbicara. Ia tidak menjanjikan apa-apa, tetapi kita sudah lebih dulu menakutinya. Kita mengkhawatirkan sesuatu yang bahkan belum memiliki bentuk. Seperti memeluk bayangan, kita lelah oleh sesuatu yang sebenarnya tidak pernah ada.

Di sinilah manusia sering terjebak antara penyesalan masa lalu dan kecemasan masa depan. Padahal, kehidupan hanya terjadi di satu tempat: sekarang.

Angin seakan menertawakan kita, daun-daun berguguran seolah berbisik, “Mengapa kau sibuk dengan yang telah pergi dan yang belum datang?” Bahkan matahari pun tidak pernah menoleh ke belakang ketika ia terbit. Ia hanya bersinar, memberi, dan terus bergerak tanpa ragu.

Menikah: Jalan Ibadah Menuju Keberkahan Hidup

Namun manusia, dengan segala kelebihannya, justru memilih untuk menjadi ragu.

Kita sering lupa bahwa hidup bukan tentang memahami segalanya, melainkan menerima bahwa tidak semua harus dipahami. Semesta tidak pernah meminta kita untuk mengerti bagaimana ia diciptakan. Ia hanya meminta kita untuk hidup di dalamnya, menjaga, dan mensyukuri.

Cahaya yang Tidak Terlihat

Sindiran terbesar kehidupan adalah ketika manusia merasa paling tahu, tetapi justru kehilangan arah. Kita membangun mimpi setinggi langit, tetapi lupa menanam akar di bumi. Kita ingin menjadi segalanya, tetapi lupa menjadi diri sendiri.

Di tengah segala kegelisahan ini, ada satu hal yang sering kita abaikan yakni keyakinan. Bukan sekadar percaya, tetapi meyakini dengan sepenuh hati bahwa setiap langkah memiliki makna, setiap luka membawa pelajaran, dan setiap doa tidak pernah benar-benar sia-sia.

Keyakinan adalah cahaya yang tidak terlihat, tetapi mampu menerangi jalan yang paling gelap sekalipun.

Asal Usul Sholat Subuh dan Arti Subuh

Dan syukur, ia adalah bahasa yang sering dilupakan manusia modern. Kita lebih pandai mengeluh daripada berterima kasih. Padahal, dalam setiap napas yang kita hirup, ada kehidupan yang tidak semua orang miliki. Dalam setiap langkah yang kita ambil, ada kesempatan yang tidak semua orang dapatkan.

Jembatan antara Harapan dan Kenyataan

Langit seakan menghela napas setiap kali manusia lupa bersyukur. Ia tetap membentang luas, tetapi tidak lagi kita pandang dengan rasa takjub. Kita terlalu sibuk menunduk pada layar, hingga lupa menengadah pada kehidupan.

Lalu tentang doa sesuatu yang semakin jarang kita lakukan dengan sungguh-sungguh. Kita berdoa, tetapi hati kita sibuk ke mana-mana. Kita meminta, tetapi tidak benar-benar percaya. Padahal, doa adalah jembatan antara harapan dan kenyataan.

Bayangkan jika manusia kembali saling mendoakan, bukan saling menjatuhkan. Bayangkan jika kita lebih sering mengucapkan harapan baik daripada prasangka buruk. Dunia mungkin tidak berubah secara instan, tetapi setidaknya hati kita akan lebih damai.

Masyarakat masa depan, jika terus berjalan seperti sekarang, mungkin akan memiliki segalanya kecuali ketenangan. Mereka akan hidup di dunia yang serba cepat, tetapi kehilangan makna. Mereka akan memiliki banyak koneksi, tetapi merasa sendirian.

Pesan Sederhana Menjadi Penting

Jangan melihat ke belakang bukan karena masa lalu tidak penting, tetapi karena ia sudah selesai menjalankan perannya. Jangan khawatir tentang masa depan bukan karena ia tidak penting, tetapi karena ia belum waktunya kita jalani.

Hidup adalah tentang hari ini.
>Tentang bagaimana kita memperlakukan orang di sekitar kita. Tentang bagaimana kita bersyukur atas apa yang ada. Tentang bagaimana kita tetap percaya, meskipun keadaan tidak selalu berpihak.

Sebagai keluarga bukan hanya dalam arti darah, tetapi dalam arti kemanusiaan kita memiliki tanggung jawab untuk saling menjaga. Dunia ini terlalu keras jika dijalani sendirian. Tetapi ia akan terasa lebih ringan jika kita saling menguatkan.

Jangan biarkan ego menjadi tembok yang memisahkan kita. Jangan biarkan kesibukan menjadi alasan untuk melupakan satu sama lain. Karena pada akhirnya, yang akan kita ingat bukanlah apa yang kita miliki, tetapi siapa yang bersama kita.

Keyakinan, Syukur dan Doa

Angin akan terus berhembus, waktu akan terus berjalan, dan kehidupan akan terus berubah. Tetapi nilai-nilai seperti keyakinan, syukur, dan doa akan selalu menjadi pegangan yang tidak lekang oleh zaman.

Maka, mari kita berjalan tanpa menoleh terlalu jauh ke belakang. Mari kita melangkah tanpa dibebani oleh ketakutan akan masa depan. Mari kita hidup dengan penuh keyakinan, dengan hati yang penuh syukur, dan dengan doa yang tidak pernah putus.

Semoga kesehatan selalu menyapa tubuh kita.
Semoga keberhasilan menghampiri langkah kita.
Dan semoga berkah tidak pernah lelah menemani perjalanan kita.

Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa jauh kita pergi, tetapi seberapa dalam kita memahami arti dari setiap langkah. Penulis: La Jamilu
Guru MIN 1 Tuban / Mahasiswa S3 UIN Syekh Wasil Kediri. (Amp)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.