KH Ahmad Dahlan merupakan sosok pembaharu Islam yang sangat gigih. Beliau mendirikan Muhammadiyah untuk memurnikan ajaran agama di Indonesia. Salah satu kontribusi besarnya berkaitan dengan pemaknaan bulan suci melalui konsep Tajdid Ramadhan. Beliau ingin umat Islam tidak hanya terjebak pada rutinitas tahunan yang bersifat simbolis.
Dahulu, masyarakat memahami Ramadhan sebatas menahan haus dan lapar. KH Ahmad Dahlan melihat fenomena ini sebagai sebuah stagnasi pemikiran. Beliau kemudian membawa semangat tajdid atau pembaruan ke dalam ibadah puasa. Mari kita bedah bagaimana Sang Pencerah mengubah cara pandang umat.
Meluruskan Arah Kiblat dan Waktu Beribadah
Langkah awal tajdid beliau bermula dari hal yang sangat mendasar. KH Ahmad Dahlan memperbaiki arah kiblat dan ketepatan waktu ibadah. Pada masa itu, penentuan awal Ramadhan dan Idul Fitri seringkali tidak memiliki standar ilmiah. Beliau memperkenalkan penggunaan ilmu hisab atau astronomi dalam menentukan kalender hijriah.
Langkah ini sempat memicu kontroversi di kalangan ulama tradisional. Namun, beliau tetap teguh pada pendiriannya. Beliau ingin ibadah umat Islam memiliki landasan ilmu pengetahuan yang kuat. Baginya, akal dan wahyu harus berjalan beriringan dalam menjalankan syariat.
Menggeser Fokus dari Ritual ke Sosial
KH Ahmad Dahlan sangat menekankan bahwa puasa harus membuahkan aksi nyata. Beliau sering mengulang-ulang pengajaran Surah Al-Ma’un kepada para santrinya. Beliau bahkan bertanya kepada muridnya, “Sudahkah kalian mengamalkannya?”
Pesan ini mengandung makna yang sangat dalam bagi ibadah Ramadhan. Beliau tidak ingin umat hanya sibuk menghitung pahala pribadi. Beliau mendorong mereka untuk turun ke jalan dan membantu kaum duafa. Ramadhan menjadi momentum untuk membersihkan jiwa sekaligus memperbaiki struktur sosial masyarakat.
Kutipan terkenal beliau yang selalu relevan adalah:
“Kasih sayang dan pertolongan itu bukan hanya dengan kata-kata, tetapi harus dengan amal perbuatan yang nyata.”
Melalui pesan ini, beliau mengubah cara pandang umat tentang kesalehan. Saleh bukan hanya rajin shalat malam, tetapi juga peduli pada nasib anak yatim.
Pendidikan sebagai Inti Tajdid Ramadhan
Selama bulan Ramadhan, KH Ahmad Dahlan mengintensifkan kegiatan pengajian. tidak menggunakan cara lama yang hanya sekadar membaca kitab tanpa pemahaman. Beliau mendorong dialog interaktif dan kritis antara guru dan murid.
Beliau ingin umat Islam memiliki kecerdasan intelektual yang mumpuni. Menurut beliau, kebodohan adalah akar dari kemiskinan dan penjajahan. Oleh karena itu, Ramadhan harus menjadi bulan “madrasah” bagi peningkatan kualitas berpikir umat. Tajdid yang beliau usung menyentuh ranah kognitif sekaligus afektif.
Menghapus Tradisi yang Tidak Memiliki Dasar
KH Ahmad Dahlan juga berupaya membersihkan Ramadhan dari unsur TBC (Tahayul, Bid’ah, dan Khurafat). Beliau melihat banyak tradisi lokal yang bercampur baur dengan ajaran Islam. Beberapa tradisi tersebut justru menjauhkan umat dari esensi ketauhidan yang murni.
Beliau mengajak masyarakat kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah secara murni. Namun, beliau melakukannya dengan cara yang santun dan bijaksana. Beliau menghindari konfrontasi kasar yang dapat melukai hati masyarakat. Cara ini terbukti efektif dalam menyebarkan semangat pembaruan di tanah Jawa.
Relevansi Pemikiran Dahlan di Era Modern
Hingga saat ini, warisan pemikiran KH Ahmad Dahlan masih sangat terasa. Muhammadiyah terus melanjutkan semangat tajdid tersebut dalam berbagai bidang. Ramadhan kini identik dengan gerakan zakat, infak, dan sedekah yang terorganisir secara profesional.
Umat Islam mulai menyadari bahwa puasa memiliki dimensi kesehatan dan sosial. Kita tidak lagi sekadar meniru tradisi nenek moyang tanpa paham tujuannya. Inilah keberhasilan tajdid yang beliau rintis lebih dari satu abad yang lalu.
Beliau pernah berpesan kepada para pengikutnya:
“Janganlah kamu merasa puas dengan amal yang telah kamu kerjakan, tetapi berusahalah terus untuk berbuat baik.”
Kutipan ini menjadi pemacu bagi kita semua untuk terus melakukan perbaikan. Tajdid Ramadhan bukan hanya tugas KH Ahmad Dahlan di masa lalu. Ini adalah tugas kolektif kita untuk terus menghidupkan makna puasa yang transformatif.
Kesimpulan
KH Ahmad Dahlan telah memberikan teladan luar biasa dalam memahami Ramadhan. Beliau membawa Islam yang berkemajuan dan penuh solusi bagi masalah umat. Melalui ilmu hisab, semangat Al-Ma’un, dan pemurnian akidah, beliau sukses melakukan tajdid.
Kini, tugas kita adalah merawat semangat tersebut. Jangan biarkan Ramadhan berlalu hanya sebagai ritual tanpa makna sosial. Mari kita jadikan bulan suci ini sebagai ajang untuk meningkatkan kualitas diri dan kepedulian sesama. Dengan begitu, kita telah ikut serta dalam meneruskan perjuangan Sang Pencerah.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
