Ramadhan sering kali hadir dengan wajah yang ganda. Di satu sisi, ia adalah bulan penuh berkah. Namun di sisi lain, Ramadhan sering terjebak dalam hiruk pikuk materialisme. Budayawan sekaligus cendekiawan Muslim, Emha Ainun Nadjib, atau akrab kita sapa Cak Nun, memiliki pandangan tajam soal ini. Beliau mengajak kita untuk mencari “Tuhan” yang asli di balik keriuhan tersebut.
Ramadhan yang Terjebak dalam Seremonial
Setiap tahun, kita menyaksikan fenomena yang sama. Mal-mal penuh dengan pemburu diskon lebaran. Acara televisi penuh dengan komedi yang terkadang melupakan substansi ibadah. Cak Nun melihat fenomena ini sebagai bentuk pengalihan fokus. Kita sering lebih sibuk dengan “bungkus” daripada “isi” dari Ramadhan itu sendiri.
Bagi Cak Nun, Ramadhan bukan sekadar perayaan tahunan. Ini adalah momentum untuk melakukan perjalanan ke dalam diri. Beliau menekankan bahwa ibadah harus membawa kita pada perjumpaan personal dengan Sang Pencipta. Jika puasa hanya menahan lapar, maka kita hanya mendapatkan rasa haus.
Menemukan Tuhan dalam Kesunyian
Dalam berbagai kesempatan di forum Maiyah, Cak Nun sering mengingatkan pentingnya kejujuran batin. Beliau pernah berucap:
“Puasa itu rahasia antara manusia dengan Tuhannya. Tidak ada yang tahu kamu benar-benar puasa atau tidak, kecuali dirimu dan Allah.”
Kutipan ini menegaskan bahwa esensi Cak Nun Ramadhan adalah privasi spiritual. Di tengah keramaian buka bersama dan pamer kesalehan, kita harus tetap memegang teguh hubungan privat tersebut. Kita harus mampu menemukan Tuhan saat suasana sedang bising. Tuhan tidak hanya ada di dalam masjid yang megah. Tuhan hadir dalam setiap tarikan napas manusia yang tulus.
Kritik Terhadap Budaya Konsumsi
Cak Nun mengamati bahwa masyarakat modern sering salah kaprah. Kita menganggap Ramadhan sebagai bulan konsumsi yang meningkat. Padahal, puasa seharusnya melatih kita untuk mengerem nafsu. “Kita ini sering memindahkan waktu makan saja, bukan mengurangi porsi ego,” ungkapnya dalam sebuah diskusi.
Kita seharusnya menggunakan Ramadhan untuk menyederhanakan hidup. Dengan hidup sederhana, kita bisa melihat wajah Tuhan dengan lebih jelas. Ego yang besar sering kali menutupi pandangan kita terhadap kebenaran. Cak Nun mengajak kita untuk meruntuhkan berhala-berhala modern. Berhala tersebut bisa berupa jabatan, kekayaan, atau pujian orang lain.
Kesalehan Sosial vs Kesalehan Pribadi
Ibadah dalam perspektif Cak Nun Ramadhan juga menyentuh aspek sosial. Beliau tidak ingin umat Islam hanya saleh secara ritual. Kesalehan tersebut harus mewujud dalam perilaku sehari-hari. Menemukan Tuhan berarti mencintai makhluk-Nya. Kita tidak bisa mengaku dekat dengan Tuhan jika kita menyakiti sesama.
Beliau sering menekankan:
“Agama itu letaknya di dalam hati. Output-nya adalah akhlak. Kalau kamu merasa beragama tapi akhlakmu buruk, mungkin kamu belum beragama.”
Ramadhan harus menjadi laboratorium untuk memperbaiki akhlak tersebut. Kita melatih kesabaran bukan hanya saat menahan lapar. Kita melatih kesabaran saat menghadapi tetangga yang sulit atau saat berada di kemacetan jalan raya. Itulah tempat Tuhan benar-benar “menguji” kehadiran-Nya dalam diri kita.
Kembali ke Titik Nol
Cak Nun sering menyebut Ramadhan sebagai proses kembali ke titik nol (itidal). Kita membersihkan sisa-sisa kotoran hati selama sebelas bulan sebelumnya. Proses ini membutuhkan ketenangan. Kita tidak mungkin bisa membersihkan hati jika jiwa kita masih penuh dengan dendam dan kebencian.
Dalam keheningan malam, saat hiruk pikuk dunia mereda, itulah saat terbaik berkomunikasi dengan-Nya. Jangan biarkan gadget atau media sosial mencuri waktu sunyi Anda dengan Tuhan. Manfaatkan setiap detik untuk mengenali siapa diri kita sebenarnya di hadapan Allah.
Kesimpulan: Menjadi Manusia yang Utuh
Pada akhirnya, pemikiran Cak Nun Ramadhan membawa kita pada satu muara. Ibadah puasa adalah alat untuk menjadikan kita manusia yang utuh. Manusia yang sadar akan eksistensi Tuhannya di setiap langkah. Jangan sampai hiruk pikuk Ramadhan membuat kita justru semakin jauh dari esensi ketuhanan.
Cari Tuhan di balik lapar yang menyiksa. Temukan Tuhan di balik haus yang mengeringkan kerongkongan. Dan yang terpenting, temukan Tuhan di dalam ketulusan hati kita saat berbagi kepada sesama. Ramadhan adalah perjalanan pulang. Pastikan kita benar-benar sampai ke rumah, bukan hanya berputar-putar di halaman saja.
Mari kita jadikan Ramadhan tahun ini lebih bermakna. Kurangi kebisingan duniawi dan perbanyak dialog batin. Sebab, di sanalah Tuhan menunggu kita dengan segala rahmat-Nya yang tak terbatas.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
