SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejarah
Beranda » Berita » Peletakan Batu Pertama Masjid Nasional: Sejarah di Balik Megahnya Istiqlal

Peletakan Batu Pertama Masjid Nasional: Sejarah di Balik Megahnya Istiqlal

Masjid Istiqlal berdiri tegak sebagai simbol kemerdekaan Indonesia di pusat kota Jakarta. Kemegahan rumah ibadah ini bukan sekadar tentang arsitektur beton yang kokoh. Di balik dindingnya yang luas, tersimpan narasi panjang mengenai perjuangan, identitas bangsa, dan semangat toleransi. Momen krusial dari pembangunan ini berawal pada peristiwa bersejarah peletakan batu pertama oleh Presiden Soekarno.

Mimpi Besar Sebuah Bangsa yang Baru Merdeka

Setelah memproklamasikan kemerdekaan pada tahun 1945, para tokoh bangsa mulai memikirkan simbol identitas nasional. KH Wahid Hasyim, Menteri Agama pertama, mencetuskan ide pembangunan masjid nasional. Beliau memandang bahwa sebuah negara dengan mayoritas Muslim terbesar membutuhkan masjid yang representatif. Tokoh-tokoh lain seperti Anwar Tjokroaminoto kemudian mendirikan Yayasan Masjid Istiqlal pada tahun 1954.

Pemilihan nama “Istiqlal” memiliki makna mendalam. Dalam bahasa Arab, Istiqlal berarti “Merdeka”. Nama ini menjadi pengingat abadi bahwa masjid ini merupakan wujud syukur atas lepasnya Indonesia dari belenggu penjajahan.

Sayembara dan Terpilihnya Friedrich Silaban

Pemerintah tidak sembarangan dalam menentukan rancangan masjid ini. Bung Karno menggelar sayembara arsitektur tingkat nasional pada tahun 1955. Sebanyak 22 arsitek mengirimkan desain terbaik mereka untuk memperebutkan posisi tersebut.

Kejutan muncul saat tim juri mengumumkan pemenang utama. Seorang arsitek bernama Friedrich Silaban memenangkan sayembara tersebut dengan karya berjudul “Ketuhanan”. Menariknya, Friedrich merupakan seorang penganut Kristen yang taat. Hal ini membuktikan bahwa sejak awal, Istiqlal mengandung nilai toleransi dan kebhinekaan yang sangat kuat.

Syekh Yusuf al-Makassari: Jejak Dakwah Lintas Benua dalam Spirit Ramadhan

Momen Bersejarah 24 Agustus 1961

Tepat pada 24 Agustus 1961, ribuan rakyat berkumpul untuk menyaksikan peristiwa besar. Presiden Soekarno secara resmi memimpin prosesi peletakan batu pertama Masjid Istiqlal. Momen ini menandai awal dari konstruksi fisik masjid terbesar di Asia Tenggara tersebut.

Dalam pidatonya, Bung Karno menegaskan visi besar di balik proyek ambisius ini. Beliau menyatakan:

“Saya namakan masjid ini Istiqlal, yang berarti Merdeka. Ini adalah monumen bagi kemerdekaan kita, sebuah tempat suci bagi umat Islam untuk memuji kebesaran Allah.”

Pemerintah sengaja memilih lokasi di bekas benteng Belanda, Wilhelmina Park. Keputusan ini memiliki pesan simbolis yang sangat tajam. Bangsa Indonesia menghancurkan simbol kolonialisme untuk membangun tempat ibadah yang suci dan agung.

Arsitektur yang Sarat Makna Filosofis

Friedrich Silaban merancang Istiqlal dengan gaya arsitektur modern yang fungsional. Beliau menghindari penggunaan ornamen yang berlebihan namun tetap menonjolkan kemewahan melalui skala bangunan. Setiap bagian bangunan memiliki simbolisme terkait identitas Indonesia dan Islam.

Kerajaan Gowa-Tallo: Saat Syahadat Bergema Pertama Kali di Bulan Ramadhan

Kubah utama masjid memiliki diameter 45 meter. Angka ini merujuk pada tahun kemerdekaan Republik Indonesia, yakni 1945. Selain itu, terdapat 12 tiang besar yang menopang kubah utama tersebut. Angka 12 melambangkan tanggal kelahiran Nabi Muhammad SAW, yaitu 12 Rabiul Awal.

Masjid ini juga memiliki tujuh gerbang masuk. Nama-nama gerbang tersebut mengambil dari Al-Asmaul Husna (nama-nama Allah yang baik). Angka tujuh tersebut sekaligus melambangkan tujuh lapis langit dalam kosmologi Islam.

Tantangan Pembangunan dan Peresmian

Proses pembangunan Masjid Istiqlal tidak berjalan mulus dan instan. Gejolak politik pada pertengahan tahun 1960-an sempat menghambat progres konstruksi. Krisis ekonomi dan peristiwa G30S/PKI memaksa pemerintah menghentikan sementara proyek besar ini.

Pembangunan baru berlanjut kembali dengan serius pada masa pemerintahan Presiden Soeharto. Setelah memakan waktu hingga 17 tahun, masjid ini akhirnya mencapai tahap penyelesaian. Presiden Soeharto meresmikan Masjid Istiqlal pada tanggal 22 Februari 1978.

Hingga saat ini, Istiqlal terus berdiri sebagai pusat kegiatan religi dan sosial. Letaknya yang berseberangan dengan Gereja Katedral Jakarta menjadi ikon harmoni antarumat beragama. Peletakan batu pertama oleh Bung Karno tetap menjadi tonggak sejarah yang mengingatkan kita pada akar kemerdekaan bangsa.

Sultan Agung: Sang Visioner di Balik Penyatuan Kalender Hijriah dan Jawa



Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.