SURAU.CO – Sahur bukan sekadar bangun di sepertiga malam terakhir untuk mengisi perut. Ia adalah panggilan lembut dari Sang Khaliq untuk hamba-hamba-Nya yang rindu meraih berkah. Dalam heningnya malam yang mulai beranjak pergi, ketika kebanyakan manusia terlelap dalam mimpi, mereka yang beriman justru terbangun menyambut seruan, “Kemarilah kalian menuju makan yang diberkahi.”
Makan yang Diberkahi
Frasa “makan yang diberkahi” ini bukan ungkapan biasa. Ia adalah sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Imam an-Nasa’i, dari al-Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah SAW mengajak makan sahur di bulan Ramadhan dengan bersabda, “هَلُمُّوا إِلَى الْغَدَاءِ الْمُبَارَكِ” — “Kemarilah kalian menuju makan yang diberkahi” . Subhanallah, Allah dan Rasul-Nya sendiri yang menyebut aktivitas ini sebagai hidangan penuh berkah.
Lalu, apa makna berkah itu? Ia bukan sekadar membuat kenyang perut hingga waktu Maghrib. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah, sang ulama besar yang tajam analisisnya terhadap hakikat ibadah, memberikan perspektif mendalam tentang keberkahan waktu sahur. Dalam kitabnya yang sarat hikmah, beliau mengajak kita merenung bahwa berkah itu turun ketika hamba berada dalam kondisi menghadap kepada Allah di waktu yang paling dicintai-Nya.
Momentum Agung Dengan-NYA
Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa waktu sahur adalah momentum agung yang dengannya. Allah membedakan antara hamba yang sungguh-sungguh dengan yang lalai. Beliau berkata tentang keutamaan bermunajat di waktu sahur:
“وَطُهُورُ الْقَلْبِ وَرَقَّتُهُ وَوَجْدُهُ وَحَلَاوَةُ الْإِيمَانِ إِنَّمَا يَكُونُ فِي الْخَلَوَاتِ، وَالْمُنَاجَاةِ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ، وَالِاسْتِغْفَارِ بِالْأَسْحَارِ”
Artinya: “Bersihnya hati, kelembutannya, getarannya, serta manisnya iman, hanyalah didapatkan pada saat-saat menyendiri, bermunajat di tengah malam, dan beristighfar di waktu-waktu sahur.” [sumber: berbagai karya Ibnul Qayyim tentang hakikat ibadah]
Perhatikanlah kalimat Ibnul Qayyim ini. Beliau tidak sedang berbicara tentang perut yang kenyang. Beliau sedang membimbing kita pada tujuan akhir dari ibadah: hati yang bersih (thuhur al-qalb), hati yang lembut (riqqatuhu), dan merasakan manisnya iman (halawah al-iman). Semua itu, kata beliau, hanya bisa diraih dengan kebiasaan bangun di sepertiga malam, dan kemudian salah satunya adalah momentum sahur yang sangat berharga.
Menanti Turunnya Rahmat
Karena itu, menanti sahur sejatinya adalah menanti turunnya rahmat. Di waktu inilah Allah SWT bertanya, “Siapa yang memohon ampun, maka Aku ampuni. Siapa yang meminta, maka Aku beri.” Sayang sekali jika momen emas ini hanya kita isi dengan acara memasak dan menyiapkan hidangan yang menyita waktu, atau bahkan begadang tanpa ibadah hingga waktu sahur tiba, lalu makan terburu-buru dan langsung tidur.
Rasulullah SAW dalam hadits lain juga menegaskan identitas umat Islam melalui sahur ini. Dari Amr bin Ash, Rasulullah SAW bersabda:
“فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحَرِ”
“Pembeda antara puasa kita dengan puasanya Ahli Kitab adalah makan sahur” (HR Muslim).
Ini adalah kemuliaan yang patut disyukuri. Umat-umat terdahulu berpuasa namun tanpa sahur. Allah mengkhususkan untuk umat Muhammad hidangan sahur sebagai pembeda, sekaligus rahmat agar mereka kuat beribadah.
Undangan Ilahi
Maka, marilah kita ubah perspektif tentang “menanti sahur”. Jangan pandang sebagai beban yang mengorbankan waktu tidur, tapi pandanglah sebagai undangan ilahi. Saat kita terbangun, bukan hanya nasi goreng atau lauk pauk yang kita cari, melain juga ampunan, rahmat, dan kedekatan dengan-Nya. Niatkan sahur sebagai bentuk ketaatan, kemudian isi waktu menantinya dengan shalat malam atau membaca Al-Qur’an, dan iringi dengan doa-doa penuh harap.
Semoga Allah jadikan sahur kita bukan akhir dari malam, tetapi awal dari hari yang penuh berkah.
Wallahu a’lam bish showwab.
Penulis adalah anggota Komisi Luar Negeri dan Kerjasama Internasional MUI. (Inayatulllah A. Hasyim)
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
