SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Opinion
Beranda » Berita » Asal Mula Kata Lebaran, Bukan Panjangan, Luasan, atau Kelilingan

Asal Mula Kata Lebaran, Bukan Panjangan, Luasan, atau Kelilingan

Asal Mula Kata Lebaran, Bukan Panjangan, Luasan, atau Kelilingan
Asal Mula Kata Lebaran, Bukan Panjangan, Luasan, atau Kelilingan

 

SURAU.CO – Di sebuah pengajian kecil menjelang hari raya, seorang jamaah bertanya kepada gurunya.

“Guru, banyak orang mengatakan bahwa kata Lebaran berasal dari kata lebar yang berarti luas, atau ada juga yang mengatakan dari kata kelilingan karena setelah puasa kita berkeliling bersilaturahmi. Benarkah begitu?”

Sang guru tersenyum, lalu berkata dengan lembut.

“Penjelasan itu sering kita dengar, tetapi sebenarnya bukan asal kata yang sesungguhnya. Dalam tradisi bahasa dan budaya Nusantara, kata Lebaran lebih dekat dengan akar kata dalam bahasa Jawa, yaitu lebar yang bermakna selesai atau habis.”
Para jamaah mulai memperhatikan.

Kisah Hikmah Ilmu “Syafaat dan Sholawat”

Guru itu melanjutkan,
“Dalam bahasa Jawa lama, kata wis lebar berarti sudah selesai.

Maka ketika bulan puasa telah selesai dijalani selama sebulan penuh, orang Jawa menyebut hari itu sebagai Lebaran, yaitu hari berakhirnya puasa Romadhon.”

Namun makna itu tidak berhenti pada arti selesai saja.
“Lebaran juga mengandung makna batin,” kata sang guru.

“Setelah sebulan menahan diri dari makan, minum, dan hawa nafsu, manusia diharapkan selesai dari dosa-dosa kecilnya, kembali kepada kesucian.”

Tanda selesainya perjalanan menahan Diri

Karena itu dalam tradisi masyarakat kita muncul beberapa ungkapan:

Pendapat Empat Mazhab tentang Shalat Menghadap Kuburan

Lebaran → selesai menjalani puasa.

Luberan → harapan agar rahmat Allah meluber atau melimpah.

Leburan → dosa-dosa dilebur dengan saling memaafkan.

Laburan → hati kembali putih bersih seperti kapur yang melabur dinding.

Guru itu kemudian menutup penjelasannya. “Jadi Lebaran bukan sekadar soal kata lebar yang berarti luas, bukan pula karena orang berkeliling. Lebaran adalah tanda selesainya perjalanan menahan diri, dan dimulainya perjalanan baru menjadi manusia yang lebih bersih hatinya.”

Kisah Hikmah Ilmu “Asal Kata Bidadari”

Para jamaah pun mengangguk. Mereka menyadari, bahwa Lebaran bukan hanya hari kemenangan yang dirayakan dengan pakaian baru dan hidangan istimewa, tetapi hari ketika manusia diingatkan untuk kembali kepada kesucian jiwa.

Sebab hakikat Lebaran bukan pada kemeriahan harinya, melainkan pada kelapangan hati untuk saling memaafkan.

 

 

 


Kisah Hikmah Romadhon “Perjalanan Hari Kedua Puluh Delapan, Dua Puluh Sembilan, dan Tiga Puluh”

Perjalanan Romadhon akhirnya sampai pada hari-hari terakhir. Hari kedua puluh delapan sering terasa seperti seseorang yang telah hampir sampai di tujuan perjalanan panjang. Hati mulai merasakan dua perasaan yang bercampur: syukur karena telah menjalani Romadhon, dan sedih karena ia hampir berpisah.

Pada hari kedua puluh delapan, seorang pencari hikmah mulai banyak merenung. Ia melihat kembali perjalanan dirinya selama Romadhon. Apakah lisannya lebih terjaga, apakah hatinya lebih lembut, dan apakah hubungannya dengan Alloh menjadi lebih dekat.

Seorang guru pernah berkata:
“Di akhir Romadhon, jangan hanya bertanya berapa banyak ibadah yang kita lakukan, tetapi tanyakan juga: apakah Romadhon telah memperbaiki hati kita.”

Kemudian datanglah hari kedua puluh sembilan. Hari ini sering menjadi hari yang penuh harap sekaligus penantian. Sebab pada malamnya, sebagian orang mulai menanti kabar apakah Romadhon akan berakhir atau masih dilanjutkan satu hari lagi.

Di saat seperti itu, seorang alim memberi nasihat:
“Jangan biarkan semangat ibadah berhenti hanya karena Romadhon hampir selesai. Justru di saat terakhir inilah keikhlasan diuji.”

Ada orang yang bersemangat di awal, tetapi melemah di akhir.

Namun ada pula orang yang justru menguatkan ibadahnya ketika Romadhon hampir pergi.

Jika Alloh menetapkan Romadhon menjadi tiga puluh hari, maka hari ketiga puluh adalah hari perpisahan. Seperti seorang tamu mulia yang telah lama tinggal bersama kita, lalu akhirnya harus kembali pergi.

Bulan Ramadhon Datang Setiap Tahun

Seorang pencari hikmah berkata dengan hati yang haru:
“Wahai Romadhon, engkau datang membawa rahmat dan ampunan. Jika engkau pergi, semoga kebaikan yang engkau ajarkan tetap tinggal di dalam hati kami.”

Pada hari terakhir ini, seorang hamba biasanya memperbanyak doa:
“Ya Alloh, jangan jadikan Romadhon ini sebagai Romadhon terakhirku kecuali Engkau telah mengampuni dosa-dosaku.”

Karena sesungguhnya, keberhasilan Romadhon bukan hanya ketika seseorang mampu menyelesaikan puasanya hingga akhir, tetapi ketika nilai-nilai Romadhon tetap hidup dalam kehidupannya setelah bulan itu berlalu. Romadhon datang setiap tahun.

Namun tidak semua manusia diberi kesempatan bertemu kembali dengannya.

Maka perjalanan hari kedua puluh delapan, dua puluh sembilan, dan tiga puluh mengajarkan satu hikmah besar:
Romadhon mungkin akan pergi, tetapi semoga hati yang telah ditempa olehnya tetap berjalan menuju Alloh. (Bambang JB)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.