Umat Islam Indonesia selalu mengenang tanggal 7 Ramadhan sebagai momen yang penuh kesedihan. Pada tanggal tersebut di tahun 1366 Hijriah, bangsa ini kehilangan putra terbaiknya. Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU), mengembuskan napas terakhirnya. Kepergian sang ulama besar meninggalkan lubang besar dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.
KH Hasyim Asy’ari bukan sekadar pemimpin pesantren Tebuireng. Beliau merupakan pilar moral dan penggerak perlawanan terhadap penjajahan. Wafatnya beliau terjadi di tengah berkecamuknya Agresi Militer Belanda I. Suasana duka pun menyelimuti langit nusantara saat itu.
Kronologi Detik-Detik Terakhir Hadratussyaikh
Peristiwa memilukan ini bermula pada malam hari tanggal 21 Juli 1947. Saat itu, Belanda baru saja memulai serangan besar-besaran ke berbagai wilayah di Jawa. KH Hasyim Asy’ari menerima laporan mengenai situasi perang dari para santri dan utusan militer.
Kabar mengenai jatuhnya Malang ke tangan Belanda sangat memukul perasaan beliau. Kondisi fisik beliau yang sudah sepuh tidak mampu menahan beban emosi yang mendalam. Kabar duka tentang gugurnya banyak rakyat dalam pertempuran tersebut membuat kesehatan beliau menurun drastis.
Kiai Hasyim sempat jatuh pingsan setelah mendengar berita tersebut. Keluarga segera memanggil dokter, namun takdir berkata lain. Tepat pada pukul 03.00 dini hari, 25 Juli 1947 atau 7 Ramadhan 1366 H, beliau wafat. Beliau meninggal akibat pendarahan otak di kediamannya, Pesantren Tebuireng, Jombang.
Jihad Melawan Penjajah Hingga Akhir Hayat
KH Hasyim Asy’ari memiliki peran vital dalam mempertahankan kemerdekaan. Salah satu warisan terbesarnya adalah fatwa Resolusi Jihad. Fatwa ini mewajibkan setiap muslim untuk melawan penjajah yang ingin kembali menguasai Indonesia.
Beliau pernah menegaskan semangat perlawanan dengan kalimat yang sangat membekas:
“Tidak akan ada kedamaian selama penjajah masih menginjakkan kaki di tanah air kita.”
Pernyataan tersebut membakar semangat para pejuang dan kaum santri. Perlawanan rakyat di Surabaya pada 10 November 1945 merupakan bukti nyata pengaruh fatwa beliau. KH Hasyim Asy’ari meyakini bahwa membela tanah air adalah bagian dari iman.
Kehilangan Besar Bagi Dunia Islam dan Indonesia
Kabar wafatnya KH Hasyim Asy’ari menyebar dengan cepat ke seluruh pelosok negeri. Ribuan orang datang melayat ke Tebuireng meskipun situasi sedang genting karena perang. Tokoh nasional hingga rakyat jelata memberikan penghormatan terakhir kepada sang “Singa Jombang”.
Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta merasa sangat kehilangan. Bagi mereka, Kiai Hasyim adalah guru spiritual sekaligus rekan seperjuangan yang teguh. Beliau selalu memberikan nasihat bijak di masa-masa sulit revolusi fisik.
Pengabdian beliau tidak hanya terbatas pada bidang agama. Kiai Hasyim aktif dalam menyatukan berbagai elemen bangsa melalui organisasi Masyumi. Beliau menjadi simbol persatuan antara kaum nasionalis dan religius.
Warisan Pemikiran dan Keteladanan
Hingga saat ini, pemikiran KH Hasyim Asy’ari tetap relevan bagi masyarakat. Beliau mengajarkan pentingnya moderasi beragama atau wasathiyah. Beliau selalu menekankan agar umat Islam menjaga persaudaraan atau ukhuwah.
Karya-karya tulis beliau, seperti Adabul ‘Alim wal Muta’allim, menjadi rujukan utama di pesantren. Buku tersebut membahas etika guru dan murid dalam menuntut ilmu. Beliau menginginkan generasi muda yang cerdas secara intelektual dan luhur secara budi pekerti.
Pemerintah Indonesia memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada beliau pada tahun 1964. Gelar ini merupakan bentuk pengakuan atas jasa besar beliau terhadap negara. Namun bagi rakyat, beliau lebih dari sekadar pahlawan. Beliau adalah orang tua yang mengayomi seluruh umat.
Meneladani Semangat 7 Ramadhan
Mengenang wafatnya KH Hasyim Asy’ari setiap 7 Ramadhan harus menjadi momentum refleksi. Kita perlu menghidupkan kembali semangat jihad dalam konteks modern. Jihad saat ini bukan lagi mengangkat senjata, melainkan melawan kemiskinan dan kebodohan.
Duka mendalam di tahun 1366 H itu harus menjadi pengingat bagi generasi sekarang. Kita harus menjaga kemerdekaan yang telah beliau perjuangkan dengan nyawa. Mari kita kirimkan doa terbaik untuk Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. Semoga semangat beliau terus mengalir dalam setiap langkah bangsa Indonesia.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
