Kehadiran bulan suci Ramadhan selalu membawa semangat ibadah yang tinggi bagi umat Islam. Namun, antusiasme ini terkadang tidak dibarengi dengan ketelitian dalam memilah sumber rujukan. Mantan Imam Besar Masjid Istiqlal, almarhum KH Ali Mustafa Yaqub, semasa hidupnya sangat vokal dalam meluruskan fenomena ini. Beliau menulis karya monumental untuk memperingatkan umat agar tidak terjebak pada penggunaan hadits palsu atau maudhu selama bulan puasa.
Sosok Penjaga Kemurnian Sunnah
KH Ali Mustafa Yaqub bukan sekadar ulama biasa. Beliau merupakan pakar hadits terkemuka Indonesia yang diakui secara internasional. Melalui bukunya yang berjudul “Hadis-hadis Bermasalah di Bulan Ramadan”, beliau membedah berbagai narasi yang populer di masyarakat namun memiliki sanad yang cacat. Beliau menekankan bahwa mencintai Nabi Muhammad SAW berarti harus menjaga kemurnian sabdanya. Kita tidak boleh menyandarkan perkataan dusta kepada Rasulullah hanya demi memotivasi orang lain untuk beribadah.
Kritik Hadits Pembagian Ramadhan Menjadi Tiga
Salah satu hadits yang paling sering kita dengar dalam ceramah adalah tentang pembagian bulan Ramadhan. Bunyi kutipan hadits tersebut adalah:
“Awwalu syahri ramadhana rahmatun, wa awsathuhu maghfiratun, wa akhiruhu ‘itqun minan nar.”
(Artinya: Permulaan bulan Ramadhan adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan, dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka).
Kiai Ali Mustafa Yaqub mengkritik keras penggunaan hadits ini sebagai landasan utama. Berdasarkan penelitian beliau, hadits ini memiliki cacat pada perawinya. Beliau menjelaskan bahwa kasih sayang Allah (rahmat) dan ampunan-Nya (maghfirah) tersedia luas di sepanjang bulan Ramadhan, bukan hanya pada sepuluh hari tertentu. Mengkotak-kotakkan rahmat Allah justru mempersempit makna kemuliaan Ramadhan itu sendiri. Beliau mendorong umat untuk mencari rahmat dan ampunan sejak malam pertama hingga malam terakhir.
Meluruskan Mitos “Tidurnya Orang Berpuasa adalah Ibadah”
Hadits populer lain yang sering menjadi “pembenaran” bagi orang yang malas di bulan puasa adalah:
“Naumush shoimi ‘ibadatun.”
(Artinya: Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah).
KH Ali Mustafa Yaqub menegaskan bahwa riwayat ini sangat lemah, bahkan menjurus pada kepalsuan. Secara logika dan semangat keislaman, hadits ini justru kontraproduktif. Beliau berargumen bahwa Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk menjadi malas atau menghabiskan waktu dengan tidur.
Puasa seharusnya menjadi momentum untuk meningkatkan produktivitas dan amal shaleh. Menjadikan tidur sebagai alasan ibadah hanya akan menjauhkan umat dari esensi perjuangan di bulan Ramadhan. Beliau mengingatkan bahwa para sahabat Nabi justru melakukan perang besar dan penaklukan penting saat mereka sedang menjalankan ibadah puasa.
Hadits “Berpuasalah Maka Kamu Akan Sehat”
Kalimat “Shumu Tashihhu” atau “Berpuasalah maka kamu akan sehat” juga tidak luput dari koreksi beliau. Meskipun secara medis puasa memang memberikan manfaat kesehatan, KH Ali Mustafa Yaqub menjelaskan bahwa kalimat tersebut bukanlah sabda Nabi yang shahih.
Status hadits ini adalah dhaif (lemah). Beliau berpesan agar kita tetap berpuasa dengan niat tulus karena perintah Allah, bukan sekadar mencari kesembuhan fisik. Menjadikan kesehatan sebagai motif utama dapat mengaburkan nilai keikhlasan dalam beribadah kepada Sang Pencipta.
Bahaya Menyebarkan Hadits Tanpa Dasar
KH Ali Mustafa Yaqub sering mengutip peringatan keras dari Rasulullah terkait pendustaan atas nama beliau. Beliau ingin menyadarkan para penceramah dan pengguna media sosial agar lebih berhati-hati. Menyebarkan hadits palsu, meskipun tujuannya baik (li at-targhib), tetap merupakan pelanggaran serius dalam ilmu hadits.
Beliau menyarankan agar umat Islam kembali merujuk pada kitab-kitab hadits yang kredibel seperti Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Masih banyak hadits shahih yang menjelaskan keutamaan Ramadhan tanpa perlu menggunakan riwayat yang bermasalah. Literasi hadits yang baik akan menjaga kualitas iman seseorang dari penyimpangan informasi.
Penutup: Ibadah Berdasarkan Ilmu
Melalui bimbingan KH Ali Mustafa Yaqub, kita belajar bahwa kualitas ibadah jauh lebih penting daripada kuantitas informasi yang belum tentu benar. Ramadhan adalah bulan ilmu dan bulan Al-Qur’an. Kita harus memastikan bahwa setiap doa dan amalan yang kita jalankan berpijak pada tuntunan Nabi yang otentik. Dengan menjauhi hadits palsu, kita telah ikut serta dalam menjaga kesucian agama Islam. Mari kita jadikan Ramadhan tahun ini sebagai momentum untuk belajar agama secara lebih mendalam dan kritis.
Catatan Penulisan:
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
