SURAU.CO – Ketika bulan Ramadhan pergi, datanglah bulan Syawal. Banyak orang mengira bahwa Romadhon adalah tempat ibadah, sedangkan Syawal adalah tempat kembali kepada kebiasaan.
Padahal orang yang berilmu melihat bahwa Syawal adalah kelanjutan perjalanan, bukan akhir perjalanan.
Syawal hari pertama adalah hari kemenangan.
Kemenangan bukan karena telah berhari raya, bukan karena memakai baju baru, tetapi karena berhasil menahan diri selama Romadhon. Menang melawan lapar, menang melawan marah, menang melawan keinginan yang berlebihan. Maka orang yang benar-benar menang akan menjadi lebih sabar setelah Romadhon, bukan kembali seperti sebelum Romadhon.
Syawal hari kedua adalah hari ujian.
Setelah Romadhon pergi, apakah kita masih rajin sholat berjamaah, masih membaca Al-Qur’an, masih menjaga lisan, atau semuanya ikut pergi bersama Romadhon. Di sinilah terlihat, apakah Romadhon mengubah kita atau hanya melewati kita.
Syawal hari ketiga adalah hari kebiasaan baru. Orang yang berhasil dalam Romadhon biasanya membawa kebiasaan baik ke bulan-bulan berikutnya. Sedikit membaca Al-Qur’an tetapi istiqomah, sedikit sedekah tetapi rutin, sedikit dzikir tetapi terus dilakukan. Amal kecil yang terus menerus lebih dicintai daripada amal besar tetapi hanya sesekali.
Syawal hari keempat adalah hari kesadaran
Sadar bahwa hidup bukan Romadhon saja, bukan Syawal saja, tetapi seluruh hidup adalah ibadah.
Romadhon melatih, Syawal membuktikan, bulan-bulan berikutnya adalah menjaga.
Akhirnya orang berilmu berkata: “Romadhon adalah madrasahnya, Syawal adalah ujiannya, dan sebelas bulan setelahnya adalah pengamalannya.”
Maka jangan sampai kita menjadi orang yang rajin hanya di bulan
Romadhon, tetapi jadilah orang yang istiqomah di sebelas bulan setelahnya.
Karena tanda diterimanya amal Romadhon adalah menjadi lebih baik setelah Romadhon.
Semoga kita termasuk orang yang tidak hanya bertemu Romadhon, tetapi berubah karena Romadhon.
Berpegang Satu Madzhab, Mengkafirkan Pihak Lain yang Tidak Sepaham
Pada suatu waktu, ada seorang murid bertanya kepada gurunya, “Guru, mengapa ada orang yang sangat kuat berpegang pada satu madzhab, tetapi mudah menyalahkan bahkan mengkafirkan orang lain yang tidak sepaham?”
Sang guru tersenyum lalu berkata,
“Berpegang pada madzhab itu baik, tetapi mengkafirkan orang lain itu berbahaya. Madzhab itu jalan memahami agama, bukan agama itu sendiri.”
Murid itu bertanya lagi,
“Lalu bagaimana seharusnya kita bersikap?”
Guru menjawab,
“Para ulama besar pendiri madzhab tidak pernah mengajarkan untuk membenci madzhab lain. Mereka justru saling menghormati. Mereka berbeda pendapat, tetapi tetap saling menghargai ilmu dan iman saudaranya.”
Guru melanjutkan,
“Orang yang baru belajar satu pendapat sering mengira hanya pendapatnya yang paling benar. Seperti orang yang baru melihat lautan dari tepi pantai, lalu mengira ia sudah melihat seluruh lautan. Padahal lautan itu sangat luas.”
“Mengkafirkan orang lain hanya karena perbedaan pendapat fiqh, perbedaan cara ibadah, atau perbedaan penafsiran, itu bukan akhlak ulama, tetapi akhlak orang yang ilmunya belum dalam namun merasa paling benar.”
Perbedaan itu sejak dulu sudah ada
Yang berbahaya bukan perbedaannya, tetapi merasa paling benar sendiri dan menganggap orang lain pasti salah.”
“Madzhab itu seperti jalan menuju satu kota. Jalannya bisa berbeda-beda, tetapi tujuannya sama. Jangan karena jalannya berbeda lalu mengatakan orang lain tidak menuju kota yang benar.”
Murid itu pun mengangguk dan mulai memahami.
Guru menutup dengan nasihat, “Peganglah madzhab sebagai pegangan ilmu,
peganglah Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman, dan peganglah akhlak sebagai penuntun hati.
Karena orang berilmu tanpa akhlak akan mudah menyalahkan,
tetapi orang berilmu dengan akhlak akan mudah memahami dan menghormati.”
Hikmah: Berpegang pada madzhab adalah menjaga ilmu,
menghormati perbedaan adalah menjaga persaudaraan,
dan tidak mudah mengkafirkan adalah menjaga iman kita sendiri. (Bambang JB)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
