Tanggal 22 Juni merupakan hari yang sangat istimewa bagi warga Ibu Kota. Setiap tahun, masyarakat merayakan tanggal tersebut sebagai hari jadi Kota Jakarta. Namun, tahukah Anda bahwa penetapan tanggal tersebut merujuk pada peristiwa besar di masa lalu? Peristiwa itu adalah penaklukan Sunda Kelapa oleh Fatahillah pada 22 Ramadhan 933 H.
Perjuangan Fatahillah bukan sekadar perebutan wilayah kekuasaan semata. Peristiwa ini merupakan simbol perlawanan terhadap kolonialisme bangsa Barat di Nusantara. Fatahillah memimpin pasukan gabungan Kesultanan Demak dan Cirebon untuk mengusir armada Portugis.
Latar Belakang Konflik di Sunda Kelapa
Pada awal abad ke-16, pelabuhan Sunda Kelapa menjadi pusat perdagangan yang sangat strategis. Kerajaan Pajajaran saat itu menguasai wilayah tersebut. Karena merasa terancam oleh pengaruh Islam, Pajajaran menjalin kerja sama dengan bangsa Portugis.
Tepat pada tahun 1522, perwakilan Portugis bernama Henrique Leme datang menemui Raja Pajajaran. Mereka menandatangani perjanjian untuk membangun benteng pertahanan di Sunda Kelapa. Sebagai imbalannya, Portugis berjanji akan melindungi Pajajaran dari ancaman kekuatan luar.
Langkah ini tentu saja memicu reaksi keras dari kerajaan-kerajaan Islam di tanah Jawa. Sultan Trenggono dari Kesultanan Demak melihat kehadiran Portugis sebagai ancaman serius bagi kedaulatan Nusantara. Sultan kemudian memerintahkan Fatahillah untuk memimpin ekspedisi militer ke wilayah barat Jawa.
Fatahillah: Sang Panglima yang Visioner
Fatahillah atau dikenal juga sebagai Falatehan adalah sosok ulama sekaligus panglima perang yang cakap. Ia berasal dari Pasai dan memiliki kedekatan dengan Sunan Gunung Jati dari Cirebon. Fatahillah memiliki strategi perang yang sangat matang untuk menghadapi persenjataan modern milik bangsa Portugis.
Pasukan gabungan dari Demak dan Cirebon mulai bergerak menuju Sunda Kelapa. Fatahillah menggerakkan ribuan prajurit untuk mengepung pelabuhan utama tersebut. Ia ingin memastikan bahwa kekuatan asing tidak akan pernah bisa menginjakkan kaki secara permanen di sana.
Sejarah mencatat bahwa pertempuran hebat meletus di pesisir utara Jawa. Fatahillah menunjukkan keberanian luar biasa dalam memimpin serangan demi serangan. Pasukan Islam berhasil memukul mundur armada Portugis yang mencoba merapat ke pantai.
Kemenangan Gemilang di Bulan Suci
Puncak kejayaan pasukan Fatahillah terjadi tepat pada 22 Ramadhan 933 H. Tanggal hijriah ini bertepatan dengan tanggal 22 Juni 1527 dalam penanggalan masehi. Fatahillah akhirnya berhasil menguasai Sunda Kelapa sepenuhnya setelah mengusir sisa-sisa pasukan Portugis.
Sebagai bentuk rasa syukur atas kemenangan tersebut, Fatahillah mengubah nama Sunda Kelapa. Ia memilih nama baru yang memiliki makna religius dan politis yang kuat. Nama tersebut adalah “Jayakarta”.
Kutipan sejarah menyebutkan makna dari nama tersebut:
“Jayakarta berarti kemenangan yang gemilang atau kemenangan yang nyata.”
Nama Jayakarta terinspirasi dari Al-Qur’an Surat Al-Fath ayat 1, yakni Fathan Mubina. Hal ini menegaskan bahwa penaklukan tersebut adalah anugerah dari Yang Maha Kuasa bagi perjuangan umat.
Menjadi Cikal Bakal Kota Jakarta
Setelah kemenangan itu, Jayakarta tumbuh menjadi kota pelabuhan yang sangat ramai. Fatahillah mulai membangun pusat pemerintahan dan penyebaran agama Islam di wilayah tersebut. Jayakarta menjadi simbol kemerdekaan dan kedaulatan bangsa di bawah kepemimpinan ulama.
Pemerintah baru menetapkan tanggal 22 Juni sebagai hari jadi Jakarta pada tahun 1956. Sudiro, yang saat itu menjabat sebagai Wali Kota Jakarta, mengusulkan penetapan resmi tersebut. Sejarawan Mohammad Yamin dan Sukanto membantu melakukan riset mendalam untuk menentukan tanggal yang tepat.
Mereka menyimpulkan bahwa kemenangan Fatahillah pada 22 Ramadhan 933 H adalah titik tolak sejarah yang paling relevan. Sejak saat itu, setiap tahun warga Jakarta merayakan semangat perjuangan sang panglima besar.
Makna Peristiwa bagi Generasi Sekarang
Mempelajari sejarah penaklukan Jayakarta memberikan kita banyak pelajaran berharga. Kita belajar tentang pentingnya persatuan antara berbagai elemen bangsa untuk mencapai kemerdekaan. Fatahillah membuktikan bahwa kombinasi iman dan strategi perang mampu mengalahkan kekuatan kolonial.
Hingga saat ini, nama Fatahillah tetap abadi di hati masyarakat Jakarta. Namanya kini tersemat pada sebuah museum terkenal di kawasan Kota Tua Jakarta. Kawasan ini dulunya merupakan pusat pertempuran dan pemerintahan pada masa silam.
Kita harus terus menjaga warisan sejarah ini agar tidak lekang oleh waktu. Semangat 22 Ramadhan 933 H harus tetap menyala dalam sanubari setiap generasi muda. Jakarta bukan hanya sekadar kota metropolitan, tetapi juga kota perjuangan yang lahir dari kemenangan yang nyata.
Demikianlah ulasan sejarah mengenai peran besar Fatahillah dalam memerdekakan Jayakarta dari pengaruh asing. Semoga artikel ini menambah wawasan Anda mengenai asal-usul hari jadi Ibu Kota tercinta.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
