Sejarah Nusantara mencatat Kerajaan Gowa-Tallo sebagai kekuatan maritim paling dominan di wilayah timur Indonesia. Namun, transformasi paling signifikan dalam garis waktu kerajaan ini bukanlah penaklukan wilayah. Transformasi terbesar terjadi ketika cahaya Islam menyentuh jantung istana pada abad ke-17. Momen sakral ini terjadi tepat saat bulan suci Ramadhan menyapa bumi Daeng Kerajaan Gowa-Tallo Masuk Islam.
Awal Mula Cahaya Islam di Tanah Makassar
Penyebaran Islam di Sulawesi Selatan tidak terjadi secara instan atau melalui paksaan militer. Kerajaan Gowa-Tallo Masuk Islam Dakwah masuk melalui pendekatan budaya dan intelektual yang sangat halus. Tiga ulama besar asal Minangkabau memainkan peran sentral dalam proses ini. Mereka adalah Dato’ ri Bandang, Dato’ ri Pattimang, dan Dato’ ri Tiro.
Ketiga ulama ini memahami struktur sosial masyarakat Makassar yang sangat menghargai martabat dan kehormatan. Mereka memulai dakwah dari kalangan bangsawan. Strategi ini terbukti sangat efektif karena rakyat cenderung mengikuti jejak pemimpin mereka. Puncaknya, pada malam Jumat yang penuh berkah di bulan Ramadhan tahun 1605, sejarah baru mulai tertulis.
Syahadat Sang Penguasa di Bulan Suci
Tepat pada tanggal 22 September 1605, dua penguasa kerajaan kembar ini memeluk Islam. Raja Tallo sekaligus Mangkubumi Gowa, I Malingkaang Daeng Nyonri Karaeng Katangka, menjadi tokoh pertama yang bersyahadat. Ia kemudian memilih nama Islam Sultan Abdullah Awwalul Islam.
Langkah ini segera diikuti oleh keponakannya, Raja Gowa ke-14, I Manga’rangi Daeng Manrabia. Sang Raja Gowa kemudian menyandang gelar Sultan Alauddin. Peristiwa ini menandai perubahan status Gowa-Tallo menjadi Kesultanan Islam. Gema syahadat ini bertepatan dengan suasana religius bulan Ramadhan, yang menambah kesakralan momentum tersebut.
Kejadian ini tidak hanya mengubah keyakinan pribadi sang raja. Peristiwa tersebut secara otomatis mengubah arah politik dan sosial seluruh kerajaan. “Rakyat mengikuti agama rajanya,” menjadi pepatah yang menggambarkan kecepatan konversi massal di wilayah tersebut.
Sumpah Setia dan Komitmen Dakwah
Setelah resmi memeluk Islam, kedua raja ini menunjukkan komitmen yang luar biasa besar. Mereka ingin memastikan bahwa Islam membawa kesejahteraan bagi rakyatnya. Dalam proses transformasi ini, terdapat kutipan terkenal yang mencerminkan hubungan erat antara Gowa dan Tallo:
“Iauri salapanga, nanuewai siri’nu.”
(Maksudnya: Siapa yang menemukan jalan kebenaran lebih dahulu, ia harus memberitahu yang lain).
Kutipan ini menunjukkan bahwa penerimaan Islam merupakan bagian dari janji persaudaraan yang suci. Sultan Alauddin dan Sultan Abdullah segera menetapkan Islam sebagai agama resmi negara. Mereka membangun Masjid Katangka sebagai pusat ibadah dan pendidikan Islam pertama di wilayah tersebut.
Dampak Besar Bagi Nusantara Timur
Masuknya Islam di Kerajaan Gowa-Tallo memicu efek domino di seluruh jazirah Sulawesi. Kerajaan-kerajaan lain di sekitarnya mulai membuka diri terhadap ajaran tauhid. Gowa-Tallo berubah menjadi pusat penyebaran Islam yang paling agresif di wilayah timur.
Kerajaan ini mengirimkan para ulama dan utusan ke berbagai penjuru, mulai dari Mandar, Bone, hingga wilayah Buton. Islam tidak hanya menjadi identitas agama, tetapi juga menjadi alat pemersatu melawan penjajahan bangsa Eropa. Nilai-nilai Islam menyatu dengan adat istiadat setempat melalui prinsip “Adat Naparekko Syara, Syara Naparekko Kitabullah”.
Menjaga Warisan Sejarah
Mengenang kembali momen syahadat di bulan Ramadhan ini sangat penting bagi generasi muda. Kita belajar bahwa Islam masuk ke Makassar dengan cara yang damai dan penuh martabat. Sultan Alauddin telah meletakkan pondasi moral yang kuat bagi masyarakat Sulawesi Selatan hingga saat ini.
Keberanian para raja untuk meninggalkan tradisi lama demi kebenaran patut menjadi teladan. Kini, warisan kejayaan Gowa-Tallo masih bisa kita saksikan melalui situs-situs bersejarah. Masjid dan makam para raja menjadi saksi bisu betapa kuatnya akar Islam di tanah ini.
Kesimpulannya, Kerajaan Gowa-Tallo adalah bukti bahwa Islam dapat bersinergi dengan kebudayaan lokal. Peristiwa di bulan Ramadhan 1605 tersebut akan selalu menjadi catatan emas dalam sejarah penyebaran Islam di Nusantara. Kita harus menjaga api semangat dakwah tersebut agar tetap menyala di hati setiap masyarakat Makassar.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
