SURAU.CO – Di tengah gemerlap dunia yang sering menipu pandangan, pernikahan dalam Islam bukan sekadar penyatuan dua insan, tetapi sebuah ibadah yang agung. Ia adalah jalan panjang menuju ridha Allah, tempat berseminya cinta yang suci, serta ladang pahala yang terus mengalir.
Sebagaimana dinukil dari perkataan Syaikh Muhammad al-Amin al-Syinqithi rahimahullah:
“Orang yang menikah yang dijanjikan kekayaan oleh Allah, adalah dia yang dalam pernikahannya berniat untuk membantu dirinya agar lebih taat kepada Allah.”
(Adhwa’ul Bayan, 6/243)
Perkataan ini menegaskan bahwa inti dari pernikahan bukanlah semata dunia, tetapi orientasi akhirat. Ketika niat lurus, maka keberkahan akan turun, bahkan dalam urusan rezeki sekalipun.
- Pernikahan adalah Sunnah Para Nabi
Menikah bukan hanya tradisi sosial, tetapi sunnah para nabi. Allah berfirman:
> وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِّن قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً
“Dan sungguh, Kami telah mengutus para rasul sebelum engkau (Muhammad), dan Kami memberikan kepada mereka istri-istri dan keturunan.” (QS. Ar-Ra’d: 38)
Rasulullah ﷺ bersabda:
> النِّكَاحُ مِنْ سُنَّتِي، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي
“Nikah itu adalah sunnahku, maka barang siapa yang membenci sunnahku, maka ia bukan dari golonganku.”¹
Pernikahan adalah bagian dari fitrah manusia, sekaligus bentuk ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.
- Nikah Menjaga Kehormatan dan Kesucian
Di zaman penuh fitnah ini, menjaga diri menjadi semakin sulit. Maka pernikahan hadir sebagai benteng yang kokoh.
Rasulullah ﷺ bersabda:
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ…
“Wahai para pemuda, siapa di antara kalian yang mampu, maka menikahlah. Karena ia lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan.”²
Pernikahan bukan sekadar solusi biologis, tetapi penjaga akhlak dan kehormatan.
- Rezeki Datang Bersama Niat yang Benar
Seringkali manusia takut menikah karena alasan ekonomi. Padahal Allah telah menjanjikan kecukupan bagi mereka yang menikah dengan niat yang benar.
> إِن يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ
“Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya.” (QS. An-Nur: 32)
Namun, janji ini bukan tanpa syarat. Ia terikat dengan niat: menikah untuk menjaga diri, untuk ibadah, dan untuk menegakkan ketaatan.
- Pernikahan sebagai Madrasah Iman
Rumah tangga dalam Islam bukan sekadar tempat tinggal, tetapi madrasah pertama. Di dalamnya, suami dan istri saling menasihati, saling menguatkan, dan saling mengingatkan dalam kebaikan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
> “Semoga Allah merahmati seorang suami yang bangun malam lalu shalat, kemudian membangunkan istrinya…”³
Inilah gambaran rumah tangga yang hidup: bukan hanya penuh cinta, tetapi juga penuh ibadah.
- Cinta yang Diberkahi
Cinta dalam Islam bukan sekadar perasaan, tetapi tanggung jawab. Ia dijaga oleh syariat, diarahkan oleh iman, dan dipenuhi oleh keberkahan.
Allah berfirman:
> وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untukmu pasangan agar kamu merasa tenteram kepadanya…” (QS. Ar-Rum: 21)
Ketenteraman (sakinah), kasih sayang (mawaddah), dan rahmat adalah buah dari pernikahan yang dibangun di atas iman.
Penutup: Luruskan Niat, Raih Keberkahan
Menikah bukan sekadar tentang “siapa pasangan kita”, tetapi “untuk apa kita menikah”. Jika tujuan kita adalah dunia semata, maka kita akan mudah kecewa. Namun jika tujuan kita adalah Allah, maka setiap ujian dalam rumah tangga akan bernilai ibadah.
Sebagaimana pesan Syaikh Muhammad al-Amin al-Syinqithi, kekayaan dalam pernikahan bukan hanya materi, tetapi keberkahan hidup yang lahir dari ketaatan.
Maka, bagi yang belum menikah, persiapkan diri dengan ilmu dan iman. Bagi yang sudah menikah, perbaiki niat dan terus belajar menjadi pasangan yang diridhai Allah.
Semoga setiap rumah tangga menjadi taman surga di dunia, dan jembatan menuju surga di akhirat.
Footnote
- HR. Ibnu Majah no. 1846
- HR. Bukhari no. 5066; Muslim no. 1400
- HR. Abu Dawud no. 1308, hasan shahih. Penulis: Tengku Iskandar
Duta Literasi Pena Da’i Nusantara Provinsi Sumatera Barat
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
