SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Khazanah
Beranda » Berita » Kisah Hikmah Ilmu: Perjalanan Romadhon Hari Keempat Belas dan Hari Kelima Belas

Kisah Hikmah Ilmu: Perjalanan Romadhon Hari Keempat Belas dan Hari Kelima Belas

Kisah Hikmah Ilmu: Perjalanan Romadhon Hari Keempat Belas dan Hari Kelima Belas
Kisah Hikmah Ilmu: Perjalanan Romadhon Hari Keempat Belas dan Hari Kelima Belas

 

SURAU.CO – Hari Keempat Belas: Antara Lelah dan Cahaya. Hari keempat belas dalam bulan Ramadan adalah titik perenungan.
Separuh perjalanan hampir terlampaui.

Tubuh mulai terbiasa menahan lapar, namun jiwa diuji oleh rutinitas.
Ada yang berkata,

“Puasa itu kini terasa biasa saja.”

Di situlah hikmahnya.
Karena ketika ibadah terasa biasa, di situlah keikhlasan diuji.

Sampah Dan Ancaman Kesehatan: Saatnya Kita Peduli

Apakah kita berpuasa karena suasana?
Ataukah karena cinta kepada Alloh?

Hari keempat belas seperti cermin. Ia memantulkan niat awal kita di hari pertama.

Masihkah sama?
Ataukah sudah bercampur dengan keluhan dan kelelahan?.

Romadhon bukan sekadar menahan lapar, tetapi menata ulang sistem jiwa

Nafsu belajar tunduk
Lisan belajar diam
Hati belajar lembut

Jika hari-hari awal dipenuhi semangat, maka hari keempat belas dipenuhi ujian konsistensi.

Pangeran Diponegoro: Memulai Perlawanan Terbesar dari Meja Makan Sahur

Hari Kelima Belas: Pertengahan yang Menggetarkan

Hari kelima belas adalah pertengahan.

Bulan purnama sering menghiasi langit malam.

Cahaya tampak sempurna namun ia sedang bersiap untuk berkurang.
Begitu pula manusia.

Di pertengahan Romadhon, seseorang bisa merasa:
Bangga karena berhasil setengah perjalanan
Atau justru lengah karena merasa aman

22 Ramadhan 933 H: Fatahillah dan Momentum Penaklukan Jayakarta yang Legendaris

Padahal, pertengahan adalah momentum evaluasi.

Seperti firman Allah dalam Al-Qur’an tentang tujuan puasa: “La‘allakum tattaqun” — agar kamu bertakwa.

Pertanyaannya bukan:
Sudah berapa hari kita berpuasa?

Tetapi:

Sudahkah hati kita lebih bertakwa dibanding sebelum Romadhon?

Hari kelima belas mengajarkan keseimbangan:
Jangan terlalu puas dengan amal yang sedikit.

Jangan pula putus asa dengan kekurangan.

Hikmah Ilmu di Tengah Perjalanan
Dalam perjalanan Romadhon hari keempat belas dan kelima belas, ada tiga pelajaran:
Istiqomah lebih berat dari semangat awal.

Evaluasi diri lebih penting dari penilaian orang lain

Pertengahan adalah alarm, bukan garis akhir. Romadhon bukan perlombaan cepat, tetapi perjalanan mendalam.

Ia mendidik jiwa agar ketika Syawal tiba, kita bukan kembali seperti semula melainkan menjadi lebih sadar, lebih lembut, lebih tunduk.

Semoga di pertengahan ini, kita tidak hanya kuat menahan lapar, tetapi juga kuat menahan sombong, riya, dan kelalaian.

Karena Romadhon sejatinya bukan tentang hari keberapa kita berada, melainkan tentang sejauh mana hati kita kembali kepada-Nya.

 

 

 

 


Mengapa dalam kondisi tertentu manusia sering lupa, sombong, pamer, merasa pintar dan lainnya walau kadarnya berbeda

Di suatu sore selepas hujan, seorang murid bertanya kepada gurunya, “Guru, mengapa ketika susah kami mudah menangis dan merasa kecil, tetapi ketika senang kami mudah lupa, sombong, bahkan merasa paling pintar?”
Sang guru tersenyum.

“Karena qolbu manusia seperti cermin yang bisa berembun.”

  1. Lupa Karena Nikmat dan Lalai Karena Ujian
    Alloh mengingatkan dalam Al-Qur’an bahwa manusia memiliki tabiat lupa ketika merasa cukup. Dalam firman-Nya pada Surah Al-Qur’an (QS Al-‘Alaq: 6–7) dijelaskan bahwa manusia bisa melampaui batas ketika merasa dirinya cukup.

Ketika miskin, kita merasa butuh.

Ketika sakit, kita merasa lemah.

Namun ketika sehat dan berkecukupan, perlahan qolbu merasa “aku bisa sendiri”.

Padahal hakikatnya, semua itu titipan.

  1. Sombong dan Pamer: Penyakit qolbu yang Halus

Sombong tidak selalu berupa teriakan.Kadang ia hadir dalam diam:

Merasa lebih tahu.

Sulit menerima nasihat.
Ingin dipuji atas amalnya.

Penyakit ini pernah menimpa makhluk yang dahulu taat, yaitu Iblis.

Ia tidak mau sujud kepada Nabi Adam karena merasa lebih mulia. Dari sinilah kesombongan bermula: membandingkan diri dengan orang lain.

Qolbu Manusia Berbeda-beda

  1. Mengapa Kadarnya Berbeda?

Karena qolbu manusia tidak sama.

Ada qolbu yang lembut seperti tanah subur mudah menerima nasihat.

Ada qolbu yang keras seperti batu air hujan pun sulit meresap.
Perbedaan itu dipengaruhi oleh:

Lingkungan dan didikan.
Pengalaman hidup.

Kebiasaan berdzikir atau lalai.

Seberapa sering qolbu dikoreksi.

Qolbu yang jarang disucikan akan mudah tertutup oleh riya’, ujub, dan takabur.

  1. Hikmah di Balik Sifat Itu

Guru berkata,
“Justru sifat lupa dan sombong itu tanda bahwa manusia bukan Tuhan.”

Jika manusia tidak pernah lupa, ia akan merasa sempurna.

Jika manusia tidak pernah salah, ia akan merasa paling benar.

Maka Alloh berikan kelemahan agar manusia kembali rendah qolbu

  1. Obatnya Apa?

Mengingat asal penciptaan: dari tanah dan setetes air.

Mengingat kematian: semua akan kembali.

Membiasakan syukur saat lapang, sabar saat sempit.

Berkumpul dengan orang yang berani menasihati.

Karena qolbu itu seperti kaca harus sering dibersihkan.

Akhir hikmah

Sang murid menunduk.
“Jadi, sombong itu bukan karena kita hebat, tapi karena kita lupa?”

Guru menjawab,
“Benar. Ketika qolbu lupa siapa Pemberi nikmat, maka nafsu menjadi raja.”

Dan sejak hari itu, sang murid belajar bukan untuk merasa pintar, tetapi untuk merasa semakin kecil di hadapan-Nya. (Bambang JB)


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.