SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beranda » Berita » Kisah Hikmah Ilmu “Syafaat dan Sholawat”

Kisah Hikmah Ilmu “Syafaat dan Sholawat”

 

SURAU.CO – Di suatu majelis kecil selepas pengajian malam, seorang murid bertanya kepada gurunya dengan wajah penuh keingintahuan.
“Guru, sering kita dianjurkan membaca sholawat kepada Nabi.

Banyak yang mengatakan bahwa sholawat akan mendatangkan syafaat.

Bagaimana sebenarnya hubungan antara sholawat dan syafaat itu?”

Sang guru tersenyum, lalu menjawab dengan perlahan agar semua yang hadir dapat merenungkannya.
“Anakku, sholawat adalah bentuk cinta dan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW.

Pendapat Empat Mazhab tentang Shalat Menghadap Kuburan

Ketika seseorang bersholawat, ia sebenarnya sedang menyebut nama kekasih Alloh dengan penuh harap dan kerinduan.”

Murid itu kembali bertanya, “Lalu bagaimana dengan syafaat, Guru?”

Sang guru menjelaskan,
“Syafaat adalah pertolongan atau perantaraan yang diberikan oleh Nabi Muhammad SAW kepada umatnya pada hari kiamat, dengan izin Alloh. Syafaat bukanlah sesuatu yang bisa dipaksakan oleh manusia, melainkan anugerah yang diberikan Alloh kepada hamba-Nya melalui Nabi yang dimuliakan.”

Suasana majelis menjadi semakin

Hening

Guru itu melanjutkan,
“Ketika seseorang memperbanyak sholawat, ia sebenarnya sedang menanam benih kedekatan dengan Rosululloh. Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa orang yang paling dekat dengan Nabi pada hari kiamat adalah mereka yang paling banyak bersholawat kepadanya.”

Kisah Hikmah Ilmu “Asal Kata Bidadari”

Seorang murid lain bertanya, “Apakah cukup hanya membaca sholawat agar mendapatkan syafaat?”

Sang guru tersenyum lagi. “Sholawat bukan sekadar bacaan di lisan. Sholawat adalah pengingat agar kita meneladani akhlak Nabi.

Jika seseorang bersholawat tetapi tidak berusaha mengikuti ajaran beliau, maka sholawatnya hanya berhenti pada suara, belum sampai pada makna.”

Kemudian beliau menutup penjelasannya dengan sebuah nasihat. “Sholawat itu seperti mengetuk pintu cinta kepada Rasululloh.

Semakin sering seseorang mengetuknya dengan hati yang tulus, semakin dekat ia dengan cahaya ajaran beliau. Dan dari kedekatan itulah manusia berharap mendapatkan syafaat, bukan karena merasa pantas, tetapi karena berharap pada kasih sayang Alloh melalui Nabi-Nya.”

Menikmati Lelah dalam Ibadah Ramadhan: Jalan Menuju Kemuliaan di Sisi Allah

Para murid pun terdiam, memahami bahwa sholawat bukan sekadar amalan yang diucapkan, melainkan jalan untuk menghidupkan cinta kepada Nabi dan meneladani akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari.

Hikmahnya: Sholawat bukan hanya bacaan, tetapi jembatan cinta kepada Rosululloh.

Dari cinta itulah tumbuh harapan akan syafaat, selama manusia berusaha mengikuti ajaran dan akhlak beliau dengan tulus.

 

 

 


Kisah Hikmah Romadhon “Perjalanan Hari Kedua Puluh Delapan, Dua Puluh Sembilan, dan Tiga Puluh”

 

Perjalanan Romadhon akhirnya sampai pada hari-hari terakhir. Hari kedua puluh delapan sering terasa seperti seseorang yang telah hampir sampai di tujuan perjalanan panjang. Hati mulai merasakan dua perasaan yang bercampur: syukur karena telah menjalani Romadhon, dan sedih karena ia hampir berpisah.

Pada hari kedua puluh delapan, seorang pencari hikmah mulai banyak merenung. Ia melihat kembali perjalanan dirinya selama Romadhon. Apakah lisannya lebih terjaga, apakah hatinya lebih lembut, dan apakah hubungannya dengan Alloh menjadi lebih dekat.

Seorang guru pernah berkata:
“Di akhir Romadhon, jangan hanya bertanya berapa banyak ibadah yang kita lakukan, tetapi tanyakan juga: apakah Romadhon telah memperbaiki hati kita.”

Kemudian datanglah hari kedua puluh sembilan. Hari ini sering menjadi hari yang penuh harap sekaligus penantian. Sebab pada malamnya, sebagian orang mulai menanti kabar apakah Romadhon akan berakhir atau masih dilanjutkan satu hari lagi.

Di saat seperti itu, seorang alim memberi nasihat: “Jangan biarkan semangat ibadah berhenti hanya karena Romadhon hampir selesai. Justru di saat terakhir inilah keikhlasan diuji.”

Ada orang yang bersemangat di awal, tetapi melemah di akhir. Namun ada pula orang yang justru menguatkan ibadahnya ketika Romadhon hampir pergi.

Jika Alloh menetapkan Romadhon menjadi tiga puluh hari, maka hari ketiga puluh adalah hari perpisahan. Seperti seorang tamu mulia yang telah lama tinggal bersama kita, lalu akhirnya harus kembali pergi.

Seorang pencari hikmah berkata dengan hati yang haru: “Wahai Romadhon, engkau datang membawa rahmat dan ampunan. Jika engkau pergi, semoga kebaikan yang engkau ajarkan tetap tinggal di dalam hati kami.”

Pada hari terakhir ini, seorang hamba biasanya memperbanyak doa: “Ya Alloh, jangan jadikan Romadhon ini sebagai Romadhon terakhirku kecuali Engkau telah mengampuni dosa-dosaku.”

Karena sesungguhnya, keberhasilan Romadhon bukan hanya ketika seseorang mampu menyelesaikan puasanya hingga akhir, tetapi ketika nilai-nilai Romadhon tetap hidup dalam kehidupannya setelah bulan itu berlalu. Romadhon datang setiap tahun.

Namun tidak semua manusia diberi kesempatan bertemu kembali dengannya.

Maka perjalanan hari kedua puluh delapan, dua puluh sembilan, dan tiga puluh mengajarkan satu hikmah besar:
Romadhon mungkin akan pergi, tetapi semoga hati yang telah ditempa olehnya tetap berjalan menuju Alloh. (Bambang JB)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.