Dunia mengenal Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau Buya Hamka sebagai ulama karismatik. Beliau bukan sekadar pendakwah, melainkan juga sastrawan dan pemikir besar dari tanah Minangkabau. Salah satu warisan terbesarnya bagi umat Islam adalah kitab Tafsir Al-Azhar. Namun, Sejarah Penulisan Tafsir Al-Azhar Buya Hamka mencatat bahwa mahakarya ini lahir dari sebuah kepedihan di balik jeruji besi.
Penjara Sebagai Hadiah dari Allah
Pada Januari 1964, Sejarah Penulisan Tafsir Al-Azhar Buya Hamka peta politik Indonesia sedang memanas. Rezim Orde Lama melakukan tindakan represif terhadap tokoh-tokoh yang dianggap berseberangan. Pemerintah menuduh Buya Hamka terlibat dalam upaya pembunuhan Presiden Soekarno dan pemberontakan terhadap negara. Tuduhan tersebut bersifat politis tanpa bukti hukum yang kuat. Polisi kemudian menjebloskan Hamka ke dalam tahanan tanpa melalui proses peradilan yang adil.
Hamka harus menjalani masa tahanan selama dua tahun empat bulan. Beliau berpindah-pindah dari satu tempat penahanan ke tempat lainnya. Namun, Hamka tidak menyimpan dendam terhadap para penguasa yang menzaliminya. Beliau justru melihat masa penjara sebagai “Universitas Terbuka” yang Allah hadiahkan secara khusus kepadanya. Di dalam sel yang sempit, Hamka menemukan kedamaian spiritual yang luar biasa.
Ramadhan dan Ketajaman Pena di Balik Jeruji
Momen Ramadhan di dalam penjara menjadi titik balik yang sangat mengharukan bagi Buya Hamka. Saat orang lain merasa terpenjara, Hamka justru merasa bebas dalam pikirannya. Beliau memanfaatkan waktu luang yang melimpah untuk menelaah ayat-ayat suci Al-Qur’an secara mendalam. Kesunyian malam-malam Ramadhan di penjara menjadi sarana meditasi yang sangat produktif.
Hamka mulai menulis naskah Tafsir Al-Azhar dengan tekun setiap harinya. Beliau menggunakan setiap lembar kertas yang tersedia untuk menuangkan pemikiran-pemikirannya. Beliau tidak membiarkan rasa sedih atau rindu keluarga menghambat produktivitasnya. Fokus utamanya hanyalah menyelesaikan penjelasan makna Al-Qur’an agar bermanfaat bagi umat di masa depan.
Dalam salah satu catatannya, Hamka memberikan sebuah pernyataan yang sangat menyentuh mengenai masa tahanannya:
“Saya bersyukur kepada Allah karena Dia telah memberi saya kesempatan untuk menulis tafsir ini di dalam penjara. Jika saya berada di luar, mungkin kesibukan akan menghalangi saya.”
Kutipan tersebut menunjukkan betapa besarnya kerelaan hati Hamka menerima takdir. Beliau tidak melihat penjara sebagai tempat kehinaan. Sebaliknya, penjara menjadi tempat suci bagi lahirnya ilmu pengetahuan yang sangat luas.
Karakteristik Tafsir Al-Azhar
Hamka menulis Tafsir Al-Azhar dengan gaya bahasa yang sangat khas. Beliau menggunakan pendekatan sastra yang indah namun tetap mudah dimengerti oleh masyarakat awam. Penulisan tafsir ini juga kental dengan nuansa budaya Nusantara. Hamka sering kali mengaitkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan realitas sosial yang terjadi di Indonesia dan dunia Melayu.
Hamka menginginkan agar Al-Qur’an menjadi panduan hidup yang praktis. Beliau tidak hanya membahas aspek tata bahasa Arab secara teoretis. Beliau lebih fokus pada bagaimana pesan-pesan Tuhan mampu mengubah mentalitas bangsa. Kerja keras di dalam penjara tersebut menghasilkan ribuan halaman yang kini menjadi referensi utama di seluruh dunia Islam.
Pembebasan dan Penyelesaian Karya
Setelah rezim berganti pada tahun 1966, Buya Hamka akhirnya mendapatkan kembali kebebasannya. Beliau keluar dari penjara dengan membawa tumpukan naskah yang sangat berharga. Meskipun sebagian besar draf telah selesai di penjara, Hamka tetap menyempurnakannya di luar. Beliau merapikan setiap bab hingga akhirnya karya tersebut terbit secara utuh dalam 30 juz.
Keberhasilan Hamka menyelesaikan tafsir ini membuktikan bahwa kreativitas tidak mengenal batas ruang. Meskipun raga beliau terkurung oleh tembok penjara, jiwa dan pikirannya tetap terbang tinggi. Beliau menunjukkan bahwa iman yang kokoh mampu mengubah musibah menjadi berkah bagi jutaan manusia.
Pelajaran dari Sang Ulama
Kisah Buya Hamka memberikan kita pelajaran berharga tentang keteguhan prinsip. Beliau mengajarkan bahwa seorang Muslim tidak boleh menyerah pada keadaan sesulit apa pun. Ramadhan di dalam penjara bukanlah penghalang untuk beribadah dan berkarya. Justru, kesulitan tersebut merupakan proses penyucian jiwa untuk menghasilkan sesuatu yang lebih besar.
Hingga saat ini, Tafsir Al-Azhar tetap menjadi kebanggaan bangsa Indonesia. Karya ini menjadi bukti sejarah bahwa kebenaran tidak akan pernah bisa dibungkam oleh jeruji besi. Buya Hamka telah berpulang, namun suara beliau tetap bergema melalui setiap baris kalimat dalam tafsirnya. Kita patut meneladani semangat beliau dalam mencintai ilmu dan menjaga integritas meski di bawah tekanan kekuasaan.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
