SURAU.CO – Syawal telah berjalan beberapa hari. Romadhon telah pergi, namun sebenarnya perjalanan ruhani belum berhenti. Justru setelah Romadhon, manusia diuji apakah masih berjalan di jalan yang sama atau kembali ke jalan semula.
Hari ke-5 Syawal Seseorang bertanya kepada gurunya,“Guru, apakah amal Romadhon kita masih tersisa pahalanya?”Guru menjawab,“Bukan tersisa atau tidak, tetapi apakah Romadhon meninggalkan bekas di hatimu. Jika setelah Romadhon engkau masih ringan melangkah ke masjid, masih ringan bersedekah, masih menjaga lisan, maka Romadhon masih hidup dalam dirimu.”
Romadhon bukan yang pergi, tetapi kitalah yang sering menjauh dari nilai-nilainya.
Hari ke-6 Syawal Murid kembali bertanya,“Mengapa ada puasa 6 hari di bulan Syawal?”Guru menjawab,“Agar manusia tidak langsung kembali ke kebiasaan lamanya. Puasa Syawal seperti jembatan antara Romadhon dan bulan-bulan berikutnya. Orang yang berpuasa Syawal seakan berkata: Ya Alloh, aku belum ingin jauh dari Romadhon.”
Puasa Syawal bukan sekadar menambah pahala, tetapi menjaga hati agar tidak jatuh terlalu jauh setelah Romadhon.
Hari ke-7 Syawal Guru berkata,“Banyak orang semangat beribadah di Romadhon, tetapi setelah itu kembali seperti semula. Itu tanda ia mencintai Romadhon, bukan mencintai Alloh. Orang yang mencintai Alloh, ibadahnya tidak tergantung bulan.”
Romadhon adalah madrasah, dan Syawal adalah ujian kelulusannya
Hari ke-9 Syawal Seorang murid berkata,“Saya merasa setelah Romadhon hati saya lebih tenang.”Guru menjawab,“Itulah tanda hati dibersihkan. Tetapi hati itu seperti kaca. Jika tidak sering dibersihkan lagi dengan dzikir dan amal baik, ia akan berdebu kembali.”
Menjaga hati lebih sulit daripada membersihkan hati.
Hari ke-10 Syawal Guru menutup pelajaran dengan berkata,“Romadhon mengajarkan kita menahan lapar, menahan marah, menahan nafsu. Syawal mengajarkan kita menjaga hasil latihan itu. Banyak orang lulus latihan, tetapi gagal menjaga hasil latihan.”
Kemudian guru berkata pelan,“Romadhon adalah waktu membersihkan diri,Syawal adalah waktu membuktikan diri,Dan sebelas bulan setelahnya adalah waktu menjaga diri.”
Hikmah:Yang paling berat bukan beribadah di Romadhon,tetapi beristiqomah setelah Romadhon.
Pada hari ke-8 Syawal, setelah Romadhon berlalu, semangat ibadah perlahan menurun?
Seperti segelas air dan diteteskan tinta ke dalamnya. Air yang jernih itu perlahan menjadi keruh.
“Hati manusia seperti air jernih. Ramadhon kemarin seperti saringan yang menjernihkan air itu. Tetapi setelah Romadhon, sedikit demi sedikit kita meneteskan kembali tinta berupa lalai, marah, iri, dan cinta dunia berlebihan. Maka air itu kembali keruh.”
“Lalu bagaimana agar tetap jernih ?”
“Jangan menunggu keruh untuk membersihkan. Setiap hari bersihkan dengan dzikir, sedekah, sholat malam walau sedikit, dan menjaga lisan.
Orang yang menjaga setelah Romadhon lebih sulit daripada orang yang beribadah saat Romadhon.”
“Romadhon itu seperti mandi besar, Syawal itu memakai pakaian bersih, Sebelas bulan berikutnya adalah menjaga agar pakaian itu tidak kotor.”
Kisah Hikmah Ilmu: “Ruh, Arwah, dan Jiwa”
Pada suatu malam yang sunyi, seorang murid bertanya kepada gurunya, “Guru, apakah ruh, arwah, dan jiwa itu sama atau berbeda?”
Sang guru tersenyum, lalu berkata,
“Manusia sering menyebut tiga kata itu seolah sama, padahal untuk memahami hakikat manusia, kita harus membedakannya dengan hati yang jernih.”
Ruh adalah rahasia kehidupan. Ia berasal dari Tuhan, bukan dari manusia.
Ruh tidak pernah tua, tidak pernah sakit, dan tidak pernah mati. Ruh hanya dititipkan ke dalam diri manusia sebagai sumber hidup.
Ketika ruh masih di dalam badan, manusia hidup. Ketika ruh keluar, manusia disebut mati.
Tetapi ruhnya sendiri tidak mati, ia kembali kepada Pemiliknya.
Jiwa adalah diri kita yang merasa, berpikir, marah, senang, sedih, ingin, dan berharap.
Dan Jiwa bisa baik bisa buruk, bisa tenang bisa gelisah. Jiwa inilah yang harus dididik dengan ilmu, ibadah, dan pengalaman hidup. Jika jiwa bersih, manusia menjadi tenang. Jika jiwa kotor, manusia menjadi gelisah walau hartanya banyak.
Arwah adalah ruh yang sudah berpisah dari badan
Orang yang sudah meninggal disebut arwah, bukan lagi disebut manusia hidup.
Arwah berada di alam yang berbeda dengan kita, menunggu waktu yang telah ditentukan.
Guru kemudian berkata pelan, “Jadi manusia itu ibarat lampu. Ruh adalah listriknya, jiwa adalah cahayanya, dan badan adalah lampunya. Jika listriknya tidak ada, lampu mati. Jika lampunya rusak, cahaya tidak keluar. Tetapi listrik tetap ada walau lampu rusak.”
Murid itu terdiam, lalu bertanya lagi,
“Guru, yang harus kita perbaiki yang mana?”
Guru menjawab,
“Yang harus paling banyak diperbaiki adalah jiwa. Karena jiwa itulah yang akan mempertanggungjawabkan bagaimana kita menggunakan badan saat ruh masih dititipkan kepada kita.”
Kemudian guru menutup pelajaran malam itu dengan berkata, “Hidup ini bukan hanya merawat badan, tetapi merawat jiwa agar ketika ruh kembali kepada Tuhan, jiwa kita dalam keadaan tenang.”
Hikmahnya:
Manusia sering sibuk memperindah badan, tetapi lupa membersihkan jiwa.
Padahal badan akan ditinggal, harta akan ditinggal, jabatan akan ditinggal. Yang ikut hanyalah jiwa yang pernah kita bentuk selama hidup di dunia. (Bambang JB)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
