Ramadan
Beranda » Berita » Jejak Kejayaan Islam: Sejarah Masjid Kordoba dan Tradisi I’tikaf Para Ilmuwan Muslim

Jejak Kejayaan Islam: Sejarah Masjid Kordoba dan Tradisi I’tikaf Para Ilmuwan Muslim

Masjid Agung Kordoba atau Mezquita berdiri sebagai saksi bisu puncak peradaban Islam di tanah Eropa, khususnya wilayah Al-Andalus. Bangunan ini bukan sekadar tempat ibadah, melainkan simbol kecerdasan arsitektur dan pusat intelektual dunia pada masanya. Sejarah mencatat bahwa masjid ini menjadi rumah bagi ribuan ilmuwan yang menggabungkan aktivitas spiritual dengan pencarian ilmu pengetahuan yang mendalam.

Awal Mula Pendirian: Visi Abd al-Rahman I

Sejarah mencatat bahwa Amir Abd al-Rahman I meletakkan batu pertama pembangunan masjid ini pada tahun 784 Masehi. Beliau merupakan keturunan Dinasti Umayyah yang berhasil membangun otoritas baru di Semenanjung Iberia. Awalnya, umat Muslim berbagi lahan dengan komunitas Kristen di Gereja Santo Visensius untuk melaksanakan ibadah secara bergantian.

Seiring bertambahnya populasi Muslim, Abd al-Rahman I memutuskan untuk membeli sisa lahan gereja tersebut secara adil. Beliau mengalokasikan dana besar untuk membangun masjid yang mampu menyaingi keindahan masjid-masjid di Damaskus dan Baghdad. Pembangunan fase pertama ini mencerminkan kerinduan sang Amir terhadap tanah kelahirannya di Suriah, yang terlihat dari gaya arsitektur lengkungan tapal kuda yang ikonik.

Perluasan dan Kemegahan Arsitektur

Para penguasa Kordoba selanjutnya terus memperluas bangunan ini selama dua abad berikutnya. Abd al-Rahman II, Al-Hakam II, hingga Al-Mansur menambahkan ruang-ruang baru yang semakin megah. Salah satu bagian paling memukau adalah area Mihrab yang dibangun oleh Al-Hakam II dengan hiasan mosaik emas kiriman dari Kaisar Bizantium.

Masjid ini memiliki “hutan tiang” yang terdiri dari sekitar 856 kolom marmer, jasper, dan granit. Lengkungan ganda berwarna merah dan putih memberikan kesan luas dan estetika yang tak tertandingi pada zamannya. Cahaya matahari yang masuk melalui celah-celah jendela menciptakan suasana khusyuk bagi siapa pun yang berada di dalamnya.

Penaklukan Nubia: Mengenal Perjanjian Baqt yang Membawa Kedamaian Abadi di Afrika

Tradisi I’tikaf dan Ekosistem Intelektual

Hal yang paling menarik dari sejarah Masjid Kordoba adalah peranannya sebagai universitas terbuka. Masjid ini menjadi jantung bagi perkembangan ilmu sains, filsafat, kedokteran, dan astronomi. Di sinilah tradisi I’tikaf mendapatkan dimensi baru yang lebih produktif dan intelektual.

Para ilmuwan Muslim tidak hanya menghabiskan waktu I’tikaf untuk berzikir dan salat semata. Mereka memanfaatkan kesunyian malam di dalam masjid untuk merenungkan fenomena alam dan menulis karya-karya besar. Masjid Kordoba menyediakan perpustakaan raksasa yang menyimpan ratusan ribu manuskrip penting dari berbagai penjuru dunia.

Seorang sejarawan menggambarkan suasana intelektual di sana:

“Masjid Kordoba bukan sekadar tempat bersujud, melainkan laboratorium pikiran tempat para ulama dan ilmuwan berdiskusi hingga fajar menyingsing.”

Dalam kondisi I’tikaf, para ilmuwan seperti Ibnu Rusyd (Averroes) atau Al-Zahrawi mungkin saja menemukan inspirasi bagi teori-teori mereka. Mereka memandang bahwa mencari ilmu merupakan bagian integral dari ibadah kepada Allah SWT. Oleh karena itu, suasana masjid yang tenang menjadi tempat paling ideal untuk melakukan kontemplasi ilmiah sekaligus spiritual.

Menelusuri Jejak Ekspansi Islam ke Asia Tengah: Dakwah Damai di Bulan Ramadhan

Peran Masjid sebagai Mercusuar Pengetahuan

Kordoba pada masa keemasannya merupakan kota paling maju di Eropa. Saat wilayah lain masih berada dalam kegelapan (Dark Ages), Masjid Kordoba telah menerangi dunia dengan ilmu pengetahuan. Mahasiswa dari berbagai latar belakang agama datang dari seluruh penjuru Eropa untuk belajar di lingkungan masjid ini.

Sistem pendidikan di Masjid Kordoba sangat terorganisir dengan lingkaran-lingkaran kecil yang disebut halqah. Guru besar duduk bersandar pada salah satu tiang marmer, sementara murid-murid duduk melingkar menyimak penjelasan sang guru. Interaksi ini menciptakan atmosfer akademik yang sangat dinamis dan inklusif.

Tradisi I’tikaf para ilmuwan ini membuktikan bahwa Islam tidak memisahkan antara urusan dunia dan akhirat. Mereka percaya bahwa memahami hukum alam adalah jalan untuk mengenal Sang Pencipta. Semangat inilah yang membawa Islam mencapai puncak kejayaan di tanah Spanyol selama berabad-abad.

Penutup: Warisan yang Tetap Hidup

Meskipun fungsi utama Masjid Kordoba kini telah berubah, kemegahannya tetap mempesona jutaan orang hingga hari ini. Dunia mengenalnya sebagai mahakarya arsitektur yang melampaui zaman. Namun, bagi umat Islam, Masjid Kordoba adalah pengingat tentang betapa pentingnya menyatukan kesalehan ritual dengan semangat literasi.

Sejarah Masjid Kordoba mengajarkan kita bahwa tempat ibadah terbaik adalah tempat yang mampu mencerdaskan umatnya. Tradisi I’tikaf para ilmuwan di masa lalu seharusnya menjadi inspirasi bagi generasi modern untuk kembali mencintai ilmu pengetahuan. Warisan intelektual Al-Andalus akan selalu menjadi bagian penting dalam sejarah peradaban manusia secara global.

Keteguhan Iman: Kisah Para Penjelajah Muslim Berpuasa di Tengah Ganasnya Samudra


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.