Haji Agus Salim merupakan sosok fenomenal dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dunia mengenal pria kelahiran Koto Gadang ini sebagai diplomat ulung yang menguasai sembilan bahasa asing. Kecerdasannya yang luar biasa membuat tokoh-tokoh besar seperti Soekarno dan Mohammad Hatta menjulukinya sebagai “The Grand Old Man”. Namun, di balik kecemerlangan intelektualnya, Agus Salim adalah seorang hamba yang sangat taat dalam menjalankan ibadah.
Sosok Diplomat yang Hidup dalam Kesederhanaan
Agus Salim membuktikan bahwa martabat seorang diplomat tidak terletak pada kemewahan materi. Ia menjalani hidup dengan prinsip yang sangat teguh, yakni “Leiden is Lijden”. Kutipan legendaris ini memiliki arti: “Memimpin adalah menderita”. Prinsip ini benar-benar ia terapkan dalam kehidupan sehari-hari bersama keluarganya.
Meskipun menjabat sebagai menteri, Agus Salim sering berpindah-pindah rumah kontrakan di gang-gang sempit Jakarta. Bahkan, ia pernah tinggal di rumah yang bocor dan berada di lingkungan becek. Kesederhanaan ini tidak pernah melunturkan wibawanya saat berhadapan dengan diplomat asing. Ia tetap tampil percaya diri dengan pakaian yang sederhana namun rapi, serta janggut putihnya yang khas.
Keteguhan Menjalankan Shalat Tarawih
Salah satu sisi religiusitas Haji Agus Salim yang paling mengagumkan adalah disiplin ibadahnya. Di tengah kesibukan mengurus urusan negara dan jadwal diplomasi yang padat, ia tidak pernah meninggalkan shalat tarawih. Bagi Agus Salim, urusan duniawi tidak boleh mengalahkan kewajiban dan pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Banyak saksi sejarah menceritakan bagaimana Agus Salim tetap menyempatkan diri beribadah di mana pun ia berada. Saat bulan Ramadhan tiba, ia selalu mengutamakan shalat tarawih, baik saat berada di luar negeri maupun di tanah air. Konsistensi ini menunjukkan bahwa ia adalah seorang praktisi Islam yang kaffah. Ia menyeimbangkan hubungan dengan manusia (hablum minannas) dan hubungan dengan Allah (hablum minallah) secara sempurna.
Diplomasi “Kretek” dan Pengakuan Internasional
Kejeniusan Agus Salim dalam diplomasi terlihat jelas saat ia memimpin misi diplomatik ke negara-negara Arab pada tahun 1947. Berkat kepiawaiannya, Mesir menjadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia secara de jure. Ini merupakan pencapaian krusial bagi kedaulatan Republik Indonesia yang baru berdiri.
Ada cerita menarik saat ia menghadiri penobatan Ratu Elizabeth II di London pada tahun 1953. Saat itu, Agus Salim mencium aroma cerutu yang sangat kuat di dalam ruangan. Ia kemudian menyalakan rokok kreteknya sendiri untuk menarik perhatian Pangeran Philip. Ketika Pangeran bertanya tentang aroma rokoknya, Agus Salim dengan cerdas menjawab:
“Ini adalah rokok kretek dari negeri saya, yang baunya mungkin aneh bagi Anda. Tetapi justru karena aroma inilah bangsa Anda datang menjajah negeri kami.”
Jawaban berani tersebut menunjukkan kelasnya sebagai diplomat yang berkarakter dan memiliki rasa nasionalisme tinggi.
Teladan Bagi Generasi Muda
Haji Agus Salim adalah contoh nyata bahwa kecerdasan intelektual harus berjalan beriringan dengan kekuatan spiritual. Ia mengajarkan kita bahwa kekuasaan bukan sarana untuk memperkaya diri sendiri. Melalui gaya hidupnya, ia memberikan standar moral yang sangat tinggi bagi seluruh pejabat publik di Indonesia.
Ia tidak pernah menukar prinsip demi kenyamanan pribadi. Baginya, perjuangan bangsa membutuhkan pengorbanan yang nyata, termasuk hidup prihatin di tengah keterbatasan. Sosoknya mengingatkan kita bahwa integritas adalah mata uang yang paling berharga dalam dunia diplomasi internasional.
Kesimpulan
Kisah Haji Agus Salim memberikan inspirasi mendalam tentang arti pengabdian yang tulus. Sebagai diplomat, ia berhasil membawa nama Indonesia harum di kancah internasional. Sebagai Muslim, ia tetap teguh menjalankan shalat tarawih meski dalam kondisi tersulit sekalipun.
Kita perlu menghidupkan kembali nilai-nilai luhur yang telah Agus Salim contohkan. Kesederhanaan, kecerdasan, dan ketaatan ibadahnya harus menjadi kompas bagi generasi pemimpin masa depan. Mari kita teladani semangat “The Grand Old Man” ini untuk membangun Indonesia yang lebih bermartabat.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
