SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ramadan
Beranda » Berita » Menelusuri Jejak Islam di Kerajaan Ternate dan Tidore Saat Bulan Ramadhan

Menelusuri Jejak Islam di Kerajaan Ternate dan Tidore Saat Bulan Ramadhan

Kepulauan Maluku Utara memegang peranan penting dalam sejarah penyebaran Islam di Nusantara. Kesultanan Ternate dan Tidore merupakan pusat kekuatan politik dan spiritual di masa lalu. Jejak Islam di Ternate dan Tidore terlihat sangat nyata, terutama saat memasuki bulan suci Ramadhan. Tradisi leluhur berpadu harmonis dengan nilai-nilai religius yang masih terjaga hingga saat ini.

Sejarah Masuknya Islam di Bumi Al-Mulk

Islam masuk ke wilayah Maluku melalui jalur perdagangan rempah-rempah yang sangat masyhur. Para pedagang Arab dan Gujarat memperkenalkan ajaran tauhid kepada penduduk setempat sejak abad ke-13. Pada abad ke-15, Raja Ternate bernama Kolano Marhum resmi memeluk agama Islam. Langkah ini kemudian diikuti oleh Sultan Zainal Abidin yang memperkuat sendi-sendi syariat di istana.

Penerimaan Islam mengubah struktur sosial dan politik di Ternate maupun Tidore. Sultan bukan lagi sekadar pemimpin politik, tetapi juga pemimpin spiritual bagi rakyatnya. Pengaruh Islam ini semakin mengakar kuat dan mewarnai setiap aspek kehidupan masyarakat, termasuk tradisi Ramadhan.

Tradisi Ela-Ela: Menyambut Malam Lailatul Qadar

Salah satu jejak Islam yang paling menonjol di Ternate adalah tradisi Ela-ela. Masyarakat melaksanakan tradisi ini pada malam ke-27 bulan Ramadhan. Mereka percaya bahwa malam tersebut merupakan waktu turunnya Lailatul Qadar. Warga menyalakan obor di depan rumah dan di sepanjang jalan protokol.

Sultan Ternate biasanya memimpin langsung ritual ini dari Kedaton Kesultanan. Suasana kota berubah menjadi lautan cahaya obor yang sangat syahdu. Tradisi ini bukan sekadar seremoni cahaya, melainkan bentuk kegembiraan menyambut berkah dari langit. Masyarakat berkumpul di masjid untuk berzikir dan memanjatkan doa bersama.

Menelusuri Sejarah Pasar Kaget Ramadhan di Berbagai Kota Besar Indonesia

Keunikan Ibadah di Masjid Sultan (Sigi Lamo)

Masjid Sultan Ternate atau Sigi Lamo menjadi saksi bisu perkembangan Islam. Masjid ini memiliki aturan yang sangat unik dan ketat sejak zaman dahulu. Pengelola masjid melarang jamaah laki-laki menggunakan sarung saat shalat. Mereka wajib mengenakan celana panjang dan penutup kepala berupa kopiah atau sorban.

Aturan ini memiliki filosofi tentang kesiapan dan ketegasan dalam beribadah. Selain itu, posisi duduk jamaah di dalam masjid juga diatur berdasarkan strata sosial adat. Namun, dalam hal ibadah, semua tetap tunduk pada aturan syariat yang sama. Masjid ini menjadi pusat kegiatan keagamaan selama bulan Ramadhan, mulai dari tadarus hingga iktikaf.

Kutipan Sejarah dan Nilai Filosofis

Keunikan Islam di Maluku Utara terletak pada penyatuannya dengan adat setempat. Seorang tokoh adat pernah menyatakan:

“Adat berdasar syarak, syarak berdasar Kitabullah.”

Kutipan ini menegaskan bahwa seluruh hukum adat harus sejalan dengan ajaran Al-Qur’an. Prinsip tersebut menjaga stabilitas sosial di Ternate dan Tidore selama berabad-abad.

Tradisi Bakar Gunung Bengkulu: Kilau Cahaya Ronjok Sayak di Malam Lailatul Qadar

Spiritualitas di Kesultanan Tidore

Tidak jauh dari Ternate, Kesultanan Tidore juga memiliki jejak Islam yang sangat kuat. Sultan Tidore sering mengadakan buka puasa bersama rakyat di lingkungan keraton. Momen ini mempererat hubungan antara pemimpin dan masyarakat jelata. Mereka menyajikan kuliner khas Maluku seperti sagu dan olahan ikan segar.

Pendidikan Islam di Tidore berkembang pesat melalui pesantren-pesantren tradisional. Selama bulan Ramadhan, intensitas pengajian kitab kuning di masjid-masjid semakin meningkat. Generasi muda Tidore belajar sejarah perjuangan Sultan Nuku yang religius dan berani. Semangat jihad ini berakar pada keyakinan Islam yang mendalam untuk melawan penjajahan.

Menjaga Warisan Islam untuk Masa Depan

Ramadhan di Maluku Utara menawarkan pengalaman spiritual yang sangat berkesan bagi siapa saja. Perpaduan antara sejarah kerajaan besar dan ketaatan beragama menciptakan atmosfer yang unik. Wisatawan religi dapat mengunjungi benteng-benteng tua sambil menikmati suasana malam Ramadhan yang tenang.

Pemerintah daerah terus berupaya melestarikan jejak Islam di Ternate dan Tidore ini. Mereka menjadikan tradisi Ela-ela sebagai agenda pariwisata tahunan yang menarik minat internasional. Pelestarian ini sangat penting agar generasi mendatang tetap mengenal identitas religius mereka. Jejak Islam ini bukan sekadar kenangan sejarah, melainkan ruh yang menggerakkan kehidupan masyarakat Maluku.

Kesultanan Ternate dan Tidore membuktikan bahwa Islam dapat tumbuh subur dalam kerangka budaya lokal. Kerukunan antarwarga tetap terjaga berkat nilai-nilai toleransi yang diajarkan sejak zaman dahulu. Ramadhan menjadi momen refleksi bagi semua pihak untuk kembali ke fitrah kemanusiaan. Jejak Islam di bumi para raja ini akan terus abadi sepanjang masa.

Tokoh Bangsa yang Wafat di Bulan Ramadhan: Mengenang Jasa dan Keteladanan


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.