Ramadan
Beranda » Berita » Gema Sejarah Meriam Ramadhan: Tradisi Ikonik Penanda Iftar dari Era Mamluk

Gema Sejarah Meriam Ramadhan: Tradisi Ikonik Penanda Iftar dari Era Mamluk

DAFTAR ISI

Suara dentuman keras yang memecah kesunyian senja menjadi momen paling dinanti oleh umat Muslim di berbagai belahan dunia. Fenomena ini bukan merupakan tanda peperangan, melainkan sebuah tradisi agung bernama “Midfa Al Iftar” atau Meriam Ramadhan. Meskipun teknologi jam digital dan aplikasi ponsel telah mendominasi, pesona dentuman meriam tetap memiliki tempat spesial di hati masyarakat.

Awal Mula Ketidaksengajaan yang Menjadi Tradisi

Banyak sejarawan meyakini bahwa sejarah meriam Ramadhan bermula dari kota Kairo, Mesir, pada masa Kesultanan Mamluk. Cerita paling populer merujuk pada tahun 865 Hijriah atau sekitar tahun 1461 Masehi. Saat itu, Sultan Khushqadam menerima sebuah meriam baru sebagai hadiah dari seorang pengusaha Jerman.

Sultan kemudian ingin menguji kemanjuran senjata tersebut tepat saat matahari terbenam. Secara kebetulan, uji coba itu bertepatan dengan waktu Maghrib di bulan suci Ramadhan. Penduduk Kairo yang mendengar dentuman keras tersebut mengira bahwa Sultan sengaja memberikan tanda resmi untuk berbuka puasa.

Masyarakat sangat menyukai inovasi ini dan berbondong-bondong mendatangi istana untuk memberikan pujian. Melihat antusiasme rakyatnya, putri Sultan yang bernama Fatimah mendesak sang ayah agar menjadikan penembakan meriam sebagai agenda rutin setiap hari selama Ramadhan. Sejak saat itu, meriam tersebut mendapatkan julukan “Meriam Fatimah” untuk menghormati sang putri.

Versi Muhammad Ali Pasha: Perkembangan di Abad ke-19

Selain kisah era Mamluk, terdapat versi sejarah lain yang menyebutkan peran Muhammad Ali Pasha pada awal abad ke-19. Konon, penguasa Mesir tersebut sedang menguji meriam buatan Jerman di atas bukit Citadel Kairo. Dentuman meriam tersebut terdengar luas hingga ke pemukiman penduduk tepat pada saat berbuka puasa.

Lentera Fanoos: Menelusuri Asal Usul Simbol Penerang Malam Ramadan di Mesir

Rakyat kembali menganggap hal ini sebagai instruksi resmi pemerintah. Karena respon positif masyarakat yang begitu masif, Muhammad Ali Pasha akhirnya mengeluarkan perintah resmi. Ia memerintahkan penembakan meriam dua kali sehari, yakni saat waktu berbuka (Iftar) dan waktu imsak (Sahur).

Penyebaran Tradisi ke Seluruh Dunia Islam

Keunikan tradisi meriam ini segera menyebar dari Mesir ke berbagai wilayah kekuasaan Islam lainnya. Negara-negara di kawasan Syam (Suriah, Lebanon, Yordania), kemudian ke Arab Saudi, hingga mencapai Asia Tenggara mengadopsi cara serupa.

Di Arab Saudi, tradisi ini tetap terjaga dengan sangat baik, terutama di kota suci Mekkah dan Madinah. Masyarakat menganggap suara meriam sebagai simbol kebersamaan dan kegembiraan spiritual. Bahkan di era modern, otoritas keamanan di Dubai, Uni Emirat Arab, masih mengoperasikan meriam di beberapa titik lokasi strategis sebagai daya tarik wisata religi.

Seorang tokoh sejarah pernah berkomentar mengenai fenomena ini dalam catatan klasiknya:

“Meriam Ramadhan bukan sekadar alat pelontar proyektil, ia adalah instrumen budaya yang menyatukan detak jantung umat dalam satu waktu yang sama.”

Jejak Megah Pembangunan Universitas Al-Azhar Kairo yang Diresmikan pada Bulan Ramadhan

Nilai Filosofis di Balik Dentuman Meriam

Mengapa tradisi ini tetap bertahan selama berabad-abad? Jawabannya terletak pada nilai nostalgia dan simbolisme yang mendalam. Suara meriam memberikan kesan monumental yang tidak bisa digantikan oleh suara azan melalui pengeras suara biasa atau notifikasi ponsel.

Tradisi ini mengingatkan umat Muslim akan kejayaan peradaban Islam di masa lalu. Selain itu, meriam Ramadhan berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan generasi muda dengan akar sejarah mereka. Penembakan meriam seringkali menjadi acara keluarga di mana orang tua membawa anak-anak mereka untuk menyaksikan prosesi tersebut secara langsung.

Modernisasi dan Pelestarian di Masa Kini

Meskipun banyak negara mulai menggunakan rekaman suara meriam melalui televisi atau radio, beberapa kota besar tetap mempertahankan unit meriam asli. Petugas kepolisian atau militer biasanya mendapatkan tugas khusus untuk merawat dan mengoperasikan meriam ini. Mereka menggunakan peluru hampa (blank cartridge) untuk memastikan keamanan tanpa mengurangi kekuatan dentumannya.

Di Indonesia, beberapa daerah seperti di Aceh atau pesisir Melayu pernah mengenal tradisi serupa menggunakan meriam bambu atau karbit. Walaupun berbeda secara material, esensi kegembiraannya tetap serupa dengan sejarah meriam Ramadhan di Kairo.

Kesimpulannya, meriam Ramadhan merupakan bukti nyata bagaimana sebuah ketidaksengajaan sejarah dapat bertransformasi menjadi identitas budaya yang kuat. Selama bulan suci Ramadhan masih menyapa dunia, gema dentuman meriam akan terus menjadi melodi indah yang menandai syukur atas nikmat berbuka puasa. Dengan menjaga tradisi ini, kita turut melestarikan warisan peradaban yang kaya akan makna dan sejarah.

Kisah Kepahlawanan Salahuddin Al-Ayyubi: Strategi Matang Mempersiapkan Pasukan Jelang Ramadhan


Eksplorasi konten lain dari Surau.co

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.