Bulan Ramadhan selalu menjadi saksi bisu berbagai peristiwa besar yang mengubah peta sejarah dunia Islam. Salah satu momentum paling heroik adalah proses masuknya penduduk Yaman ke dalam dekapan Islam. Peristiwa ini bukan sekadar penaklukan militer dengan pedang, melainkan penaklukan hati melalui kekuatan dakwah yang sangat luar biasa.
Misi Awal Khalid bin Walid di Yaman
Sejarah mencatat bahwa Rasulullah SAW sangat memperhatikan wilayah Yaman karena posisi geografis dan sosiologisnya yang strategis. Pada awalnya, Nabi Muhammad SAW mengutus Khalid bin Walid untuk memimpin misi dakwah ke wilayah tersebut. Khalid, sang “Pedang Allah yang Terhunus,” menetap di Yaman selama enam bulan untuk mengajak penduduk setempat memeluk Islam.
Namun, selama periode tersebut, penduduk Yaman, khususnya suku Hamdan, belum menunjukkan ketertarikan untuk berpindah keyakinan. Mereka tetap teguh pada tradisi lama mereka meskipun Khalid telah berusaha maksimal. Kondisi ini menuntut strategi baru yang lebih menyentuh aspek spiritual dan intelektual masyarakat Yaman yang dikenal cerdas.
Ali bin Abi Thalib Membawa Angin Perubahan
Melihat perkembangan di Yaman, Rasulullah SAW memutuskan untuk menarik Khalid bin Walid dan menggantinya dengan Ali bin Abi Thalib. Nabi SAW memanggil Ali dan memberikan instruksi khusus untuk menjalankan misi suci ini. Peristiwa ini terjadi pada tahun ke-10 Hijriah, tepat saat umat Muslim sedang menjalani ibadah di bulan suci Ramadhan.
Ali bin Abi Thalib berangkat dengan membawa surat resmi dari Rasulullah SAW. Sesampainya di sana, Ali tidak langsung menggunakan kekuatan militer. Ia mengumpulkan penduduk Yaman dan membacakan surat dari Baginda Nabi SAW dengan suara yang berwibawa namun penuh kelembutan.
Kutipan sejarah mencatat momen tersebut: “Ali bin Abi Thalib membacakan surat Rasulullah SAW kepada penduduk Yaman, lalu mereka pun mendengarkannya dengan seksama.”
Keajaiban Satu Hari di Bulan Ramadhan
Mukjizat dakwah terjadi dengan sangat cepat setelah Ali bin Abi Thalib memimpin misi tersebut. Hanya dalam waktu satu hari, seluruh anggota suku Hamdan menyatakan diri masuk Islam. Keikhlasan Ali dan kewibawaan pesan Rasulullah SAW meruntuhkan tembok keras hati penduduk Yaman.
Keberhasilan ini memicu efek domino yang sangat masif. Setelah suku Hamdan bersyahadat, suku-suku lain di seantero Yaman mengikuti jejak mereka. Mereka berbondong-bondong mendatangi Ali untuk menyatakan kesetiaan kepada Allah dan Rasul-Nya. Fenomena ini menjadi perwujudan nyata dari firman Allah dalam Surah An-Nasr mengenai manusia yang masuk agama Allah secara berbondong-bondong.
Reaksi Rasulullah SAW Terhadap Berita Gembira
Ketika berita mengenai masuknya penduduk Yaman sampai ke telinga Rasulullah SAW di Madinah, beliau merasa sangat bahagia. Ali bin Abi Thalib mengirimkan surat laporan yang merinci keberhasilan dakwah tersebut. Mendengar kabar tersebut, Rasulullah SAW langsung melakukan sujud syukur sebagai bentuk terima kasih kepada Allah SWT.
Beliau kemudian mendoakan penduduk Yaman dengan kalimat yang sangat indah. Beliau bersabda: “Assalamu ‘ala Hamdan, Assalamu ‘ala Hamdan” (Kesejahteraan bagi suku Hamdan, kesejahteraan bagi suku Hamdan).
Mengapa Penaklukan Yaman Begitu Penting?
Penaklukan Yaman di bulan Ramadhan memiliki signifikansi yang sangat besar bagi perkembangan Islam. Yaman menyumbangkan banyak ulama, pejuang, dan pemikir yang memperkuat fondasi peradaban Islam di masa depan. Penduduk Yaman dikenal memiliki hati yang lembut dan keimanan yang sangat kuat, sebagaimana pujian Nabi bahwa “Iman itu ada pada penduduk Yaman.”
Peristiwa ini mengajarkan kita bahwa bulan Ramadhan adalah waktu yang penuh keberkahan untuk melakukan perubahan besar. Kekuatan kata-kata dan ketulusan hati seringkali lebih tajam daripada mata pedang dalam menyebarkan kebenaran. Ali bin Abi Thalib membuktikan bahwa pendekatan persuasif mampu menyatukan umat di bawah panji tauhid dalam waktu yang sangat singkat.
Kini, sejarah penaklukan Yaman tetap menjadi inspirasi bagi setiap Muslim. Kita belajar bahwa keberhasilan dakwah memerlukan kesabaran, strategi yang tepat, dan momentum spiritual yang kuat seperti bulan Ramadhan. Semoga semangat penduduk Yaman dalam menyambut Islam senantiasa menginspirasi kita untuk terus memperbaiki diri di bulan yang mulia ini.
Eksplorasi konten lain dari Surau.co
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
