Sejarah kemerdekaan Indonesia menyimpan banyak kisah heroik yang menyentuh kalbu. Salah satu fragmen paling ikonik adalah momen Fatmawati Soekarno menjahit Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih. Namun, banyak orang belum mengetahui bahwa proses kreatif tersebut melibatkan kedalaman spiritual yang luar biasa. Ibu Fatmawati tidak sekadar menggerakkan mesin jahit, tetapi beliau menenun harapan bangsa melalui laku doa dan puasa.
Persiapan Batin Sang Ibu Negara
Pada Oktober 1944, aroma kemerdekaan mulai tercium meski Jepang masih mencengkeram bumi pertiwi. Saat itu, Fatmawati menerima kain berkualitas tinggi dari seorang perwira Jepang bernama Hitoshi Shimizu. Kain tersebut merupakan bahan katun primissima berwarna merah dan putih. Tanpa membuang waktu, Fatmawati segera mempersiapkan diri untuk tugas suci ini.
Beliau menyadari bahwa bendera ini akan menjadi identitas pertama bagi bangsa yang baru lahir. Oleh karena itu, Fatmawati memilih untuk tidak mengerjakannya secara sembarangan. Beliau memutuskan untuk berpuasa dan terus memanjatkan doa kepada Allah SWT selama proses menjahit berlangsung. Beliau menginginkan setiap jengkal benang yang menyatukan warna merah dan putih terikat dengan keberkahan Ilahi.
Perjuangan Fisik di Tengah Kondisi Hamil
Kisah ini semakin mengharukan karena Fatmawati menjahit dalam kondisi fisik yang lemah. Saat itu, beliau sedang mengandung putra pertamanya, Guntur Soekarnoputra. Usia kandungannya sudah mencapai bulan-bulan tua, sehingga beliau sering merasakan sakit punggung yang hebat.
Fatmawati tidak menggunakan mesin jahit listrik yang modern. Beliau menggunakan mesin jahit tangan (engkol) merek Singer yang harus diputar secara manual. Sesekali, beliau harus berhenti sejenak untuk mengusap air mata yang jatuh karena rasa haru dan doa yang mendalam.
Dalam sebuah catatan sejarah, Fatmawati pernah mengenang momen tersebut dengan kalimat yang sangat menyentuh:
“Berulang kali saya menumpahkan air mata di atas bendera yang sedang saya jahit itu,” kenang Fatmawati dalam buku Catatan Kecil Bersama Bung Karno.
Ia melanjutkan,
“Sedang cita-cita saya sendiri pada waktu itu, agar kelak kemudian hari bendera yang saya jahit itu dapat dikibarkan di hadapan rakyat di halaman rumah kami sendiri dan di seluruh tanah air.”
Makna Spiritual Merah Putih
Bagi Fatmawati, warna merah berarti keberanian dan putih berarti kesucian bukan sekadar kiasan. Melalui puasa, beliau menyucikan niat agar Indonesia menjadi bangsa yang bermartabat. Doa-doa yang beliau rapalkan sepanjang malam bertujuan memohon perlindungan bagi suaminya, Bung Karno, dan seluruh rakyat Indonesia yang sedang berjuang.
Proses menjahit ini memakan waktu selama dua hari. Ukuran bendera tersebut cukup besar, yakni 274 x 196 cm. Mengingat kondisi fisiknya yang hamil tua, ketekunan Fatmawati merupakan bukti nyata cinta kasih seorang ibu kepada negaranya. Beliau menjahit dengan posisi duduk di lantai karena ukuran kain yang lebar tidak muat di atas meja kecilnya.
Detik-Detik Pengibaran yang Bersejarah
Keyakinan dan doa Fatmawati akhirnya terjawab pada tanggal 17 Agustus 1945. Di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta, Bendera Pusaka hasil jahitan tangan beliau naik menuju angkasa. Suasana hening seketika pecah oleh tangis haru rakyat saat melihat Merah Putih berkibar untuk pertama kalinya sebagai simbol negara yang berdaulat.
Hingga hari ini, Bendera Pusaka tersebut masih tersimpan dengan baik di Monumen Nasional (Monas). Meskipun kini statusnya sebagai cagar budaya yang tidak lagi dikibarkan, semangat di balik jahitannya tetap hidup. Fatmawati telah mengajarkan kita bahwa kemerdekaan memerlukan lebih dari sekadar strategi politik atau kekuatan militer. Kemerdekaan memerlukan ketulusan hati, pengorbanan fisik, dan pondasi spiritual yang kuat.
Warisan Ketulusan untuk Generasi Muda
Kisah Fatmawati menjahit Bendera Pusaka memberikan pelajaran berharga bagi generasi masa kini. Beliau membuktikan bahwa peran perempuan sangat krusial dalam sejarah besar sebuah bangsa. Kelembutan tangan seorang ibu mampu menyatukan simbol kedaulatan yang akan terus kita jaga selamanya.
Melalui doa dan puasa, Fatmawati menitipkan pesan bahwa setiap usaha besar harus kita awali dengan niat yang suci. Kemerdekaan Indonesia bukan hanya hasil diplomasi atau perang, melainkan juga hasil dari tetesan air mata doa seorang perempuan hebat di sudut rumahnya. Mari kita jaga Merah Putih dengan semangat yang sama seperti saat Fatmawati merajutnya dengan penuh cinta.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
