Bulan Ramadhan di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, selalu menghadirkan suasana spiritual yang sangat kental. Ribuan santri dari berbagai penjuru Nusantara berkumpul untuk menimba ilmu agama melalui tradisi ngaji pasaran. Sosok sentral yang sangat melekat dengan tradisi ini adalah almarhum KH Idris Marzuqi. Beliau merupakan pengasuh kharismatik yang memberikan teladan luar biasa dalam menjaga konsistensi pengajian kitab kuning.
Dedikasi Tanpa Batas di Bulan Suci
KH Idris Marzuqi Lirboyo terkenal sebagai pribadi yang sangat disiplin dalam mengajar. Beliau tidak pernah membiarkan waktu Ramadhan berlalu tanpa makna. Bagi beliau, bulan puasa adalah momentum emas untuk mentransfer ilmu kepada para santri. Meskipun jadwal pesantren sangat padat, beliau tetap memprioritaskan jadwal pengajian kitab dengan sangat ketat.
Tradisi ngaji pasaran di Lirboyo bukan sekadar rutinitas tahunan biasa. Ini adalah sebuah manifestasi dari kecintaan ulama terhadap literatur Islam klasik. KH Idris Marzuqi memimpin langsung proses pembacaan kitab-kitab tebal dengan penuh kesabaran. Beliau membacakan teks Arab, memberikan makna (maknani), sekaligus menjelaskan maksud dari setiap bait atau kalimat dalam kitab tersebut.
Menjaga Sanad Keilmuan Pesantren
Salah satu alasan utama keteguhan KH Idris Marzuqi adalah keinginan menjaga sanad keilmuan. Beliau percaya bahwa membaca kitab secara langsung di hadapan guru memiliki keberkahan tersendiri. Tradisi ini menghubungkan pemahaman santri modern dengan pemikiran para ulama salaf terdahulu. Beliau sangat berhati-hati dalam menyampaikan isi kitab agar tidak terjadi penyimpangan makna.
Para santri yang mengikuti pengajian beliau merasakan kedalaman ilmu yang luar biasa. Beliau sering kali menyisipkan nasihat kehidupan di sela-sela penjelasan kitab. Kutipan beliau yang sangat terkenal adalah: “Ngaji itu penting, tapi yang lebih penting adalah istiqamah dalam mengaji.” Kalimat ini menjadi pemacu semangat bagi ribuan santri untuk terus bertahan di tengah rasa kantuk dan lapar saat berpuasa.
Kedisiplinan yang Menginspirasi Dunia Santri
Keteguhan KH Idris Marzuqi Lirboyo terlihat jelas dari jadwal mengajar beliau yang sangat padat. Beliau mulai mengajar sejak pagi hari hingga larut malam. Jeda waktu hanya beliau gunakan untuk beribadah wajib dan istirahat seperlunya. Bahkan dalam kondisi kesehatan yang kurang prima, beliau tetap berusaha menemui para santri di aula atau masjid pesantren.
Semangat beliau membuktikan bahwa usia bukan penghalang untuk terus berkhidmat pada ilmu. Beliau pernah berpesan, “Santri harus kuat tirakat, karena ilmu tidak akan datang pada raga yang selalu bermanja-manja.” Keteguhan inilah yang membuat nama Lirboyo semakin besar dan disegani sebagai pusat keilmuan Islam di Indonesia.
Sederhana dalam Sikap, Tinggi dalam Ilmu
Meskipun menyandang status sebagai ulama besar, KH Idris Marzuqi tetap tampil sangat sederhana. Beliau sering menemui tamu dan santri dengan pakaian bersahaja. Kerendahan hati beliau mencerminkan isi kitab-kitab akhlak yang beliau ajarkan setiap hari. Beliau tidak hanya mengajarkan teori melalui kitab kuning, tetapi juga memberikan contoh nyata melalui perilaku sehari-hari.
Tradisi ngaji Ramadhan di bawah bimbingan beliau selalu menarik minat santri luar daerah (santri kalong). Mereka sengaja datang ke Kediri hanya untuk mendapatkan keberkahan dari pengajian KH Idris Marzuqi. Suasana riuh rendah suara santri yang memaknai kitab menjadi musik religi yang indah di sepanjang bulan Ramadhan.
Warisan Abadi untuk Generasi Mendatang
Kini, meskipun KH Idris Marzuqi telah tiada, semangat dan tradisi yang beliau tanamkan tetap hidup. Pondok Pesantren Lirboyo terus melanjutkan estafet pengajian kitab Ramadhan dengan penuh semangat. Para penerus beliau memegang teguh prinsip-prinsip pendidikan yang telah beliau gariskan selama puluhan tahun.
Keteguhan KH Idris Marzuqi Lirboyo dalam menjaga tradisi ngaji kitab menjadi pengingat bagi kita semua. Ilmu adalah cahaya yang harus terus dijaga nyalanya melalui proses belajar yang tekun. Beliau telah membuktikan bahwa dengan istiqamah, seorang manusia bisa memberikan manfaat yang sangat luas bagi umat manusia.
Kisah perjuangan beliau dalam mengajar kitab kuning akan selalu menjadi inspirasi bagi dunia pesantren. Kita belajar bahwa menjaga tradisi bukan berarti anti-kemajuan, melainkan menjaga akar agar pohon keilmuan tetap kokoh berdiri. Semoga semangat KH Idris Marzuqi Lirboyo senantiasa mengalir dalam sanubari setiap penuntut ilmu di Indonesia.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
