SURAU.CO – Pada suatu majelis kecil selepas sholat maghrib, seorang murid bertanya kepada gurunya.
“Guru, sering kita mendengar kata zakat, infaq, shodaqoh, dan amal jariyah. Semuanya terlihat sama, yaitu memberi. Namun apakah sebenarnya sama?”
Sang guru tersenyum, lalu berkata dengan lembut:
“Anakku, semuanya memang tentang memberi. Tetapi dalam ilmu agama, masing-masing memiliki kedudukan dan makna yang berbeda.”
Kemudian sang guru menjelaskan.
Zakat adalah kewajiban yang telah ditentukan oleh syariat. Ada ukuran, ada nisab, ada waktu, dan ada golongan yang berhak menerimanya.
Zakat ibarat membersihkan harta, karena dalam setiap rezeki kita ada hak orang lain yang Allah titipkan.
Infaq adalah mengeluarkan sebagian harta untuk kebaikan di jalan Allah. Tidak selalu terikat aturan seperti zakat. Bisa kapan saja dan kepada siapa saja yang membutuhkan.
Kepedulian Sosial Seorang Mukmin
Infaq sering menjadi bukti kepedulian sosial seorang mukmin.
Shodaqoh lebih luas lagi. Tidak hanya harta, tetapi juga perbuatan baik. Senyum kepada saudara, membantu orang yang kesulitan, menyingkirkan duri di jalan, bahkan kata-kata yang baik pun termasuk shodaqoh.
Sang guru berhenti sejenak, lalu melanjutkan.
“Sedangkan amal jariyah adalah amal yang pahalanya terus mengalir walaupun pelakunya telah meninggal dunia.”
Misalnya:
membangun masjid
membuat sumur untuk masyarakat
menanam pohon yang bermanfaat
mengajarkan ilmu yang terus diamalkan orang
Selama manfaatnya masih dirasakan, pahalanya tetap mengalir seperti sungai yang tidak berhenti.
Kehidupan yang Lebih Panjang daripada Umur Didunia
Sang murid kemudian berkata, “Jadi, seseorang bisa saja hidup sederhana tetapi tetap kaya pahala?”
Guru itu mengangguk.
“Benar. Orang yang hatinya ringan untuk memberi, sesungguhnya sedang menabung untuk kehidupan yang lebih panjang daripada umur di dunia.”
Kemudian sang guru menutup nasihatnya:
“Zakat menjaga kewajiban kita,
Infaq melatih kepedulian kita,
Shodaqoh melembutkan hati kita,
dan Amal Jariyah memperpanjang pahala kita.”
Maka orang yang memahami ilmu ini tidak akan takut hartanya berkurang, karena ia yakin bahwa apa yang diberikan di jalan Allah tidak pernah benar-benar hilang, melainkan disimpan untuk kehidupan yang kekal.
Hikmah:
Harta yang disimpan bisa habis, tetapi harta yang dibagikan dengan ikhlas justru akan menjadi bekal yang terus hidup hingga setelah kita meninggalkan dunia.
Kisah Hikmah Romadhon “Perjalanan Hari Kedua Puluh Dua dan Dua Puluh Tiga”
Memasuki hari kedua puluh dua Romadhon, perjalanan seorang hamba seakan telah berada di tengah lautan sepuluh malam terakhir.
Pada saat inilah kesungguhan mulai benar-benar diuji. Tidak sedikit orang yang di awal Romadhon sangat bersemangat, namun ketika waktu semakin mendekati akhir, justru kelelahan mulai terasa.
Seorang guru hikmah pernah berkata kepada muridnya:
“Di sepuluh malam terakhir Ramadhan, bukan hanya tubuh yang diuji, tetapi juga keikhlasan hati. Apakah kita beribadah karena kebiasaan, atau karena benar-benar ingin mendekat kepada Alloh.”
Hari kedua puluh dua mengajarkan manusia tentang kesabaran dalam istiqomah. Sebab ibadah yang paling berat sering kali bukan yang paling lama, tetapi yang terus dijaga tanpa henti.
Kemudian datanglah malam kedua puluh tiga.
Dalam sebagian riwayat dan pendapat ulama, malam ganjil di sepuluh malam terakhir memiliki harapan besar bertemu dengan malam kemuliaan. Karena itu banyak orang menghidupkan malam ini dengan shalat, doa, dan membaca Al-Qur’an.
Namun seorang alim pernah mengingatkan:
“Lailatul Qadar tidak hanya untuk mereka yang kuat berdiri lama, tetapi juga untuk mereka yang tulus hatinya ketika berdoa.”
Kedalaman Rasa Tunduk kepada Allah
Ada orang yang sholatnya panjang, namun hatinya lalai.
Ada pula orang yang doanya sederhana, namun hatinya penuh harap kepada Alloh.
Pada perjalanan hari kedua puluh dua dan dua puluh tiga, seorang pencari hikmah mulai memahami bahwa Romadhon bukan hanya tentang banyaknya amal, tetapi tentang kedalaman rasa tunduk kepada Alloh.
Maka orang yang bijak akan berkata dalam dirinya:
“Jika malam kemuliaan datang tanpa aku sadari, semoga Alloh tetap melihat kesungguhan hatiku.”
Karena pada akhirnya, perjalanan Romadhon bukan sekadar mencari satu malam yang mulia, tetapi membentuk hati yang selalu ingin dekat kepada Sang Pencipta. (Bambang JB)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
