SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Opinion
Beranda » Berita » Asal Usul Minal Aidin wal Faidzin dan Apakah Benar Ucapan Itu

Asal Usul Minal Aidin wal Faidzin dan Apakah Benar Ucapan Itu

Asal Usul Minal Aidin wal Faidzin dan Apakah Benar Ucapan Itu
Asal Usul Minal Aidin wal Faidzin dan Apakah Benar Ucapan Itu

 

SURAU.CO – Pada suatu hari setelah sholat Idul Fitri, seorang santri muda bertanya kepada gurunya:

“Kiai, setiap lebaran orang-orang mengucapkan Minal aidin wal faidzin.

Sebenarnya itu dari hadits atau Al-Qur’an? Dan apa artinya?”

Sang kiai tersenyum, lalu berkata pelan, “Ilmu itu bukan hanya menghafal ucapan, tapi memahami asal usul dan maknanya.”

Mempertahankan dan Menurunnya Nilai serta Semangat Ramadhan di Bulan Syawal dan Selanjutnya

Asal Usul Ucapan
Ucapan “Minal aidin wal faidzin” sebenarnya bukan dari hadits Nabi dan bukan dari Al-Qur’an.

Ucapan ini berasal dari tradisi sastra Arab, khususnya dalam syair Arab lama yang digunakan untuk mendoakan orang yang kembali dari kemenangan atau kembali dari perjalanan.
Kalimat lengkap yang sebenarnya adalah:

“Ja‘alanallohu wa iyyakum minal ‘aidin wal faizin.”
Artinya:

Semoga Alloh menjadikan kami dan kalian termasuk orang yang kembali (fitrah) dan termasuk orang yang menang.

Jadi yang sering diucapkan orang Indonesia itu sebenarnya dipotong, hanya bagian akhirnya saja.

Dizalimi Tidak Selalu Rugi

Arti Sebenarnya
Al ‘Aidin → orang yang kembali (kembali ke fitrah, kembali suci)

Al Faizin → orang yang menang (menang melawan hawa nafsu setelah Romadhon)

Jadi makna sebenarnya bukan sekadar mohon maaf, tetapi:

Doa agar kita termasuk orang yang kembali suci dan termasuk orang yang menang setelah Romadhon.

Apakah Ucapan Itu Benar?

Jawabannya: Benar sebagai doa, tetapi bukan sunnah khusus dari Nabi.

Bulan Syawal Hari ke 5, 6, 7, 9, 10 dan 8

Ucapan yang justru diriwayatkan dari sahabat Nabi ketika Idul Fitri adalah: “Taqobbalallohu minna wa minkum.” Artinya: Semoga Alloh menerima amal kami dan amal kalian.

Ini yang lebih dekat dengan sunnah para sahabat.

Namun para ulama mengatakan: Dalam muamalah dan doa, selama maknanya baik, maka boleh diucapkan.

Jadi Minal aidin wal faidzin boleh diucapkan, karena isinya doa yang baik.

Hikmah Ilmu, Sang kiai kemudian berkata kepada santrinya: “Jangan hanya ikut mengucapkan, tapi pahami maknanya.

Lebaran bukan sekadar baju baru dan makanan enak.

Lebaran adalah apakah kita kembali menjadi manusia baru setelah Romadhon.”

Lalu beliau menutup dengan kalimat hikmah: “Yang penting bukan banyaknya ucapan lebaran, tapi apakah kita benar-benar kembali suci atau tidak.”

Kesimpulan Hikmah: Minal aidin wal faidzin bukan hadits.

Itu berasal dari doa dalam bahasa Arab. Artinya: kembali suci dan termasuk orang yang menang.

Boleh diucapkan karena doa yang baik. Yang lebih mendekati sunnah sahabat adalah: Taqobbalallohu minna wa minkum.

 

 

 

 


Kisah Hikmah Ilmu “Berperang Tanpa Laga dan Musuh”

Di suatu senyap yang tak bersuara, manusia sering merasa dirinya sedang damai. Tidak ada pertengkaran, tidak ada perlawanan, tidak ada musuh di hadapannya. Namun tanpa disadari, justru di situlah peperangan terbesar sedang berlangsung.

Bukan di medan laga, bukan dengan senjata, dan bukan melawan siapa-siapa.

Melainkan di dalam diri antara keinginan dan kesadaran, antara nafsu dan nurani, antara merasa benar dan mencari kebenaran.

Berperang tanpa laga adalah saat seseorang menahan amarah yang membuncah, namun memilih diam.

Tidak ada yang melihat, tidak ada tepuk tangan, tapi di situlah kemenangan mulai tumbuh.

Berperang tanpa musuh adalah ketika seseorang melawan kesombongannya sendiri.

Ia tidak sedang mengalahkan orang lain, tapi sedang menundukkan dirinya agar tidak merasa lebih tinggi.

Seringkali kita sibuk mencari lawan di luar, padahal musuh terbesar justru bersembunyi di dalam: rasa iri yang halus,
niat yang menyimpang,
dan keinginan untuk dipuji.

Peperangan ini tidak menghasilkan luka di tubuh, tetapi bisa melukai hati jika kalah.

Dan jika menang, tidak ada piala, namun jiwa menjadi lebih lapang.

Orang yang mampu berperang tanpa laga dan tanpa musuh
adalah mereka yang kuat dalam diam, tegar dalam kesunyian, dan jujur pada dirinya sendiri.

Karena sejatinya, kemenangan bukan tentang mengalahkan orang lain, melainkan tentang mampu mengalahkan diri sendiri tanpa harus memperlihatkan kepada dunia.

Maka berhati-hatilah dalam setiap langkah, sebab mungkin saja kita sedang berada di medan perang bukan dengan pedang, melainkan dengan pilihan-pilihan kecil dalam hidup.

Dan di situlah, hikmah sejati perlahan tumbuh, dari peperangan yang tak terlihat, namun sangat menentukan arah kehidupan. (Bambang JB)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.