SURAU.CO – Di tengah hiruk-pikuk umat yang sering terjebak pada simbol dan slogan, Muhammadiyah sejak kelahirannya tampil bukan sebagai gerakan retorika, melainkan gerakan kepribadian. Muhammadiyah tidak dibangun di atas kultus tokoh, bukan pula pada romantisme sejarah, tetapi pada watak tauhid yang hidup dan bekerja. Karena itu, ketika kita membicarakan Kepribadian Muhammadiyah, yang dimaksud bukan sekadar rumusan organisatoris, melainkan karakter Islam yang mewujud dalam sikap, pikiran, dan amal nyata.
Kepribadian Muhammadiyah adalah kepribadian Islam yang sadar zaman. Ia tidak alergi pada perubahan, namun juga tidak hanyut oleh arus. Muhammadiyah berdiri tegak di atas prinsip Al-Qur’an dan Sunnah, seraya menatap masa depan dengan keberanian ijtihad. Di sinilah letak kekuatan sekaligus tantangan Muhammadiyah: bagaimana menjaga kemurnian aqidah tanpa kehilangan relevansi sosial.
Tauhid sebagai Akar Kepribadian
Akar utama kepribadian Muhammadiyah adalah tauhid murni. Tauhid yang membebaskan manusia dari segala bentuk penghambaan selain kepada Allah. Tauhid yang menolak syirik dalam keyakinan, tetapi juga menolak syirik sosial berupa ketundukan pada kekuasaan, tradisi, dan materi yang melampaui batas.
Al-Qur’an menegaskan misi tauhid ini secara lugas:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ¹
Ayat ini tidak hanya berbicara tentang ibadah ritual, tetapi juga tentang orientasi hidup. Muhammadiyah memahami tauhid bukan sekadar pengakuan teologis, melainkan sumber etika dan energi perubahan sosial. Dari tauhid inilah lahir keberanian KH. Ahmad Dahlan untuk menggugat praktik keagamaan yang mapan namun tidak berdalil, sekaligus menggerakkan umat agar peduli pada pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan.
Purifikasi dan Tajdid Sosial
Kepribadian Muhammadiyah tidak dapat dilepaskan dari prinsip purifikasi dan tajdid. Pemurnian aqidah dan ibadah merupakan fondasi, tetapi tidak berhenti di situ. Pemurnian tanpa pembaruan akan melahirkan kekakuan, sementara pembaruan tanpa pemurnian akan kehilangan arah. Muhammadiyah memadukan keduanya secara sadar dan terukur.
Rasulullah ﷺ bersabda:
> إِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا²
Hadis ini menjadi landasan teologis bagi gerakan tajdid Muhammadiyah. Tajdid bukan berarti mengubah agama, melainkan menghidupkan kembali ruh ajaran Islam agar mampu menjawab tantangan zaman. Inilah sebabnya Muhammadiyah tidak hanya sibuk pada wacana fiqh ibadah, tetapi juga membangun sekolah modern, rumah sakit, perguruan tinggi, dan berbagai amal usaha yang menyentuh hajat hidup umat.
Islam Berkemajuan sebagai Watak Dasar
Kepribadian Muhammadiyah dikenal luas sebagai Islam Berkemajuan. Istilah ini bukan jargon kosong, melainkan konsepsi peradaban. Islam dipahami sebagai agama yang mendorong kemajuan ilmu, keadilan sosial, dan martabat manusia. Al-Qur’an berulang kali mengangkat derajat orang berilmu:
> يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ³
Ayat ini menjelaskan bahwa iman dan ilmu bukan dua kutub yang saling bertentangan, tetapi saling menguatkan. Karena itu, Muhammadiyah menjadikan pendidikan sebagai medan dakwah strategis. Kepribadian Muhammadiyah tercermin pada keberanian berpikir rasional, sikap terbuka terhadap ilmu pengetahuan, dan komitmen pada kemaslahatan umat.
Moderasi yang Tegas, Bukan Lunak Prinsip
Dalam lanskap umat yang kerap terpolarisasi, kepribadian Muhammadiyah menempati posisi wasathiyah. Namun moderasi Muhammadiyah bukan sikap netral yang hambar. Ia adalah keseimbangan yang tegas: tidak ekstrem ke kanan, tidak larut ke kiri. Prinsip dijaga, akhlak diutamakan.
Allah berfirman:
> وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا⁴
Kepribadian ini menjadikan Muhammadiyah mampu berdialog tanpa kehilangan jati diri, mampu berbeda tanpa harus bermusuhan. Dalam dakwah, Muhammadiyah menolak cara-cara kasar yang mencederai hikmah, tetapi juga menolak relativisme yang mengaburkan kebenaran.
Fastabiqul Khairat sebagai Etos Gerakan
Salah satu ciri paling menonjol dari kepribadian Muhammadiyah adalah etos fastabiqul khairat. Berlomba dalam kebaikan, bukan dalam kebisingan. Berlomba memberi manfaat, bukan merebut pengaruh. Al-Qur’an menegaskan:
> فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ⁵
Ayat ini menjelma menjadi gaya hidup persyarikatan. Muhammadiyah dikenal lebih sibuk membangun daripada memperdebatkan. Lebih fokus pada solusi daripada sensasi. Amal usaha bukan sekadar institusi, tetapi manifestasi kepribadian gerakan.
Kepribadian dalam Kehidupan Kebangsaan
Dalam konteks kebangsaan, kepribadian Muhammadiyah tampil sebagai kekuatan moral. Muhammadiyah tidak menjadikan politik praktis sebagai tujuan, tetapi tidak pula menjauh dari persoalan publik. Sikap ini lahir dari kesadaran bahwa amar ma’ruf nahi munkar harus hadir di ruang sosial, tanpa terjebak dalam pragmatisme kekuasaan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
>مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ…⁶
Hadis ini dipahami Muhammadiyah secara kontekstual dan beradab. Perubahan dilakukan dengan cara yang paling maslahat, mempertimbangkan hikmah dan dampak jangka panjang. Inilah sebabnya Muhammadiyah sering memilih jalur pendidikan, advokasi, dan pelayanan sosial sebagai bentuk perubahan yang berkelanjutan.
Tantangan Kontemporer Kepribadian Muhammadiyah
Di era media sosial, kepribadian Muhammadiyah diuji. Budaya instan, polarisasi opini, dan banjir informasi berpotensi mengikis tradisi ilmiah dan etika bermusyawarah. Jika tidak waspada, warga persyarikatan dapat terjebak dalam sikap reaktif yang bertentangan dengan watak asli Muhammadiyah.
Kepribadian Muhammadiyah menuntut kedewasaan berpikir, kesabaran berdakwah, dan ketekunan beramal. Ia tidak lahir dari amarah sesaat, tetapi dari proses panjang pencarian kebenaran.
Menjaga Kepribadian, Menjaga Masa Depan
Kepribadian Muhammadiyah bukan warisan statis, melainkan amanah dinamis. Ia harus dirawat, diajarkan, dan diteladankan. Tanpa kepribadian, Muhammadiyah hanya akan menjadi organisasi besar tanpa ruh. Dengan kepribadian, Muhammadiyah akan terus menjadi gerakan pencerahan yang relevan lintas zaman.
Pada akhirnya, pertanyaan penting bagi setiap warga persyarikatan bukanlah apa jabatan kita di Muhammadiyah, melainkan sejauh mana kepribadian Muhammadiyah hidup dalam diri kita, dalam cara berpikir, bersikap, dan berkhidmat.
Catatan Kaki
¹ QS. Adz-Dzariyat: 56
² HR. Abu Dawud, no. 4291
³ QS. Al-Mujadilah: 11
⁴ QS. Al-Baqarah: 143
⁵ QS. Al-Baqarah: 148
⁶ HR. Muslim, no. 49. (Oleh: Tengku Iskandar, M. Pd
Duta literasi Sumatera Barat)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
