Sejarah
Beranda » Berita » Penaklukan Nubia: Mengenal Perjanjian Baqt yang Membawa Kedamaian Abadi di Afrika

Penaklukan Nubia: Mengenal Perjanjian Baqt yang Membawa Kedamaian Abadi di Afrika

Sejarah mencatat banyak konflik besar yang berakhir dengan kehancuran total salah satu pihak. Namun, hubungan antara Kekhalifahan Islam dan Kerajaan Makuria di Nubia menyajikan narasi yang berbeda. Alih-alih tunduk total, kedua kekuatan ini justru menyepakati sebuah traktat unik bernama Perjanjian Baqt. Kesepakatan diplomatik ini menjadi salah satu perjanjian perdamaian paling lama dalam sejarah peradaban manusia.

Awal Mula Konflik di Tanah Nubia

Ekspansi Islam menyebar dengan sangat cepat ke wilayah Afrika Utara pada abad ke-7 Masehi. Setelah menguasai Mesir, pasukan Muslim di bawah komando Amr bin al-Aas mengalihkan pandangan mereka ke selatan. Wilayah Nubia, yang kini kita kenal sebagai Sudan, menjadi target berikutnya. Nubia saat itu merupakan benteng pertahanan Kristen yang kuat dengan tradisi militer yang tangguh.

Pasukan Arab melakukan serangan pertama ke wilayah Nubia pada tahun 642 Masehi. Namun, mereka menghadapi perlawanan yang sangat sengit dari para pemanah Nubia. Sejarah menjuluki mereka sebagai “Pemanah Pupil” karena kemampuan akurasi mereka yang luar biasa dalam membidik mata musuh. Kegagalan ini memaksa pasukan Muslim mundur sejenak sebelum mencoba serangan kedua pada tahun 652 Masehi.

Pertempuran Dongola dan Titik Balik Diplomasi

Pada serangan kedua, panglima Abdullah bin Sa’ad memimpin pasukan besar menuju ibu kota Makuria, Dongola. Meskipun pasukan Arab berhasil mengepung kota, mereka tetap tidak bisa mematahkan semangat tempur prajurit Nubia. Menyadari bahwa penaklukan militer akan memakan biaya yang sangat mahal, kedua pihak akhirnya memilih jalan diplomasi.

Raja Qalidurut dari Makuria dan Abdullah bin Sa’ad kemudian merumuskan sebuah kesepakatan. Perjanjian inilah yang kemudian dikenal dengan nama Perjanjian Baqt. Istilah “Baqt” sendiri kemungkinan besar berasal dari kata Latin pactum yang berarti pakta atau perjanjian.

Melintasi Zaman: Sejarah Panjang Tradisi Berbagi Takjil di Masjid Nabawi

Isi dan Ketentuan Perjanjian Baqt

Perjanjian Baqt menetapkan aturan main yang sangat spesifik untuk menjaga stabilitas di perbatasan. Beberapa poin utama dalam perjanjian tersebut meliputi:

  1. Gencatan Senjata: Kedua pihak sepakat untuk tidak saling menyerang atau melakukan agresi militer selama masa berlaku perjanjian.

  2. Pertukaran Komoditas: Pihak Nubia wajib mengirimkan 360 budak setiap tahunnya kepada penguasa Mesir.

  3. Imbal Balik dari Mesir: Sebagai gantinya, pihak Muslim mengirimkan pasokan biji-bijian, tekstil, dan kuda ke Nubia.

  4. Kebebasan Beragama: Penduduk masing-masing wilayah diizinkan untuk melintasi perbatasan untuk urusan perdagangan, asalkan mereka mematuhi hukum setempat.

    Jejak Kejayaan Islam: Sejarah Masjid Kordoba dan Tradisi I’tikaf Para Ilmuwan Muslim

  5. Pembangunan Masjid: Pihak Nubia setuju untuk merawat sebuah masjid di Dongola bagi para pelancong Muslim.

Kutipan sejarah mencatat betapa pentingnya keseimbangan ini: “Perjanjian ini tidak menjadikan Nubia sebagai wilayah taklukan, melainkan mitra dagang yang membayar upeti demi keamanan bersama.”

Rahasia Umur Panjang Perjanjian Baqt

Hal yang paling menakjubkan dari Perjanjian Baqt adalah durasinya. Kesepakatan ini bertahan selama lebih dari 600 tahun, melintasi berbagai pergantian dinasti di Mesir, mulai dari Umayyah, Abbasiyah, hingga Fatimiyah. Jarang sekali ada pakta diplomatik di dunia kuno yang mampu bertahan selama enam abad tanpa perubahan drastis.

Keseimbangan kekuatan menjadi alasan utama keberhasilan ini. Pasukan Muslim mengakui kehebatan militer Nubia, sementara Kerajaan Makuria menyadari keuntungan ekonomi dari perdagangan dengan Mesir. Keduanya saling membutuhkan untuk menjaga stabilitas ekonomi di sepanjang aliran Sungai Nil.

Dampak Budaya dan Agama di Afrika

Meskipun Perjanjian Baqt menjaga perdamaian, kesepakatan ini juga membuka jalan bagi pengaruh Islam di Afrika Timur secara perlahan. Interaksi perdagangan yang intensif memungkinkan para pedagang dan ulama Muslim menetap di wilayah Nubia. Proses ini tidak terjadi melalui pedang, melainkan melalui asimilasi budaya dan hubungan ekonomi yang harmonis.

Menelusuri Jejak Ekspansi Islam ke Asia Tengah: Dakwah Damai di Bulan Ramadhan

Pada akhirnya, perubahan politik internal di Nubia dan bangkitnya Dinasti Mamluk di Mesir mulai merongrong kekuatan Baqt. Namun, warisannya tetap hidup sebagai bukti bahwa diplomasi mampu meredam ambisi penaklukan demi kemakmuran bersama.

Kesimpulan

Sejarah Perjanjian Baqt mengajarkan kita bahwa perdamaian seringkali lahir dari rasa saling menghormati atas kekuatan lawan. Nubia berhasil mempertahankan kemerdekaannya selama berabad-abad melalui kecerdikan diplomatik. Hingga saat ini, pakta tersebut tetap menjadi studi kasus menarik mengenai hubungan lintas agama dan budaya di benua Afrika. Perjanjian Baqt membuktikan bahwa dialog selalu lebih unggul daripada peperangan yang berkepanjangan.


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.