SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kisah
Beranda » Berita » Wafatnya Buya Hamka: Kepergian Sang Penyejuk Umat di Bulan Mulia

Wafatnya Buya Hamka: Kepergian Sang Penyejuk Umat di Bulan Mulia

Dunia Islam dan bangsa Indonesia mencatat sejarah kelam pada tanggal 24 Juli 1981. Hari itu, Indonesia kehilangan putra terbaiknya, Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah, atau yang akrab kita sapa Buya Hamka. Beliau menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta. Kabar duka ini segera menyebar ke seluruh pelosok negeri dan menyelimuti hati rakyat dengan kesedihan mendalam.

Wafatnya Buya Hamka terjadi pada hari Jumat, sebuah hari yang mulia bagi umat Muslim. Beliau pergi meninggalkan kita semua tepat pada bulan Ramadhan yang suci. Kepergiannya menciptakan lubang besar dalam dunia dakwah, sastra, dan politik tanah air. Ribuan pelayat memadati jalanan Jakarta untuk memberikan penghormatan terakhir kepada sosok yang mendapat julukan “Sang Penyejuk Umat” ini.

Sosok Multitalenta Kebanggaan Bangsa

Buya Hamka bukan sekadar ulama biasa yang memberikan ceramah di atas mimbar. Beliau merupakan seorang otodidak yang menguasai berbagai disiplin ilmu dengan sangat luar biasa. Hamka berprofesi sebagai sastrawan, sejarawan, jurnalis, hingga politisi yang memiliki integritas sangat tinggi. Karya-karya sastranya seperti Tenggelamnya Kapal Van der Wijck masih memikat pembaca hingga generasi saat ini.

Ketulusan hati Hamka terpancar dari cara beliau menghadapi lawan-lawan politiknya. Meskipun pernah merasakan dinginnya sel penjara pada masa Orde Lama, beliau tidak menyimpan dendam sedikit pun. Hamka justru menunjukkan kemuliaan akhlak dengan mengimami salat jenazah Presiden Soekarno, sosok yang memenjarakannya. Keteladanan inilah yang membuat sosok Hamka begitu dicintai oleh berbagai kalangan masyarakat Indonesia.

Warisan Abadi dari Balik Jeruji

Selama masa penahanan tanpa pengadilan, Hamka tidak membiarkan waktunya terbuang sia-sia. Beliau justru melahirkan karya monumental yang kini menjadi rujukan umat Islam di seluruh dunia, yaitu Tafsir Al-Azhar. Hamka menyelesaikan tafsir 30 juz tersebut dengan bahasa yang mudah dimengerti namun sarat akan kedalaman makna spiritual.

Sampah Dan Ancaman Kesehatan: Saatnya Kita Peduli

Beliau pernah memberikan nasihat yang sangat menyentuh hati mengenai semangat hidup dan perjuangan manusia. Kutipan aslinya adalah sebagai berikut:

“Tugas kita bukanlah untuk berhasil. Tugas kita adalah untuk mencoba, karena di dalam mencoba itulah kita menemukan dan belajar membangun kesempatan untuk berhasil.”

Kata-kata ini mencerminkan filosofi hidup Hamka yang selalu mengutamakan ikhtiar dan ketulusan dalam setiap langkahnya. Beliau percaya bahwa proses perjuangan jauh lebih berharga daripada sekadar hasil akhir yang terlihat oleh mata manusia.

Detik-Detik Terakhir Sang Ulama

Kesehatan Buya Hamka mulai menurun drastis setelah beliau mengundurkan diri dari jabatan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI). Keputusan mundur tersebut beliau ambil demi menjaga prinsip dan harga diri sebagai seorang ulama. Hamka menolak mencabut fatwa haram merayakan Natal bersama bagi umat Islam, meskipun mendapat tekanan dari pemerintah.

Hingga saat-saat terakhirnya, Hamka tetap menunjukkan ketenangan yang luar biasa. Keluarga dan kerabat dekat menyaksikan betapa damai wajah sang ulama saat malaikat maut menjemputnya. Rakyat Indonesia melepas kepergiannya dengan iringan doa yang tiada putus-putusnya dari berbagai masjid dan musala.

Pangeran Diponegoro: Memulai Perlawanan Terbesar dari Meja Makan Sahur

Meneladani Jejak Sang Penyejuk Umat

Wafatnya Buya Hamka memang meninggalkan duka, namun warisan pemikirannya akan terus hidup melintasi zaman. Beliau mengajarkan kita tentang pentingnya menjaga lisan dan hati dari penyakit kebencian. Hamka membuktikan bahwa ilmu pengetahuan harus berjalan beriringan dengan adab dan kerendahan hati yang tulus.

Generasi muda saat ini perlu mempelajari kembali sejarah hidup dan karya-karya beliau. Hamka memberikan teladan bahwa menulis adalah cara terbaik untuk mengabadikan pemikiran dan menebar manfaat secara luas. Melalui tulisan, semangat dakwah Buya Hamka tetap menyala meskipun raga beliau telah lama beristirahat di liang lahat.

Kita semua merindukan sosok peneduh seperti Buya Hamka di tengah hiruk-pikuk perbedaan saat ini. Beliau adalah kompas moral yang selalu mengingatkan bangsa ini untuk tetap bersatu dalam bingkai iman dan kemanusiaan. Semoga Allah SWT memberikan tempat terbaik bagi beliau di sisi-Nya, dan semoga lahir Hamka-Hamka baru yang menerangi jalan umat manusia.


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.