Bulan Ramadhan selalu menjadi momentum bagi umat Islam untuk meningkatkan intensitas ibadah. Di tengah hiruk-pikuk dunia, sosok KH Maimun Zubair atau Mbah Moen memberikan teladan nyata. Ulama kharismatik asal Sarang, Rembang ini memiliki cara istimewa dalam menghidupkan malam-malam penuh berkah. Keteladanan KH Maimun Zubair di Bulan Ramadhan Beliau tidak sekadar menjalankan rutinitas, tetapi menghayati setiap detik sebagai bentuk pengabdian kepada Sang Khalik.
Menjadikan Shalat Malam sebagai Sandaran Utama
Mbah Moen memandang malam Ramadhan sebagai waktu yang paling eksklusif untuk berkomunikasi dengan Allah SWT. Beliau senantiasa mendirikan shalat Tarawih dengan penuh kekhusyukan dan ketenangan. Bagi beliau, ibadah ini bukan sekadar menggugurkan kewajiban sunnah secara cepat. Beliau menikmati setiap bacaan ayat Al-Qur’an yang meluncur dari lisannya.
Setelah melaksanakan Tarawih, Mbah Moen tidak lantas beristirahat. Beliau melanjutkan malam dengan rangkaian shalat sunnah lainnya, seperti shalat Tahajud dan shalat Hajat. Beliau mengajarkan bahwa kekuatan seorang mukmin terletak pada sujud-sujud panjangnya di keheningan malam. Kebiasaan ini menunjukkan betapa besar rasa rindu beliau terhadap kasih sayang Allah SWT.
Konsistensi dalam Dzikir dan Tadarrus Al-Qur’an
Selain shalat, Mbah Moen mengisi malam Ramadhan dengan untaian dzikir dan lantunan ayat suci. Beliau sering kali menghabiskan waktu berjam-jam untuk merenungi makna Al-Qur’an. Kedekatan beliau dengan kalam Tuhan menciptakan aura ketenangan yang luar biasa bagi siapa pun di sekitarnya.
Dalam sebuah kesempatan, beliau pernah memberikan pesan mendalam mengenai urgensi ibadah malam. Beliau berkata:
“Wong nek kepengin mulyo iku kudu gelem rekoso, opo maneh ing sasi Ramadhan. Gunakno wektu bengi kanggo nyedak marang Gusti Allah.”
Kutipan ini menegaskan bahwa kemuliaan tidak datang secara instan. Seseorang memerlukan perjuangan dan kelelahan dalam beribadah untuk meraih derajat yang tinggi di sisi Allah.
Menghidupkan Malam dengan Ilmu Pengetahuan
Hal yang membedakan Mbah Moen adalah cara beliau memadukan ibadah ritual dengan ibadah intelektual. Meskipun dalam kondisi berpuasa, beliau tetap aktif memberikan pengajian atau ngaji pasanan di pesantren. Beliau percaya bahwa mempelajari ilmu agama termasuk bagian dari menghidupkan malam Ramadhan yang sangat utama.
Mbah Moen sering menerima tamu dari berbagai lapisan masyarakat hingga larut malam. Beliau menyambut mereka dengan wajah berseri dan memberikan nasihat-nasihat spiritual yang menyejukkan. Beliau tidak pernah menunjukkan rasa lelah meski jadwal aktivitasnya sangat padat. Sikap ini menjadi bukti nyata bahwa energi spiritual mampu mengalahkan rasa lelah fisik.
Kesederhanaan dan Keikhlasan dalam Beramal
Keteladanan KH Maimun Zubair juga terpancar dari kesederhanaan hidupnya. Beliau tidak pernah menonjolkan amal ibadahnya di hadapan publik. Semua aktivitas malamnya berlangsung secara istiqamah tanpa mengharap pujian manusia. Beliau mengajarkan para santri untuk fokus pada kualitas hati daripada sekadar kuantitas gerakan fisik.
Mbah Moen sangat memperhatikan waktu-waktu mustajab, terutama menjelang waktu sahur. Beliau memperbanyak istighfar dan memohon ampunan untuk umat Islam di seluruh dunia. Beliau adalah sosok yang sangat mencintai umat dan selalu mendoakan keberkahan bagi bangsa Indonesia.
Mengambil Pelajaran dari Sang Guru Bangsa
Kita dapat memetik pelajaran berharga dari rutinitas malam Mbah Moen. Pertama, pentingnya konsistensi dalam beribadah meskipun fisik merasa lelah. Kedua, pentingnya menyeimbangkan antara hubungan dengan Tuhan (hablum minallah) dan hubungan dengan manusia (hablum minannas). Mbah Moen membuktikan bahwa malam Ramadhan adalah waktu terbaik untuk memanen pahala melalui kedua jalur tersebut.
Sebagai penutup, mari kita renungkan kembali pesan beliau tentang menjaga niat dalam beribadah:
“Niat iku dadi dhasare amal. Nek niate bener, insyaallah amale ditrimo dening Allah SWT.”
Keteladanan KH Maimun Zubair dalam menghidupkan malam Ramadhan seharusnya menjadi inspirasi bagi kita semua. Mari kita manfaatkan sisa waktu di bulan suci ini untuk meniru jejak spiritual beliau. Dengan semangat yang kuat, kita berharap bisa mendapatkan keberkahan malam Lailatul Qadar sebagaimana para ulama salaf terdahulu.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
