SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ramadan
Beranda » Berita » Malam Selikuran Keraton Solo: Tradisi Agung Menyambut Datangnya Lailatul Qadar

Malam Selikuran Keraton Solo: Tradisi Agung Menyambut Datangnya Lailatul Qadar

Masyarakat Jawa memiliki cara unik untuk menyambut malam-malam istimewa di bulan Ramadhan. Salah satu tradisi yang paling melegenda adalah Malam Selikuran yang digelar oleh Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Tradisi ini merupakan warisan budaya yang menggabungkan nilai-nilai spiritual Islam dengan kearifan lokal masyarakat Jawa.

Malam Selikuran berasal dari kata “selikur” yang berarti dua puluh satu dalam bahasa Jawa. Acara ini berlangsung setiap tanggal 20 Ramadhan malam untuk menyambut malam ke-21. Ribuan warga biasanya memadati area sekitar keraton untuk menyaksikan prosesi yang penuh makna filosofis ini.

Sejarah dan Asal-usul Malam Selikuran

Akar sejarah Malam Selikuran membentang jauh hingga masa Sultan Agung dari Kerajaan Mataram Islam. Sultan Agung menciptakan tradisi ini sebagai sarana dakwah untuk menyebarkan agama Islam. Beliau ingin masyarakat mencintai ajaran Islam melalui pendekatan budaya yang lembut dan menyentuh hati.

Pada masa lampau, Sunan Kalijaga juga menggunakan metode serupa untuk merangkul penduduk lokal. Beliau mengemas peringatan turunnya wahyu Tuhan dengan simbol-simbol yang mudah masyarakat pahami. Hingga saat ini, Keraton Surakarta terus melestarikan warisan tersebut sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan Tuhan.

Prosesi Kirab dan Cahaya Ting

Puncak acara Malam Selikuran adalah kirab atau arak-arakan yang sangat megah. Para prajurit keraton mengenakan seragam kebesaran mereka sambil membawa berbagai perlengkapan upacara. Salah satu elemen yang paling menonjol dalam kirab ini adalah keberadaan lampu minyak atau “ting”.

Menelusuri Sejarah Pasar Kaget Ramadhan di Berbagai Kota Besar Indonesia

Lampu ting melambangkan cahaya yang menerangi kegelapan, merujuk pada turunnya cahaya Lailatul Qadar. Para abdi dalem membawa lampu-lampu ini dari Keraton menuju Masjid Agung atau Taman Sriwedari. Cahaya yang temaram menciptakan suasana sakral sekaligus menenangkan bagi siapa saja yang melihatnya.

Seorang perwakilan keraton menyampaikan pentingnya menjaga tradisi ini di tengah zaman modern. Kanjeng Pangeran Eddy Wirabhumi pernah menyatakan dalam sebuah kesempatan:

“Tradisi Malam Selikuran bukan sekadar seremoni rutin, melainkan upaya keraton menjaga napas spiritualitas masyarakat melalui budaya.”

Makna Seribu Tumpeng

Dalam Malam Selikuran Keraton Solo, keberadaan nasi tumpeng menjadi daya tarik utama bagi warga. Keraton biasanya menyiapkan sekitar 1.000 tumpeng kecil yang tersusun rapi dalam kotak-kotak kayu atau wadah bambu. Angka seribu ini memiliki makna khusus yang merujuk pada kemuliaan malam Lailatul Qadar.

Al-Qur’an menyebutkan bahwa Lailatul Qadar adalah malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Melalui tumpeng sewu (seribu tumpeng), pihak keraton ingin mengingatkan umat tentang keutamaan beribadah pada sepuluh malam terakhir. Tumpeng tersebut berisi nasi putih, sayuran, dan lauk-pauk sederhana yang melambangkan kesederhanaan dan rasa syukur.

Tradisi Bakar Gunung Bengkulu: Kilau Cahaya Ronjok Sayak di Malam Lailatul Qadar

Setelah melewati prosesi doa bersama, abdi dalem akan membagikan tumpeng tersebut kepada masyarakat yang hadir. Warga percaya bahwa mendapatkan nasi tumpeng dari keraton dapat membawa keberkahan bagi kehidupan mereka.

Nilai Filosofi dan Keberlanjutan Budaya

Malam Selikuran membuktikan bahwa agama dan budaya dapat berjalan beriringan tanpa saling meniadakan. Tradisi ini memperkuat identitas Solo sebagai kota budaya yang religius. Melalui kirab dan doa, keraton mengajak warga untuk merefleksikan diri dan meningkatkan kualitas ibadah di akhir Ramadhan.

Partisipasi generasi muda dalam acara ini juga menunjukkan tren positif bagi pelestarian budaya. Anak-anak muda Solo kini mulai tertarik mempelajari makna di balik setiap langkah prajurit dan setiap nyala lampu ting. Dukungan pemerintah kota turut memperkuat eksistensi Malam Selikuran sebagai daya tarik wisata religi tingkat nasional.

Penutup

Malam Selikuran Keraton Solo tetap menjadi magnet spiritual bagi masyarakat luas. Tradisi ini bukan hanya tentang keramaian atau pembagian nasi gratis. Ia adalah simbol kerinduan manusia akan petunjuk Ilahi yang turun pada malam-malam ganjil di bulan suci.

Dengan melestarikan tradisi ini, kita menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Mari kita terus mendukung setiap upaya pelestarian budaya agar jati diri bangsa tetap kokoh di masa depan. Malam Selikuran akan selalu menjadi cahaya yang menuntun kita menuju kedamaian batin di akhir Ramadhan.

Tokoh Bangsa yang Wafat di Bulan Ramadhan: Mengenang Jasa dan Keteladanan


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.