SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Opinion
Beranda » Berita » Dizalimi Tidak Selalu Rugi

Dizalimi Tidak Selalu Rugi

Dizalimi Tak Selalu Rugi
Dizalimi Tak Selalu Rugi

 

SURAU.CO – Di ruang publik hari ini, kezaliman sering dibaca secara dangkal. Siapa ditekan dianggap kalah, siapa menekan dipersepsikan menang. Logika ini tampak masuk akal secara sosial, tetapi rapuh dalam perspektif iman. Islam justru mengajarkan kebalikan yang mengejutkan: kezaliman adalah kerugian terbesar bagi pelakunya, dan bisa menjadi keuntungan akhirat bagi yang dizalimi.

Pesan sederhana pada gambar itu terasa mengusik: jangan sekali-kali menganggap berat kezaliman orang lain terhadapmu. Ini bukan ajaran pasrah yang mematikan daya kritis, melainkan undangan untuk membaca peristiwa hidup dengan kacamata tauhid. Bahwa Allah tidak pernah lalai. Bahwa setiap luka dicatat. Dan bahwa pahala dapat berpindah tangan, tanpa perlu transaksi.

Al-Qur’an mengingatkan dengan nada tegas:

> وَلَا تَحْسَبَنَّ ٱللَّهَ غَـٰفِلًا عَمَّا يَعْمَلُ ٱلظَّـٰلِمُونَ¹
“Jangan sekali-kali engkau mengira bahwa Allah lengah terhadap apa yang diperbuat oleh orang-orang zalim.”

Bulan Syawal Hari ke 5, 6, 7, 9, 10 dan 8

Ayat ini meruntuhkan ilusi kekuasaan. Penundaan bukan pembiaran. Diamnya langit bukan tanda restu. Justru di sanalah hisab sedang disusun secara teliti.

Datang Membawa Amal Ibadah

Rasulullah ﷺ menjelaskan akibat kezaliman dengan gambaran yang sangat konkret melalui hadis al-muflis:

إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي… فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ²
“Orang bangkrut dari umatku adalah yang datang membawa amal ibadah, namun pahala-pahalanya diberikan kepada orang-orang yang ia zalimi.”

Hadis ini mengandung pesan keras: kezaliman bukan sekadar dosa, tetapi mekanisme pemindahan pahala. Yang dizalimi tidak perlu membalas untuk menang; sering kali ia cukup bersabar untuk memperoleh keuntungan yang sah di sisi Allah.

Di sinilah makna kalimat pada gambar itu menjadi terang. Orang yang menzalimimu sejatinya sedang merugikan dirinya sendiri dan—tanpa sadar—menguntungkanmu. Selama engkau tidak membalas dengan kezaliman baru, saldo kebaikan itu terus bertambah.

Kepribadian Muhammadiyah: Watak Tauhid yang Menggerakkan Peradaban

Tentu, Islam tidak mengajarkan kepasrahan yang membiarkan ketidakadilan merajalela. Melawan kezaliman tetap wajib, tetapi dengan cara yang benar dan bermartabat. Namun Islam juga mendidik jiwa agar tidak runtuh hanya karena disakiti. Sebab tidak semua penderitaan adalah kehinaan; sebagian justru jalan kenaikan derajat.

Perkara yang Paling Mulia

Al-Qur’an menegaskan:

> وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ ٱلْأُمُورِ³
“Siapa yang bersabar dan memaafkan, itulah perkara yang paling mulia.”

Kesabaran di sini bukan kelemahan, melainkan kekuatan batin. Memaafkan bukan berarti lupa, tetapi memilih tidak menjadikan luka sebagai pusat kehidupan. Orang yang mampu bersikap demikian telah menang lebih dulu, menang atas egonya sendiri.

Dalam konteks sosial kita hari ini, kezaliman sering hadir secara halus dan sistemik: peminggiran berbungkus prosedur, pembungkaman atas nama aturan, atau penyingkiran dengan dalih evaluasi. Banyak orang kalah bukan karena salah, tetapi karena tak punya kuasa. Di titik inilah iman diuji.

Kisah Hikmah Ilmu “Bulan Syawal 1, 2, 3, 4”

Rasulullah ﷺ mengingatkan:

> اتَّقُوا الظُّلْمَ، فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ⁴
“Takutlah terhadap kezaliman, karena kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat.”

Maka yang seharusnya ditakuti bukanlah menjadi korban, melainkan menjadi pelaku. Korban masih punya peluang pahala dan pengangkatan derajat. Pelaku kezaliman, bila tak bertobat, hanya mewarisi penyesalan.

Catatan Langit

Karena itu, saat dizalimi, jangan tergesa merasa rugi. Ukur kemenangan bukan dari tepuk tangan manusia, tetapi dari catatan langit. Bisa jadi hari ini engkau terdiam, tetapi di sisi Allah, engkau sedang dimuliakan.

Catatan Kaki

¹ QS. Ibrahim [14]: 42.
² HR. Muslim, no. 2581.
³ QS. Asy-Syura [42]: 43.
⁴ HR. Muslim, no. 2578.

 

Sudahkah Hati Kita Siap Menyambut Tamu Istimewa Ini? 10 hari menuju Ramadhan, Mari manfaatkan waktu singkat yang tersisa untuk membersihkan diri dan meluruskan niat agar Ramadhan tahun ini menjadi yang terbaik dalam hidup kita, menjadi pribadi yang semakin bertaqwa. (Tengku Iskandar, M.Pd: Duta Literasi Sumatera Barat)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.